Tampilkan postingan dengan label Surat-surat Natal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat-surat Natal. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Desember 2025

Surat Natal 2025

  

SURAT NATAL 2025

(sapaan)

Seperti yang telah terjadi selama ini, menjelang Hari Raya Natal saya kembali menulis sepucuk surat sederhana. Niat saya tetap sama: mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang masih mengaruniakan hidup, napas dan kesempatan bagi kita untuk bersama-sama berdoa di depan Palungan Yesus, Sang Imanuel yang hadir menyertai perjalanan kita.

Pada kesempatan penuh rahmat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus atas kebersamaan kita selama ini. Kebersamaan yang tidak hanya membuat hidup lebih berarti, tetapi juga saling menyalakan inspirasi, keteguhan dan kekuatan dalam ziarah kehidupan yang tak selalu mudah. Dalam suka dan duka, kita saling menopang; dalam terang dan gelap, kita saling menuntun.

Saya juga menyampaikan terima kasih mendalam atas dukungan bagi karya Sahabat Insan, baik berupa doa, perhatian, maupun sumbangan. Semua dukungan ini memungkinkan kantor kecil kita terus berjalan, tetap memperhatikan korban migrasi paksa dan perdagangan manusia. Buah perhatian dan kemurahan hati Anda sekalian telah menjadi tanda nyata kasih Allah bagi mereka yang paling rentan.

Di tengah sukacita Natal, marilah kita bersama memohon kepada Tuhan hati yang selalu siap sedia untuk diutus: hati yang peka melihat Yesus yang hidup dalam diri mereka yang terluka, tersingkirkan dan membutuhkan. Semoga kita terus mendengar suara-Nya yang lembut namun tegas: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40)

Kita juga mohon keteguhan iman, agar Dia Tuhan dan Penyelamat kita yang selalu setia, tetap menuntun perjalanan hidup kita di tahun yang baru. Semoga Kristus membimbing langkah-langkah kita, menerangi keputusan-keputusan kita dan menghibur hati kita dalam setiap pergulatan.

Bersama ini saya sampaikan bahan renungan yang berjudul Mengasihi Maria, Kumpulan Doa-doa dan Latihan Rohani. Semoga ini dapat menjadi sebuah tanda kecil bahwa kita semua tidak berjalan sendirian, tetapi bersama Bunda Maria yang setia sejak memangku Bayi Yesus di Betlehem sampai memangku tubuh yang sama, tiga puluh tiga tahun kemudian di bawah salib. Semoga kita siap menerima rahmat kesetiaan juga.

Dengan penuh syukur dan harapan, saya mengucapkan:
Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Semoga damai Kristus, yang lahir dalam kesederhanaan Palungan, tinggal di hati kita dan memancarkan berkat bagi dunia.

 

Jakarta, Pertengahan Desember 2025

Ignatius Ismartono, SJ





Jumat, 20 Desember 2024

Surat Natal 2024

Salam dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus,

Pertama-tama, saya ucapkan Selamat Hari Raya Natal 25 Desember 2024. Semoga Berkat Allah yang Maha Kuasa melalui Tuhan Yesus selalu melimpah bagi kita semua.

Pada Hari Raya peringatan kelahiran-Nya ini, dengan penuh rasa syukur, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati dan dukungan bagi Sahabat Insan, khususnya dalam mendampingi dan membantu para korban perdagangan manusia dan korban migrasi paksa. Bantuan yang telah kami terima, baik dalam bentuk dana, waktu, maupun doa, telah menjadi sumber kekuatan yang sangat berarti bagi kami untuk memberi perhatian kepada mereka.

Kami menyadari bahwa penyampaian kemurahan hati ini bukan semata-mata demi balasan dari Tuhan, melainkan karena kasih yang tulus kepada sesama. Saya percaya bahwa kemurahan hati ini telah menghadirkan kasih Allah yang nyata bagi mereka yang mengalami penderitaan. Dukungan seperti itu bukan hanya memberikan harapan, tetapi juga menunjukkan kepada mereka bahwa mereka dicintai dan dihargai sebagai anak-anak Allah.

Yesus, yang kelahiran-Nya kita rayakan hari ini, telah berkata: “Apa pun yang kamu lakukan bagi salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Melalui kemurahan hati itu, kasih dan kehadiran Yesus telah dirasakan oleh mereka yang paling kecil dan terlupakan di antara kita.

Di tengah sukacita menyambut Natal, kami berdoa agar misteri Allah yang menjadi manusia melalui Yesus Kristus senantiasa menjadi kekuatan bagi kita semua. Semoga berkat Natal membawa damai, kebahagiaan, dan semangat baru untuk terus membangun hidup bersama dalam masyarakat, terutama dengan memperhatikan mereka yang terpinggirkan.

Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih atas semua yang telah kami terima selama ini. Semoga Tuhan yang Maha Kasih membalas kemurahan hati itu dengan berlipat ganda, dan semoga damai sejahtera-Nya selalu menyertai kehidupan kita bersama

Akhirnya, Selamat Hari Raya Natal 2024 dan semoga Berkat Natal ini menjadi bekal perjalanan jiarah kita selama tahun 2025 dan seterusnya.


Teriring salam dan hormat saya,

I. Ismartono, SJ




Rabu, 20 Maret 2024

Surat Natal 2023

 Jakarta, 8 Desember, 2023

(sapaan)

Perayaan Natal adalah luapan kegembiraan manusia karena dikunjungi Penciptanya. Kejadiannya sederhana, ada pada pasangan muda, Yusuf dan Maria berjalan sepanjang sekitar 145 kilometer dari tempat asalnya di Nazaret menuju Betlehem. Biasanya perjalanan itu digambarkan sebagai perjalanan darat seorang suami yang mendudukkan isterinya yang sedang hamil di atas seekor keledai. Sesampai di Betlehem datanglah saat kelahiran dan Bayi itu dilahirkan di kandang hewan, dibaringkan di atas palungan. Kisah seperti ini tentu tidak sangat menarik perhatian. Tetapi ini menjadi kisah yang tercatat baik dan secara berulang kali dikisahkan kembali sampai pada jaman kita ini, karena Lukas menulis tentang Malaikat dan balatentara sorga yang memuji Allah. “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai Sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan pada-Nya. (Lk 2:14).

Ketika saya masih muda, di gereja paroki tempat keluarga kami tinggal, kisah yang ditulis oleh Lukas ini masih ditulis dalam bahasa Latin, dibentangkan oleh seorang malaikat, dalam bentuk patung malaikat ditempatkan di atas pintu goa: ”Glória in excélsis Deo et in terra pax homínibus bonæ voluntátis”. Istilah gloria itu tidak asing di mata saya. Di atas pintu masuk gereja Bintaran, gereja paroki ibu saya ketika masa muda, tertulis: ”Soli Deo gloria” yang artinya “Semata-mata demi kemuliaan Tuhan”. Istilah Gloria dapat ditemukan di banyak tempat, dan di dalam Serikat Yesus, kata-kata Ad Maiorem Dei Gloriam, selalu dapat menjadi jawaban ketika ditanya, untuk apa kerja dan usaha di dalam hidup ini: ”Untuk lebih besarnya kemuliaan Allah”. Apa itu kemuliaan Allah?

Ada seorang kudus, Santo Ireneus namanya. Dia hidup antara tahun 130 – 200. Dia memilki sebuah sesanti, yang berbunyi: ”Gloria enim Dei vivens homo, vita enim autem hominis visio Dei” (Adversus Haereses IV, 20, 7) – atau biasanya disingkat menjadi “Gloria Dei homo vivens”, yang artinya kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, bagi Allah, manusia itu hidup. Itulah sebabnya ketika Yesus Puteranya mati, Dia dibangkitkan. Bagaimana memuliakan Allah?

Di dalam melaksanakan kehidupan beriman, kita mengenal dua istilah pokok, yaitu mengungkapkan iman dan mewujudkan iman. Ungkapan iman misalnya ibadat, doa, renungan, meditasi, jiarah. Sedangkan perwujudan iman adalah berbuat baik bagi sesama, bekerja sama dalam menolong orang-orang yang kurang atau tidak beruntung. Hubungan antar keduanya bukan yang satu menggantikan yang lain, melainkan saling melengkapi, sehingga keduanya terjadi secara seimbang.

Santo Benediktus menganjurkan “Ora et labora”, berdoalah dan bekerjalah. Santo Ignatius mengajarkan contemplatio in actione, memaknai kedalaman batin di dalam melaksanakan kegiatan, sedang Santo Yakobus menulis: ”iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati” (Yak 2:17).

Para Sahabat yang terkasih, pada hari Natal tahun 2023 ini, marilah kita bersama-sama bersujud di hadapan Yesus, Allah yang menjadi manusia seperti kita untuk mengucap syukur atas semua yang boleh kita terima dari Allah: bersyukur atas hidup ini, atas kasih yang telah diberikan kepada kita, kepada keluarga, kepada Gereja dan masyarakat kita.

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan kita, atas kemurahan hati Anda semua dalam berbagai bentuk dukungan baik dalam bentuk doa, dana dan kegiatan dalam menjalankan Sahabat Insan, alat kita untuk memberi perhatian kepada Yesus (Mat 25:31- 46) yang mewujudkan diri dalam mereka yang menderita, kurang beruntung dan tersingkirkan.

Sahabat yang terkasih, selamat hari Raya Natal 25 Desember, 2023 dan selamat Tahun Baru, 1 Januari, 2024. Semoga Berkat-Nya selalu melimpah bagi diri kita dan dunia.


Teriring salam dan hormat saya,

I. Ismartono, SJ




Surat Natal 2022

 Selamat Natal, 25 Desember, 2022. Semoga damai dan kekuatan dari Tuhan yang telah menjadi manusia meresapi hidup kita. Mari kita mengucap syukur, karena kita dianugerahi iman untuk percaya bahwa Allah yang maha agung dan kuasa merendahkan diri sedemikian rupa, menjadi salah satu dari kita sehingga dapat menjadi sangat dekat dengan kita, dari berbentuk Bayi di kandang, sampai dalam bentuk Hosti di dalam Komuni. Semoga kedekatan-Nya dengan kita membuat kita semakin dekat satu sama lain.

Terima kasih atas kebersamaan kita selama ini. Kebersamaan yang membawa buah kegembiraan. Kegembiraan yang menjadi daya untuk berjalan bersama. Saya percaya, bahwa kasih Allah lah yang kita terima melalui kebersamaan ini. Kasih itu begitu besar, sehingga meluap keluar, tidak hanya mengarah ke diri kita masing-masing atau kelompok kita, tetapi juga kepada mereka yang berada di luar lingkaran kita.

Di dalam Surat Natal Bersama KWI dan PGI tahun 2022 ini dapat dibaca sebuah kalimat yang menarik perhatian: “Kasih Allah juga bisa diwartakan dengan kesediaan kita untuk menjadi teman dan sahabat bagi saudara-saudari kita yang menjadi korban pelecehan seksual, peredaran obat-obat terlarang, pemutusan hubungan kerja, diskriminasi, bencana alam, dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya. Kasih Allah yang hadir dalam peristiwa Natal ini memanggil kita untuk peduli pada sesama yang sedang menderita, karena apa yang kita lakukan untuk saudara-saudari kita yang sedang menderita atau mengalami kehinaan, kita lakukan juga untuk Allah” (bdk. Mat. 25:40).

Di sini dipergunakan istilah korban. Korban, bukan istilah yang asing bagi kita, Vox Victimae Vox Dei, itu semboyan kita: Suara Korban adalah Suara Tuhan. Pada saat kita memilih istilah itu, kisah yang memberi inspirasi adalah cerita tentang Tuhan yang bertanya kepada Kain, si anak Adam dan Hawa, yang adalah petani, yang mempunyai adik, Habil seorang penggembala. Kain merasa bahwa persembahannya yang berupa hasil bumi tidak dihiraukan oleh Tuhan. Maka hati Kain menjadi sangat panas dan mukanya muram. Kain mengajak adiknya pergi ke padang untuk dipukul sampai mati. Kemudian, Tuhan menemui Kain dan bertanya:”Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya:”Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Maka Tuhan berfirman:”Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah…” (Kej 4:9-10).

Anak-anak Manusia Pertama itu menulis sejarahnya dengan menjadikan yang satu korban bagi yang lain karena di antara mereka tidak dikembangkan kasih. Tetapi meskipun sudah mati, darah Habil berteriak kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkannya dan sejak tertulis di dalam Kitab Suci, suara korban itu menjadi suara Tuhan. Pada jaman ini, kita yang percaya kepada Tuhan juga dipanggil untuk mengembangkan pendengaran kita agar hati dan telinga kita menjadi tajam sehingga mampu mendengar suara mereka yang menjadi korban.

Dalam perayaan Natal tahun ini semoga pertanyaan Tuhan mengenai saudara-saudari kita, tidak kita jawab: ”Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga mereka?”. Seperti selama ini, melalui Sahabat Insan, kita berusaha menjawab: ”Ya, Tuhan, kami adalah penjaga mereka.” Kita ini penjaga mereka dengan berusaha menjadi sahabat mereka.

Terima kasih, saudara-saudari, para sahabat atas kebersamaan kita selama ini, atas usaha bersama untuk menjadi sahabat sesama manusia. Terima kasih atas kemurahan hati yang diwujudkan dalam bentuk penyemangatan, di dalam doa dan berbagai harapan baik, dalam bentuk dana sehingga perkumpulan kita ini masih dapat terus berjalan.

Semoga Berkat Natal tahun 2022 ini menjadi kekuatan untuk hidup mengarungi tahun 2023. Semoga Berkat Tuhan melimpah bagi kita masing-masing, bagi keluarga dan masyarakat kita.


Teriring salam saya dan selamat menerima kasih dari-Nya,

(I. Ismartono, SJ)




Surat Natal 2021

 Jakarta, 16 Desember 2021

Yang terkasih (sapaan)

Saat ini kita masih di dalam masa Adven, masa menanti. Penantian kita akan kedatangan Yesus, tidak sama dengan penantian yang dilakukan oleh mereka yang ada sebelum Yesus lahir pada Natal pertama. Mereka yang hadir pada Natal pertama adalah mereka yang ketika sedang menantikan kedatangan Tuhan belum tahu wujud kehadiran Tuhan itu seperti apa.

Kali ini saya ingin mengajak untuk merenungkan dua, Orang Majus dari Timur (Mt 2:1-12) dan Gembala-gembala (Lk. 2:8-20). Pertama-tama, yang nampak pada kita ialah bahwa kedua pengunjung pertama itu tidak datang sendirian. Secara tertulis di dalam Kitab Suci, mereka tidak disebut berapa jumlahnya. Kemudian karena ada tiga macam persembahan, maka disebut bahwa mereka bertiga, bahkan kemudian disebut namanya sebagai Melichior, Gaspar dan Balthazar. Sedangkan, tentang para Gembala, tidak ada sebutan nama, selalu saja disebut sebagai mereka. “Mereka” itu sepanjang sejarah akan dapat diisi oleh siapa saja, termasuk kita.

Natal tahun 2021 ini saya mengajak bersyukur karena melalui Sahabat Insan ini, kita menjadi seperti para pengunjung pertama itu, yaitu kita tidak datang sendirian, kita menghadap Yesus bersama-sama. Marilah kita mohon, agar kebersamaan ini kita sadari sebagai anugerah yang kita kembangkan, untuk menjadi semakin dekat satu sama lain. Kedua, baik Orang Majus, maupun para Gembala, ketika berjumpa dengan Yesus, mereka mengalami apa yang selama ini mereka inginkan dan kemudian menyatakan suatu penghormatan: Orang Majus menghaturkan persembahan, sedangkan para Gembala mengalami sebuah kesesuaian antara berita yang diterima dan bayi yang dilihat dan karena itu mereka mengalami sebuah kesukaan. Semoga perayaan Natal tahun ini, juga membawa akibat yang sama di dalam hati kita.

Berjumpa dengan Yesus itu menyentuh hati dan sentuhan itu membuat seseorang mengalami sebuah kesukaan. Mari kita mohon, agar Yesus yang dahulu ditemui oleh Orang Majus dan para Gembala itu memberi kita kesukaan, kesukaan yang diperuntukkan bagi seluruh bangsa, kesukaan yang tidak hanya untuk diri kita sendiri.

Bagi baik Orang Majus maupun Gembala, setelah berjumpa dengan Yesus, Maria dan Yoseph, mereka kembali ke tempat asalnya. Kembali dengan kesukaan yang mengisi hati mereka secara baru. Marilah kita mohon, semoga perjumpaan kita dengan Yesus melalui kebersamaan kita di perkumpulan Sahabat Insan ini membuat kita memiliki hati baru yang penuh kesukaan sehingga dapat membuat semakin banyak orang menjadi suka juga. Kembalinya Orang Majus dan para Gembala ke tempat asal mereka semoga menjadi teladan bagi kita untuk kembali ke dalam diri kita, ke dalam keluarga kita, ke dalam pekerjaan dan tugas kita. Karena telah berjumpa dengan Yesus, hati Orang Majus dan para Gembala itu menjadi baru demikian juga kita memiliki semangat baru penuh kesukaan di dalam hidup ini. Hidup yang masih diberikan kepada kita meski Covid 19 telah merenggut nyawa banyak orang, kita masih diberi hidup. Perayaan Natal tahun ini, merupakan kesempatan untuk lebih menyadari hidup ini benar-benar sebuah pemberian, sebuah anugerah,sebuah berkat. Mari kita berusaha agar dengan berkat yang telah diberikan kita dapat menjadi berkat bagi sesama dan seluruh alam ciptaan.

Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan kita di dalam Sahabat Insan, terima kasih atas perhatian dalam beraneka bentuk: kebersamaan, doa, sumbangan-sumbangan baik yang berupa dana, waktu, pemikiran dan keterbukaan. Mari kita datang kepada Yesus secara bersama-sama. Semoga sebagai tanda bahwa kita dekat dengan Yesus, kita dekat satu sama lain dekat juga dengan wujud Yesus di jaman ini.

Berkat Natal 2021 menjadi modal awal untuk melangkah masuk ke dalam tahun baru 2022.


Teriring salam dan doa saya.

I. Ismartono, SJ




Surat Natal 2020

 Jakarta, 15 Desember, 2020

(sapaan)

Selamat Hari Raya Natal, 25 Desember, 2020 dan Selamat Tahun Baru 2021. Semoga kegembiraan yang Tuhan berikan kepada kita tahun ini, menjadi daya dan kekuatan untuk mengarungi hidup di tahun yang segera akan datang.

Natalan di masa Covid 19 ini menjadi kesempatan bagi kita untuk bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Pertama - tama mengucapkan terima kasih bahwa kita masih diberi hidup. Meskipun di antara kita ada yang terkena Covid, Tuhan memberikan kesembuhan. Semoga saudara-saudari, kenalan, sahabat-sahabat kita yang telah mendahului kita karena Covid-19 ini dapat menjadi perantara kita untuk mohon semoga bencana ini lekas berlalu, mereka lah yang mengalami dan tahu apa artinya sakit yang diderita sehingga mengantar ke alam baka.

Mari kita bersyukur atas contoh dan teladan mereka yang bekerja keras di sekitar penyelamatan nyawa, para dokter, tenaga medis, para perawat, pengemudi ambulans, dan para peneliti pencari vaksin serta semua yang telah mengorbankan hidupnya untuk kehidupan manusia sesamanya. Semoga Tuhan tetap menjaga dan memberi kegembiraan kepada mereka dalam menjalankan tugas.

Mari kita bawa syukur kita ke Gua Yesus atas semua rahmat yang membuat manusia, di dalam masa bencana ini, ketika hidupnya sendiri terancam, mereka tetap berpikir dan bertindak bagi orang lain. Sikap ini merupakan perwujudan iman kepada-Nya yang meninggalkan Sorga untuk mengunjungi Dunia dan menyelamatkannya.

Mari kita sampaikan kepada Yesus, mereka yang dalam masa Covid ini mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri, dengan berbagai cara, misalnya mengkorupsi bahan-bahan bantuan untuk mereka yang hidupnya sangat ditentukan oleh bantuan tersebut. Mari kita mohon agar Tuhan meng(h)ajar mereka untuk bertobat.

Perayaan Natal ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk mengucapkan terima kasih kepada Anda, masing-masing dan bersama-sama, karena Sahabat Insan menerima banyak dari Anda, dengan menjadi pendoa, penderma, relawan-relawati penasehat atas berbagai usaha memberi perhatian kepada anak-anak Indonesia yang berada dalam bahaya karena – justru ketika berbagai lembaga pendidikan sedang mencari cara yang tepat untuk melaksanakan proses belajar mengajar, justru ketika sarana internet diperbaiki untuk lancarnya proses mencerdaskan bangsa – jaringan yang merusak mereka yang mau memperdagangkan mereka, tak kalah cepat menyelundup masuk ke dalamnya dengan program-programnya yang menggiurkan dan licik.

Akhirnya, sekali lagi, terima kasih atas segala perhatian Anda selama ini, Tuhan sendiri yang kami mohon untuk membalas kebaikan Anda, karena Dia adalah yang Maha Bijaksana..


Teriring Salam dan hormat saya,

I. Ismartono, SJ




Surat Natal 2019

 (sapaan)

Selamat Hari Raya Kelahiran Tuhan Kita Yesus Kristus, Natal, 25 Desember, 2019. Semoga Yesus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia, datang pula ke dalam hati dan pikiran kita sehingga hidup kita dapat dijalankan sesuai dengan kehendak-Nya.

Pesan Natal Nasional dari KWI dan PGI tahun ini bertautan dengan nama perkumpulan kita: “Hiduplah sebagai Sahabat bagi semua orang” (Bdk Yohanes 15:14-15). Kata Sahabat menyatukan kita.

Persahabatan merupakan bentuk hubungan antarmanusia yang secara khusus diusahakan, dirawat, dikembangkan dan disyukuri. Dalam tulisan Yohanes yang sama, persahabatan itu merupakan bentuk hubungan yang merupakan pengingkaran dari hubungan yang lain. Hubungan apa? Hubungan perhambaan. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba”, kata-Nya. Hubungan baru dibina oleh Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi dengan manusia ciptaan-Nya.

Kalimat “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi Aku menyebut kamu Sahabat” pertama-tama disampaikan kepada Para Rasul. Maka terjadi sebuah perubahan corak hubungan antarmanusia. Mereka berusaha menjalin hubungan baru yang isinya saling menghargai, saling menghormati, saling mendukung saling mengembangkan talenta, saling bekerjasama, saling menilai demi kebaikan bersama agar apa yang dikatakan oleh Yesus menjadi pengalaman nyata. Tetapi tidak hanya itu.

Terdapat anjuran Yesus yang melengkapinya.

    Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga - tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang - orang buta. Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah." (Lk 14:12-13, 15)

Karena itu, mereka berusaha mengatasi segala yang bersifat “hanya untuk diri sendiri”, menuju ke “semua untuk perutusan bersama.”

Ikatan baru Murid-murid Yesus itu bukan sebuah ikatan yang mengarah ke dalam, ikatan yang eksklusif, ikatan yang membuat lingkaran mereka tertutup. Terdapat nasehat yang mengundang mereka, bahwa persahabatan akrab demi membuat “kami menjulang tinggi”, perlu diarahkan keluar, ke liyan, lebih-lebih yang terkecil, tersingkir, terhina. (Mt 25:31-46)

Yesus menganjurkan “lebih”. Sadar bahwa masing-masing dari kita dijadikan Sahabat Yesus itu rahmat, karena persahabatan dengan Yesus itu kita bersahabat satu sama lain itu pantas diusahakan dan disyukuri. Setelah dijadikan Sahabat, maka saling bersahabat untuk menjadi Sahabat bagi siapa pun, sedemikan sampai mengatasi batas-batas ruang aman yang tercipta.

Semoga persahabatan yang senatiasa memperluas cakrawalanya ini, terus menjadi semangat kita.

Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih atas persahabatan yang selama ini telah terjadi di dalam perjumpaan kita, khususnya melalui perkumpulan kami. Sahabat Insan. Terima kasih atas perhatian, waktu, harapan baik, dana, pikiran dan semua saja yang membuat kita boleh tetap menjalankan sejarah persahabatan kita. Semoga kesadaran bahwa kita ini adalah Sahabat Yesus, menguatkan kita sehingga kita boleh mengarungi tahun baru 2020 dengan hati tabah dan gembira.


Teriring salam dan hormat saya,

I. Ismartono, SJ




Surat Natal 2018

 (sapaan)

Selamat Hari Raya Natal 2018.

Yesus yang hari kelahiran-Nya kita rayakan adalah Dia yang mempersatukan kita selama ini. Marilah kita bersyukur kepada-Nya, karena dalam hidup ini kita boleh mengenal-Nya, bahkan dijadikan sahabat-Nya dan karena itu kita dapat menjalin persahabatan. Terima kasih untuk persahabatan kita yang awet sampai kini. Saya percaya ini terjadi karena kasih-Nya semata.

Secara khusus, saya ucapkan terima kasih untuk segala upaya yang menjadikan Sahabat Insan tetap hidup: doa, kreativitas, harapan baik, waktu, tenaga, pikiran, dana, saran, pokoknya semua yang tak lain adalah kebaikan hati yang diberikan bagi perkumpulan kita ini.

Ketika surat ini saya tulis, kita masih berada dalam masa Adven, masa penantian, masa persiapan. Di sana-sini nampak gua Natal mulai dibuat. Bukankah kita bagaikan gua itu, masih kosong. Kosong agar diisi oleh Tuhan sendiri? Di atas gua ada Malaikat yang membawa tulisan Gloria in excelsis Deo. Bukankah kita bagaikan Malaikat itu, dipanggil untuk senantiasa memuliakan-Nya? Di atas Malaikat ada bintang, bukankah bintang itu adalah kita juga, yang meskipun berada dalam kegelapan tetap dipanggil untuk memancarkan terang? Ingat bukan, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia? Dan kambing-kambing itu? Bukankan itu kita juga, yang tak jarang dijadikan kambing hitam? Dianggap remeh dan dipersalahkan? Pasti bukan oleh-Nya, karena meskipun kita hitam, Dia tetap mencari kita. Gembala-gembala itu? Mereka juga kita. Kita yang bertanggung jawab untuk menggembalakan sejarah hidup kita supaya tetap berjalan di jalan-Nya.

Perayaan Natal adalah sebuah panggilan. Panggilan untuk semakin siap membuka hati kita bagi cinta-Nya.

Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan - Maria dan Yusup - membawa Allah Sang Pencipta langit dan bumi itu dalam bentuk yang amat sederhana, Bayi Kecil tak berdaya untuk masuk kedalam goa, ke dalam dunia kita, semoga ke dalam hati juga.

Selamat datang Yesus, selamat berada di hati kami.

Semoga Natal 2018 ini menjadi tonggak sejarah hidup kita untuk lahir kembali, memperbaharui diri dan hidup setia kepada-Nya. Semoga kita diberi kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup dalam harapan, iman dan kasih selama tahun 2019 yang segera datang.


Teriring salam dan hormat saya,

I. Ismartono, SJ




Surat Natal 2017

 Para Sahabat yang terkasih,

Selamat Natal 25 Desember 2017, selamat merayakan dan mensyukuri kasih Allah yang demi Cinta-Nya kepada kita, telah merelakan Anak-Nya menjadi senasib dengan kita.

Natal adalah perayaan Allah turun ke bumi. Allah merendahkan diri untuk bersama dengan kita. Dalam Natal, Allah menjadi manusia, dan nanti pada Hari Raya Paskah, yang adalah pesta gembira lain, manusia diangkat. Lengkaplah sudah gerak Allah melalui Yesus Kristus turun ke bumi menjadi satu dengan kita dan naik ke Surga membawa kita kepada Bapa-Nya.

Pada kesempatan penuh misteri, tetapi pantas disyukuri ini, saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan Anda semua selama ini. Kehadiran Anda dalam berbagai bentuk: dalam bentuk waktu yang diluangkan, dalam bentuk dana yang disampaikan, dalam bentuk pikiran dan jasa untuk berjalannya kantor, dalam bentuk berbagai perhatian dan tentu dalam bentuk doa dan harapan baik, merupakan tanda kasih Allah yang nyata dalam kehidupan Sahabat Insan.

Terima kasih untuk kebersamaan yang awet selama ini. Semoga kemurahan hati dan budi baik itu dapat dipergunakan Tuhan untuk menyampaikan kasih-Nya kepada sesama, terlebih mereka yang membutuhkan.

Semoga Berkat dan Kebahagiaan Natal 2017 ini melimpah kepada Anda masing - masing, melintasi batas waktu meluap dalam keluarga, dan kepada sesama umat di mana Anda berada dan seterusnya dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas pada umumnya.

Semoga “Saat Menghela Nafas” yang saya lampirkan di sini dapat menjadi alat pengingat bahwa kita disatukan oleh Roh-Nya yang kita hela lewat nafas kita dan karenanya kita hidup.


Selamat Hari Raya Natal 2017 dan Selamat Tahun Baru 2018.


Teriring salam dan hormat saya,


Ignatius Ismartono, SJ




Surat Natal 2015

 Sahabat-sahabat terkasih dalam Tuhan,

Selamat Natal 25 Desember 2015. Selamat merayakan dan mensyukuri kehadiran Allah dalam bentuk manusia sehingga Yang Maha Agung itu menjadi senasib dengan kita semua.

Natal adalah perayaan Allah yang turun ke bumi. Baru dikunjungi seorang saudara atau sahabat saja hati kita sudah merasa senang. Betapa mentakjubkan kunjungan Allah ini! Dia yang adalah pencipta bumi dan langit – yang ukuran jarak antara bintang - bintangnya dipergunakan “kecepatan cahaya” – rela mengecilkan diri menjadi manusia seperti kita. “Ucapan selamat datang Tuhan” tak cukup untuk menyambut-Nya. Siapakah manusia ini sehingga Penciptanya menjadi salah satu darinya? Tuhan masuk ke dalam diri manusia, berarti manusia masuk ke dalam kehidupan Allah. Mari kita syukuri perbuatan Allah yang ajaib ini. 

Setelah sadar bahwa kita dimasukkan dalam kehidupan Tuhan, maka kita mohon agar semangat-Nya menjiwai hidup kita, agar kita menjadi manusia baru seperti dikehendaki-Nya. Maka Selamat Tahun Baru 2016, selamat melanjutkan perjalanan ziarah hidup ini dengan semangat baru, semangat Tuhan yang rela senasib dengan dunia seisinya. Semoga tindakan Tuhan ini mengilhami kita untuk secara lebih tekun bergabung dengan Paus Fransiskus dalam usaha Gereja merawat “Rumah Kita Bersama” (Laudato Si). Hati kita belum sepenuhnya bahagia bila dalam Rumah Kita Bersama ini masih ada “orang-orang buangan, sampah yang dibuang.” (Evangelii Gaudium – nomor 54).

Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih atas semua perhatian, kehadiran, doa, dana dan harapan baik yang selama ini telah kita alami bersama, dalam berbagai kesempatan khususnya dalam Perkumpulan Sahabat Insan. Semoga “Sahabat Insan” siap dipakai Tuhan untuk menyampaikan Kabar Gembira-Nya. 


Teriring salam dan hormat saya,

Ignatius Ismartono, SJ


Direktur




Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

          “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...