Tampilkan postingan dengan label penyair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyair. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2026

BERITA DUKA DARI NGADA

 (Putu Oka Sukanta)


Lantun burung dari Ngada

Menghenyak

Menikam:

Sorang bocah

Mengejar sebatang pensil

Sampai ke bumi  terpencil


Sebatang pensil yang dikejarnya

Meliuk liuk di antara mega

Tangannya yang pendek menggapai

Gapai,

Gapai,

Ibunya menangis karena sunyi

Sendiri

Bola matanya mencari cari

Sebatang pensil permintaan anaknya

Melayang layang di angkasa.


Lantun burung

Meraung raung

Anak kecil 

mengejar  sebatang pensil

sampai ke balik bumi.


Ia meninggalkan surat kecil

Dari Ngada 

Untuk dunia yang omong besar:

Sebagai bahan berkotbah,

Sebagai Materi kuliah,

Sebagai Janji janji politisi,

Perihal  Kemanusiaan,

Juga Kemiskinan


Seorang anak kecil

Di Ngada

Terus berlari, berlari.........

Dilantunkan burung*


(Putu Oka Sukanta,

Rmangun,14.02.26)

Jumat, 27 Juni 2025

PERCAKAPAN 5

 (Putu Oka Sukanta)


Cakap cakap ringan

Ketahanan Pangan

Dimulai dari meja makan?

Atau dari gubug kelaparan?


Membuka pagi

Rebus ubi


Mengunyah pisang

Melewatkan siang


Ubi kayu

Menutup waktu


Cakap cakap Ketahanan Pangan

Sebelum makan mencuci tangan

Petinggi korupsi

Rakyat gigit jari.


Cakap cakap

Cakap cakap

Cakap cakap

Tikus bersorak sorai

Di lumbung padi.*


Rmangun,27.06.25

Rabu, 25 Juni 2025

PERCAKAPAN 4

( Putu Oka Sukanta).


Di depanku

Rebus ubi

Secangkir kopi

Dan mimpi


Copet,

Copet,

Copet.........pet....petttttt

Orang berhamburan ke jalanan

Berlari

Lari

Jadi ombak bergelombang

Masih pakai daster,

Celana dalam,

Baju dinas 

Lilitan handuk

Kerudung

Jadi ombak bergelombang

Gelombang

Copettttttt

Coooooooo

Petttttttt


Polisi,

Satpol Pepe

Tentara

Hansip berdiri tegak lurus

Di depan posnya masing masing.


Nyopet apa?

Nyopet apa?

Bikin laporan !


Orang orang bergumam

" Percuma"

Terus berlari mengejar pencopet.


Seorang pengejar copet

Akhirnya melapor ke petugas:

"Pencopet itu, 

Nyopet kebenaran peristiwa Pak."


" Wualahhhhhhh, dari tadi kek bilang.

Itu kan bukan urusan saya." 


Air bergelombang itu,

Terus mengejar pencopet.


Rebus ubi

Ampas kopi

Nikmatnya mimpi.*


Rmangun,25.06.25.

Selasa, 24 Juni 2025

PERCAKAPAN 1

 (Putu Oka Sukanta).


Berdiri di ambang pagi

Saling menyapa dengan sunyi

Lampu rumah dan jalanan

Belum waktu dipadamkan


Aku menunggu cahaya

 Peleburan jiwa.

Disapa Pemulung

 Mulai bertarung.*


Rmangun 22.06.25

PERCAKAPAN 2

 Yuya sedang di mana?


Aku mau bertutur

Knalpot karatan batuk batuk

Di keramaian hiruk pikuk

Suaranya kamu dengarkan:

Rum rum rum

Or or or 

Ru  ru ru. 

mor mor mor

Rum rum rum

Rrrrrrrrrrrrt

Morrrrrrrr


Knalpot karatan

Terbata bata

 Menyemprotkan penistaan


Yuya ada dimana?


Ternyata engkau sudah di sana

Membersihkan knalpot besi tua

Ramai ramai bersama sama.*


( Putu Oka Sukanta)

Rmangun, 23.06.2


PERCAKAPAN 3

 Mempercakapkan bambu

Ditanam di laut biru

Berderu

Deru

Di depan  podium, seru


Setelah berlalu

Bisu

Membisu

Dibikin bisu

Siapakah yang tahu?


Tonggak bambu 

Tinggi 

Mengibarkan Sertifikat


Tiang Sang Merah Putih

Lebih rendah

 Di perahu nelayan


Tonggak bambu

Diganti tembok batu

Bisu

Tanpa deru

Berderu.

Gelombang laut biru

Tonggak tonggak bambu

Diredam penguasa

Di tangan pengusaha.*


Rmangun,24.06.25

MENGENANG MARSINAH

 Arloji

Jarumnya berhenti

Disiksa mati


Tak tik, tak tik, tak tik.

" Suaranya mengganggu produksi"

Gonggong anjing.*


(Putu Oka. Sukanta. 1 Mei 2025).

BURUH ( Menyambut 1 Mei 2025)

 Buruh

Urat nadi tubuh

Mesin gemuruh

Seakan dunia  runtuh

Menyanyi menari

Berdiri

Berlari

Berkejar kejaran

Upah kerja

Hari kerja

Dari desa ke kota

Kehabisan daya buat berlaga


Tetap saja riuh.


Buruh miskin merana

Bagi laba tidak setara.

Di desa 

Di kota 

Yang kuasa, yang pengusaha

Berdendang ria.


Buruh dan Tani urat nadi 

Penghantar energi

Kemuliaan .*


(Putu Oka Sukanta.) 

Rmangun, 30.04.2025

DUA ANITA DALAM PUISIKU

 Siapakah ANITA itu. Pasti tidak akan kusebutkan. Aku akan biarkan engkau dan dunia untuk mencari dan menemukannya sendiri. 


Di tahun tahun menjelang jatuhnya Soeharto, udara pengap. Angin seolah tak berdaya berembus mengibaskan terik perlawanan Rakyat yang sepertinya dimotori oleh mahasiswa. Tidak hanya di Jakarta dan juga terjadi di kota kota lain. Tidak hanya perihal penindasan, bengisnya kekuasaan di Indonesia, tetapi juga di Timor Portugis, atau di Timor Timur, atau di Timor Loro Sae, atau sekarang bernama Timor Leste.

Sesekali anak yang usianya lebih muda, dengan derap pikiran selalu di depanku, mampir ke tempatku dengan berbagai alasan dan kebutuhan. Mereka membuat aku tidak pernah tertinggal, walau Intel terus memantau keseharianku. Seorang Intel memperkenalkan dirinya sebagai Petugas yang ditugaskan untuk memantau kegiatanku. Sering mendadak menelpon untuk menjumpainya di sesuatu Rumah makan, atau tiba tiba sudah nongol di depan rumah.Berlagak menjadi sahabat.


Yang dia tidak bisa lakukan adalah mengontrol  jalan dan kegiatan pikiranku.

Dia tidak bisa membaca puisi, cerpen maupun novel yang sudah dan sedang dalam proses penulisan. 


Dalam situasi seperti itulah aku bertemu ANITA. Ya, Anita, tidak salah lagi nama itu.


Sebelum ketemu Anita memang beberapa teman membawa kabar tentang Clandestine yang ketangkap di beberapa kota, juga semakin mengganasnya penguasa di Jakarta dan Timor Timur. Banyak hal mengerikan. Tapi derap terus menuju ke arah yang sudah disepakati. Menuju pembebasan.


Sempat aku ragu, benarkah engkau Anita? Atau namamu ini tidak dikenal oleh sanak saudaramu, orang orang di kampungmu.

Ia mengerdipkan mata, membenarkan namanya Anita.


Maka kutulislah surat kepada Anita, di tahun 1999.


SURAT DUKA KEPADA ANITA.


kudengar ayahnu

ibumu

saudara kandungmu

mati diterjang peluru


kudengar rumah kampungmu

jadi abu

kudengar adik adikmu

diburu

kudengar engkau

(jangan menangis,aku tak sanggup meneruskan)


Siapa gubernurmu

mengapa dibiarkan kamu


dari Jakarta kukirim surat duka

kepada kamu ANITA

basah gerimis airmata

menyimpan makna

laut debur silih berganti

angin dan awan mengantar hangat matahari

anak negeri menghitung arah jalannya sendiri.*


1999.

( Dikutip dari buku Perjalanan Penyair, Pustaka Pelajar, 1999)



AKU AKAN KETEMU ANITA DI TIMOR LESTE.

CANGKIR

 Cangkir menelungkup di piring kecil

Menolak kehadiran kopi

Pagi

Ia menerima bisikan

"Tensi sedang tinggi"


Cangkir menengadah di piring kecil

Pagi

Menyambut kucuran air hangat

Bening

Pereda ketegangan


Cangkir itu membisikkan Harapan

Mencium bibir peminumnya..*


Rmangun 19.06.24

RAKUS

Ditumpuk kursi

Bertingkat-tingkat

Untuk menggapai

Dipanjat rakyat.*


Rmangun, 13.03.24

Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

          “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...