“Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/10/2026), untuk memperingati Sumpah Pemuda. Kegiatan ini digagas Yayasan Sinergi Perempuan Indonesia, Sahabat Insan, dan Perempuan Berkebaya Indonesia. Bertema “Meningkatkan Potensi Produk Kearifan Lokal NTT untuk Lebih Mendunia”, acara mempertemukan komunitas budaya, penenun, pelaku UMKM, akademisi, dan pemangku kebijakan. Melalui simposium, pameran, pertunjukan tari, peragaan busana, dan stan UMKM, penyelenggara memperkenalkan budaya NTT sekaligus mendorong pemberdayaan perempuan.
Ignatius Ismartono SJ
Rabu, 28 Oktober 2026
Senin, 19 Oktober 2026
Rabu, 30 September 2026
DARI REGIMINI MILITANTIS ECCLESIAE MENUJU UAP: MENJADI GEREJA YANG BERJUANG DI ZAMAN INI
1.
Diresmikan dengan Regimini Militantis Ecclesiae
Pada
27 September 1540, Paus Paulus III mengesahkan Serikat Yesus melalui bulla
Regimini militantis Ecclesiae. Dengan pengesahan ini, Serikat Yesus yang
didirikan oleh Santo Ignatius Loyola dan para sahabatnya secara resmi diterima
dalam Gereja. Sejak awal, Serikat Yesus lahir bukan terutama untuk membangun
dirinya sendiri, melainkan untuk diutus. Identitasnya dibentuk oleh
kesiapsediaan untuk pergi ke mana pun diperlukan, melayani Gereja dan manusia,
terutama ketika zaman menghadirkan tantangan baru bagi iman dan kehidupan.
Karena itu, tanggal 27 September mempunyai makna khusus bagi Serikat Yesus. Ia mengingatkan bahwa Serikat lahir dari sebuah panggilan untuk berjuang dan diutus.
Apa kata-kata Paus Leo XIV tentang migran, pengungsi dan sebagainya selama kunjungannya ke Perancis baru-baru ini?
Dalam kunjungan apostoliknya ke Prancis 25–28 September 2026,
Paus Leo XIV beberapa kali berbicara langsung atau sangat dekat dengan isu migran,
pengungsi, orang yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan, integrasi,
perdagangan manusia, serta martabat manusia. Pernyataan paling penting
muncul di UNESCO, Maison Bakhita di Paris, dan Metz.
1. Di
UNESCO: migran dan pengungsi sebagai “ujian” martabat manusia
Dalam pidatonya di UNESCO, Paris, 25 September, Paus Leo XIV menyebut migran dan pengungsi bersama kelompok-kelompok yang paling rentan: “The touchstone by which we can assess our commitment is the care we show for the littlest and for the poor: … the elderly, migrants, refugees, and all those arrogantly excluded as unproductive.” Artinya: “Tolok ukur yang dengannya kita dapat menilai komitmen kita adalah perhatian yang kita tunjukkan kepada mereka yang paling kecil dan miskin: … kaum lanjut usia, para migran, para pengungsi, dan semua orang yang dengan angkuh disingkirkan karena dianggap tidak produktif.”
Kemudian ia memberikan penekanan yang sangat kuat: “They are the true test of our claims to respect human dignity.” — “Mereka adalah ujian nyata terhadap klaim kita untuk menghormati martabat manusia.”
Jadi, bagi Paus Leo XIV, persoalan migran dan pengungsi bukan sekadar persoalan administratif atau perbatasan. Cara sebuah masyarakat memperlakukan migran dan pengungsi menjadi salah satu ukuran apakah masyarakat itu sungguh menghormati martabat manusia.
2. Di
Maison Bakhita: “tidak seorang pun begitu miskin sehingga tidak memiliki
sesuatu untuk diberikan”
Pada 26 September, Paus Leo XIV mengunjungi Maison Bakhita, pusat pendampingan dan integrasi sosial bagi migran dan pengungsi di Paris. Di sana ia mengatakan sesuatu yang sangat menarik: “No one is so poor as to have nothing to give; no one is so rich as to have nothing to receive.” Terjemahan: “Tidak seorang pun begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan; tidak seorang pun begitu kaya sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diterima.”
Ini penting karena Paus Leo XIV tidak menggambarkan migran hanya sebagai orang yang membutuhkan bantuan. Migran juga dipandang sebagai subjek yang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada masyarakat penerima. Ia berbicara tentang “exchange of gifts” — pertukaran karunia yang terjadi dalam setiap perjumpaan.
Dengan demikian, integrasi bukan hanya: masyarakat menerima migran → migran menyesuaikan diri. Melainkan lebih merupakan: migran + masyarakat penerima → saling menerima dan saling memperkaya.
3. “It is possible to encounter one another
and to live together”
Kalimat pembuka Paus Leo XIV di Maison Bakhita juga sangat kuat: “It is possible to encounter one another and to live together in dignity and peace.” Terjemahannya: “Adalah mungkin bagi kita untuk saling berjumpa dan hidup bersama dalam martabat dan damai.”
Ia melihat Maison Bakhita sebagai kesaksian konkret bahwa perjumpaan lintas asal-usul dan budaya bukan sesuatu yang mustahil. Ia bahkan berterima kasih kepada para pekerja dan relawan yang memberikan: “welcome, a listening ear, formation and friendship” yakni: “penyambutan, telinga yang mau mendengarkan, pembinaan, dan persahabatan.”
Ini menarik karena empat kata tersebut membentuk semacam model pastoral migrasi: bukan sekadar memberi bantuan material, tetapi menyambut – mendengarkan – membina – bersahabat.
4. Di Metz: jalur migrasi yang aman dan legal
Pernyataan paling eksplisit mengenai kebijakan migrasi disampaikan Paus Leo XIV di Metz, 28 September, dalam pertemuan “At the Roots of Europe for Peace and Unity.” Ia mengatakan bahwa Eropa sedang memasuki tahap baru sejarahnya karena kedatangan:“so many men and women fleeing war and persecution or seeking a better life far from poverty and hardship.” — “begitu banyak laki-laki dan perempuan yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan atau mencari kehidupan yang lebih baik, jauh dari kemiskinan dan kesulitan.”
Lalu ia mengutip kembali pernyataannya ketika mengunjungi Kepulauan Canary: “Human dignity demands legal and safe pathways, rescue and assistance, real cooperation against traffickers, effective protection for victims, serious processes of reception and integration, and policies that allow every person to live with dignity in their own land.” Ini dapat diterjemahkan: “Martabat manusia menuntut adanya jalur-jalur yang legal dan aman, penyelamatan dan bantuan, kerja sama nyata melawan para penyelundup/perdagangan manusia, perlindungan efektif bagi para korban, proses penerimaan dan integrasi yang sungguh-sungguh, serta kebijakan yang memungkinkan setiap orang hidup bermartabat di tanah airnya sendiri.”
Kalimat ini sangat penting karena merangkum enam unsur pendekatan Paus Leo XIV:
- jalur
legal dan aman bagi migrasi;
- penyelamatan
dan bantuan;
- kerja
sama melawan para trafficker;
- perlindungan
efektif bagi korban;
- penerimaan
dan integrasi yang serius;
- pembangunan
kondisi yang memungkinkan orang hidup bermartabat di negeri asalnya.
5. Tetapi: menerima saja tidak cukup — harus
ada integrasi
Paus Leo XIV kemudian menambahkan kalimat yang menurut saya sangat penting: “However, this alone would not suffice.” — “Namun, semua itu saja belumlah cukup.”
Kemudian: “To welcome a person means to integrate them as if they were part of one’s own family.” Artinya: “Menyambut seseorang berarti mengintegrasikannya seolah-olah ia adalah bagian dari keluarga sendiri.”
Ia melanjutkan bahwa orang tersebut harus diberi kesempatan:“to develop their gifts, abilities and sensibilities, but also to enter into the life of the household.” — “untuk mengembangkan karunia, kemampuan dan kepekaan mereka, tetapi juga untuk masuk ke dalam kehidupan rumah tangga [masyarakat] itu.”
Jadi integrasi bagi Paus Leo XIV bukan sekadar memasukkan orang ke dalam sistem administrasi negara. Integrasi berarti menjadi bagian dari kehidupan bersama.
6. Migrasi sebagai perjumpaan bangsa dan
budaya
Masih di Metz, Paus Leo XIV menggunakan kerangka yang lebih luas:“an unprecedented encounter between peoples and cultures” — “sebuah perjumpaan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara bangsa-bangsa dan kebudayaan-kebudayaan.”
Ia menghubungkan migrasi dengan tugas Eropa untuk: “rediscover our roots in new and creative ways, while at the same time listening carefully to others.” — “menemukan kembali akar-akarnya dengan cara-cara baru dan kreatif, sambil pada saat yang sama mendengarkan dengan sungguh-sungguh orang lain.”
Jadi migrasi tidak hanya dipandang sebagai masalah yang harus dikelola, tetapi juga sebagai perjumpaan historis antara bangsa dan budaya.
7. Ini sangat dekat dengan pesan Hari Migran
dan Pengungsi 2026
Yang menarik, pernyataan Paus Leo XIV di Prancis sebenarnya konsisten dengan Pesan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-112 (2026), yang bertema: “Even just one of these children” — “Bahkan hanya satu dari anak-anak ini.”
Dalam pesan tersebut ia mengatakan bahwa persoalan migrasi harus bergeser dari sekadar “management of migration” menuju: “the full and immediate protection of human rights” — “perlindungan penuh dan segera terhadap hak-hak asasi manusia.” Ia juga menyerukan perlindungan, penyambutan, reunifikasi keluarga, dan kesempatan integrasi bagi anak-anak migran dan pengungsi.
Kalau dirangkum dalam satu gagasan
Benang merah pernyataan Paus Leo XIV di Prancis dapat dirumuskan demikian: Migran dan pengungsi bukan sekadar “persoalan migrasi”; mereka adalah manusia yang martabatnya menguji kualitas masyarakat kita. Dan ada semacam tiga tahap yang sangat jelas:
Bukan sekadar membiarkan mereka tinggal, tetapi memungkinkan mereka menjadi bagian dari kehidupan bersama dan menyumbangkan karunia mereka.
Dan di atas semuanya terdapat prinsip: HUMAN DIGNITY — MARTABAT MANUSIA.
Ini juga sangat relevan dengan tema Talitha Kum/TPPO yang pernah dibahas: Paus Leo XIV secara eksplisit menghubungkan migrasi dengan traffickers, perlindungan korban, jalur migrasi aman, dan integrasi.
KUNJUNGAN APOSTOLIK PAUS LEO XIV KE PRANCIS, 25–28 SEPTEMBER 2026
MENGGEMAKAN TEMA-TEMA UTAMA MAGNIFICA HUMANITAS
1. AI harus ditempatkan kembali di bawah martabat manusia
Di Élysée, 25 September, Paus mengatakan bahwa justru karena
perkembangan teknologi dan AI, ia merasa perlu menjadikan kecerdasan buatan
tema ensiklik pertamanya:
“...in my first Encyclical, the theme of
Artificial Intelligence, in order to place the human person at the heart of all
reflection.”
Ia kemudian memperingatkan agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya
di tengah “paradise of machines” yang memasuki dan mengondisikan
kehidupan sehari-hari. Karena itu diperlukan pendidikan bagi penilaian etis,
agar manusia mampu mengenali apa yang secara moral baik. (Vatican
Press)
Ini sangat dekat dengan garis besar Magnifica Humanitas: AI bukan
pusat kehidupan manusia; manusia, martabatnya, kebebasan batinnya, dan kebaikan
bersama harus tetap menjadi pusat.
APA YANG DIKATAKAN OLEH PAUS LEO XIV TENTANG PERAWATAN BUMI, OUR COMMON HOME, ISI LAUDATO SI', KETIKA BERKUNJUNG KE PERANCIS BARU-BARU INI?
1. “Ada
satu bumi untuk semua”
Salah satu kalimat Paus yang paling penting adalah: “There is one earth for all and a common human nature.” Dalam bahasa Indonesia: “Hanya ada satu bumi untuk semua dan satu kodrat manusia yang sama.”
Paus kemudian mengatakan bahwa manusia tidak dapat dipahami dengan memisahkan hal-hal yang sebenarnya tak terpisahkan: tubuh dan jiwa, kehidupan pribadi dan relasi, hubungan dengan sesama dan hubungan dengan lingkungan. Ini sangat dekat dengan jantung pemikiran Laudato Si’: manusia bukan makhluk yang berdiri di luar alam, melainkan bagian dari jaringan relasi kehidupan.
2. Kalimat
yang sangat kuat: “Cultivating the earth…”
Paus Leo XIV mengatakan: “Cultivating the earth also means cultivating the humanity that inhabits it.” Saya kira terjemahan yang bagus: “Mengolah bumi berarti juga mengolah kemanusiaan yang mendiaminya.”
Ia menghubungkan kata culture dengan cultivation: kebudayaan pada dasarnya adalah tindakan “mengolah”. Jadi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang semakin mampu menguasai alam, tetapi manusia yang mampu merawat bumi sekaligus memanusiakan dirinya sendiri. Ini menarik sekali bila dikaitkan dengan gagasan pertobatan ekologis dalam Laudato Si’.
3. Paus Leo
XIV secara eksplisit menyebut Laudato Si’
Ini bukan sekadar interpretasi. Paus sendiri mengatakan:“Pope Francis developed the perspective of integral ecology.” Kemudian ia secara eksplisit merujuk pada Laudato Si’, khususnya nn. 137–162, yaitu bagian mengenai ekologi integral.
Jadi, dalam kunjungan ke Prancis, Paus Leo XIV secara jelas menempatkan dirinya dalam kesinambungan dengan pemikiran ekologis Paus Fransiskus.
4. “Merawat
manusia dan ciptaan bersama-sama”
Paus mengatakan:“I therefore renew the appeal of my predecessors to care together for the human person and for creation.” Artinya: “Karena itu saya memperbarui seruan para pendahulu saya untuk bersama-sama merawat pribadi manusia dan ciptaan.”
Di sini ada kata yang penting: together — bersama-sama. Ekologi bagi Paus Leo XIV bukan hanya urusan individu, Gereja, atau aktivis lingkungan. Ia menyangkut tanggung jawab bersama umat manusia, termasuk pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lembaga-lembaga internasional.
5. Siapa yang menjadi “ukuran” kepedulian ekologis?
Bagian ini sangat kuat dan sangat Laudato Si’.
Paus Leo XIV mengatakan bahwa ukuran komitmen kita dapat dilihat dari perhatian
kepada “the littlest and the poor” —
mereka yang paling kecil dan kaum miskin. Ia menyebut:
- anak-anak,
- korban
perang,
- penyandang
disabilitas,
- lansia,
- migran
dan pengungsi, dan
- mereka yang disingkirkan karena dianggap tidak produktif.
Menurut Paus, mereka merupakan “the
true test of our claims to respect human dignity” — ujian nyata atas
klaim kita mengenai penghormatan terhadap martabat manusia. Dan perlindungan
terhadap mereka juga meluas kepada ciptaan. Ini sangat dekat dengan
prinsip Laudato Si’ bahwa “jeritan bumi” dan “jeritan kaum miskin”
tidak dapat dipisahkan.
Menariknya, hal ini juga konsisten dengan Magnifica Humanitas yang ditulis Paus Leo XIV: ia menyebut Laudato Si’ sebagai ensiklik yang secara sistematis menghubungkan krisis ekologis dengan krisis sosial-ekonomi, serta menggabungkan perawatan our common home dengan pilihan mengutamakan kaum miskin.
6. Kritik terhadap pola eksploitasi
Paus Leo XIV kemudian memberikan kontras yang tajam:“consuming without safeguarding, destroying without cultivating.” Secara bebas: “mengonsumsi tanpa menjaga, menghancurkan tanpa mengolah.”
Ia menggambarkan lawannya sebagai kehendak untuk mengeksploitasi dan menjarah, mengambil sebanyak mungkin dari setiap makhluk hidup. Dengan demikian, persoalan ekologis bukan sekadar: “Bagaimana kita mengurangi sampah?” Tetapi lebih dalam: “Bagaimana kita mengubah cara manusia berelasi dengan bumi?”
7. Krisis
ekologis adalah krisis antropologis
Inilah mungkin kalimat paling penting dari pidatonya: “Thus, the present ecological crisis is an anthropological crisis.” Terjemahannya: “Dengan demikian, krisis ekologis sekarang ini adalah krisis antropologis.”
Maksudnya: kerusakan bumi memperlihatkan adanya persoalan mengenai siapa manusia itu, bagaimana manusia memahami kebebasan, kebutuhan, kemajuan, konsumsi, teknologi, relasi dengan sesama, dan tanggung jawabnya terhadap ciptaan.
Jadi, bagi Paus Leo XIV, krisis ekologis bukan hanya masalah lingkungan; ia adalah masalah tentang manusia.
8. Ada hubungan dengan kritik Laudato Si’ terhadap paradigma teknokratis
Pidato di UNESCO juga menarik karena Paus menghubungkan lingkungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia mengatakan bahwa teknologi baru harus tetap melayani pribadi manusia, bukan menjadi instrumen dominasi dan ketidakadilan.
Ini sejalan dengan Laudato Si’ mengenai paradigma teknokratis:
masalahnya bukan teknologi itu sendiri, tetapi ketika kemampuan teknis manusia
berubah menjadi logika menguasai, mengeksploitasi, mengonsumsi dan membuang.
Dalam Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV bahkan mengembangkan gagasan ini lebih jauh: Laudato Si’ dikatakannya telah menunjukkan bahwa krisis ekologis merupakan aspek ekologis dari krisis sosial-ekonomi kontemporer, sekaligus mengkritik paradigma teknokratis yang memperlakukan segala sesuatu sebagai objek untuk didominasi.
9.
Hubungannya dengan “our common home”
Jadi, kalau kita merangkum pesan Paus Leo XIV di Prancis, khususnya UNESCO, ada lima lingkaran yang saling berhubungan:
MANUSIA
↓
RELASI DENGAN SESAMA
↓
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
↓
BUMI / CIPTAAN
↓
MASA DEPAN BERSAMA
Karena itu our common home bukan sekadar istilah untuk planet bumi. Ia berarti rumah bersama tempat manusia, masyarakat dan seluruh ciptaan saling berhubungan. Dan di sinilah Paus Leo XIV meneruskan Laudato Si’: ekologi tidak boleh dipisahkan dari martabat manusia, kaum miskin, perdamaian, pendidikan, kebudayaan dan keadilan.
10. Bahkan lebih kuat lagi: “Babel” versus “Pentakosta”
Ini menarik sekali untuk proyek yang sebelumnya kita bahas mengenai Babel and public square of Pentecost.
Di UNESCO, Paus Leo XIV mengatakan bahwa eksploitasi yang merusak masyarakat dan lingkungan merupakan salah satu wajah “Babel”. Ia menghubungkannya dengan globalisasi tanpa persaudaraan, neokolonialisme dan ilmu pengetahuan yang direduksi menjadi teknik kekuasaan.
Sebaliknya, Pentakosta adalah gambaran masyarakat yang berbeda: keberagaman tidak dihancurkan, tetapi dipersatukan melalui komunikasi, dialog, perdamaian dan pencarian kebaikan bersama.
Dengan demikian, kita dapat membaca pesan ekologis Paus Leo XIV di Prancis seperti ini:
- Babel: menguasai → mengeksploitasi → mengonsumsi → menghancurkan → memecah-belah.
- Pentakosta: mendengarkan → berdialog → merawat → bekerja bersama → membangun rumah bersama.
Ini sebenarnya memberikan pembacaan baru yang sangat kuat terhadap Laudato Si’: our common home hanya dapat dirawat kalau manusia juga membangun common humanity — kemanusiaan bersama.
Dan ini bukan pesan yang muncul hanya sekali. Pada 1 September 2026, dalam Misa untuk Perawatan Ciptaan di Borgo Laudato Si’, Paus Leo XIV juga menyerukan pertobatan ekologis, mengatakan bahwa “belum terlambat” untuk mengubah apa yang telah digunakan untuk kehancuran menjadi sesuatu yang memberi kehidupan dan merawat kaum miskin, memberi makan yang lapar, serta melindungi ciptaan.
Benang merah Paus Leo XIV di Prancis sangat jelas:
Laudato Si’ tidak ditinggalkan. Justru gagasan “ekologi integral” dibawa
masuk ke dalam pembicaraan tentang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan,
teknologi, kemiskinan, migrasi, perdamaian dan masa depan umat manusia.
Sabtu, 26 September 2026
Pesan Paus Leo XIV
Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Sedunia bagi Perawatan Ciptaan 2026 menghubungkan perdamaian, pertobatan hati, dan pertobatan ekologis. Perang dan kerusakan bumi dipandang saling berkaitan dengan kondisi hati manusia. Karena itu, energi dan sumber daya yang digunakan untuk kehancuran diarahkan menjadi kekuatan untuk kehidupan, keadilan, pengentasan kemiskinan, perlindungan martabat manusia, dan perawatan ciptaan. Intinya: transformasi hati melahirkan perdamaian dan pertobatan ekologis yang utuh.
Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan
“Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...
-
Pembuat/Sumber Konten: Isi infografis ini didasarkan pada ajaran resmi Gereja Katolik yang diterbitkan oleh Takhta Suci (Vatikan). Berbag...
-
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Injil memperlihatkan kepada kita Rasul Tomas, seorang murid yang jujur dalam keraguan...
-
Magnifica Humanitas terutama menyentuh hati pembaca melalui penegasan tentang martabat manusia sebagai citra Allah (Imago Dei). Manusia...





