Senin, 25 Maret 2024
Jumat, 22 Maret 2024
Profil Ignatius Ismartono SJ
I was born in Yogyakarta, Central Java, in 1945. After graduating from Saint Joseph Pangudi Luhur High School in Solo, I entered the Minor Seminary at Mertoyudan before joining the S.J. Novitiate in 1968. I studied philosophy at STF Driyarkara in Jakarta and theology at the Theological Institute in Yogyakarta. I was ordained a priest on December 8, 1976, and assigned to work as pastor at Sukorejo Parish in Central Java. Between 1981 and 1994, I served as chaplain to university students while lecturing on Catholic religion at the University of Indonesia. Afterwards, I worked at the KWI (Indonesian Bishops' Conference) for 15 years in interfaith dialogue and crisis management, including during the 2004 Aceh tsunami. From 2002 to 2007, I was also a member of the advisory board of the Vatican's Pontifical Council for Interreligious Dialogue. Currently, I help as a motivator for "Sahabat Insan" (Friend in Humanity), an organization that cares for outcasts mentioned in Evangelii Gaudium (no. 53):
|
Just as the
commandment “Thou shalt not kill” sets a clear limit in order to safeguard
the value of human life, today we also have to say “thou shalt not” to an
economy of exclusion and inequality. Such an economy kills. How can it be
that it is not a news item when an elderly homeless person dies of exposure,
but it is news when the stock market loses two points? This is a case of
exclusion. Can we continue to stand by when food is thrown away while people
are starving? This is a case of inequality. Today everything comes under the
laws of competition and the survival of the fittest, where the powerful feed
upon the powerless. As a consequence, masses of people find themselves
excluded and marginalized: without work, without possibilities, without any
means of escape. Human beings are themselves considered consumer goods to be
used and then discarded. We have created a “throw-away” culture which is now
spreading. It is no longer simply about exploitation and oppression, but
something new. Exclusion ultimately has to do with what it means to be a part
of the society in which we live; those excluded are no longer society’s
underside or its fringes or its disenfranchised – they are no longer even a
part of it. The excluded are not the “exploited” but the outcast, the
“leftovers”. |
I also provide spiritual accompaniment to the Talitha Kum Movement in Jakarta. Especially during Easter and Christmas, I confer the Sacrament of Reconciliation to the students of Canisius College.
Rabu, 20 Maret 2024
Surat Natal 2023
Jakarta, 8 Desember, 2023
(sapaan)
Perayaan Natal adalah luapan kegembiraan manusia karena dikunjungi Penciptanya. Kejadiannya sederhana, ada pada pasangan muda, Yusuf dan Maria berjalan sepanjang sekitar 145 kilometer dari tempat asalnya di Nazaret menuju Betlehem. Biasanya perjalanan itu digambarkan sebagai perjalanan darat seorang suami yang mendudukkan isterinya yang sedang hamil di atas seekor keledai. Sesampai di Betlehem datanglah saat kelahiran dan Bayi itu dilahirkan di kandang hewan, dibaringkan di atas palungan. Kisah seperti ini tentu tidak sangat menarik perhatian. Tetapi ini menjadi kisah yang tercatat baik dan secara berulang kali dikisahkan kembali sampai pada jaman kita ini, karena Lukas menulis tentang Malaikat dan balatentara sorga yang memuji Allah. “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai Sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan pada-Nya. (Lk 2:14).
Ketika saya masih muda, di gereja paroki tempat keluarga kami tinggal, kisah yang ditulis oleh Lukas ini masih ditulis dalam bahasa Latin, dibentangkan oleh seorang malaikat, dalam bentuk patung malaikat ditempatkan di atas pintu goa: ”Glória in excélsis Deo et in terra pax homínibus bonæ voluntátis”. Istilah gloria itu tidak asing di mata saya. Di atas pintu masuk gereja Bintaran, gereja paroki ibu saya ketika masa muda, tertulis: ”Soli Deo gloria” yang artinya “Semata-mata demi kemuliaan Tuhan”. Istilah Gloria dapat ditemukan di banyak tempat, dan di dalam Serikat Yesus, kata-kata Ad Maiorem Dei Gloriam, selalu dapat menjadi jawaban ketika ditanya, untuk apa kerja dan usaha di dalam hidup ini: ”Untuk lebih besarnya kemuliaan Allah”. Apa itu kemuliaan Allah?
Ada seorang kudus, Santo Ireneus namanya. Dia hidup antara tahun 130 – 200. Dia memilki sebuah sesanti, yang berbunyi: ”Gloria enim Dei vivens homo, vita enim autem hominis visio Dei” (Adversus Haereses IV, 20, 7) – atau biasanya disingkat menjadi “Gloria Dei homo vivens”, yang artinya kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, bagi Allah, manusia itu hidup. Itulah sebabnya ketika Yesus Puteranya mati, Dia dibangkitkan. Bagaimana memuliakan Allah?
Di dalam melaksanakan kehidupan beriman, kita mengenal dua istilah pokok, yaitu mengungkapkan iman dan mewujudkan iman. Ungkapan iman misalnya ibadat, doa, renungan, meditasi, jiarah. Sedangkan perwujudan iman adalah berbuat baik bagi sesama, bekerja sama dalam menolong orang-orang yang kurang atau tidak beruntung. Hubungan antar keduanya bukan yang satu menggantikan yang lain, melainkan saling melengkapi, sehingga keduanya terjadi secara seimbang.
Santo Benediktus menganjurkan “Ora et labora”, berdoalah dan bekerjalah. Santo Ignatius mengajarkan contemplatio in actione, memaknai kedalaman batin di dalam melaksanakan kegiatan, sedang Santo Yakobus menulis: ”iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati” (Yak 2:17).
Para Sahabat yang terkasih, pada hari Natal tahun 2023 ini, marilah kita bersama-sama bersujud di hadapan Yesus, Allah yang menjadi manusia seperti kita untuk mengucap syukur atas semua yang boleh kita terima dari Allah: bersyukur atas hidup ini, atas kasih yang telah diberikan kepada kita, kepada keluarga, kepada Gereja dan masyarakat kita.
Secara khusus saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan kita, atas kemurahan hati Anda semua dalam berbagai bentuk dukungan baik dalam bentuk doa, dana dan kegiatan dalam menjalankan Sahabat Insan, alat kita untuk memberi perhatian kepada Yesus (Mat 25:31- 46) yang mewujudkan diri dalam mereka yang menderita, kurang beruntung dan tersingkirkan.
Sahabat yang terkasih, selamat hari Raya Natal 25 Desember, 2023 dan selamat Tahun Baru, 1 Januari, 2024. Semoga Berkat-Nya selalu melimpah bagi diri kita dan dunia.
Teriring salam dan hormat saya,
I. Ismartono, SJ
Surat Natal 2022
Selamat Natal, 25 Desember, 2022. Semoga damai dan kekuatan dari Tuhan yang telah menjadi manusia meresapi hidup kita. Mari kita mengucap syukur, karena kita dianugerahi iman untuk percaya bahwa Allah yang maha agung dan kuasa merendahkan diri sedemikian rupa, menjadi salah satu dari kita sehingga dapat menjadi sangat dekat dengan kita, dari berbentuk Bayi di kandang, sampai dalam bentuk Hosti di dalam Komuni. Semoga kedekatan-Nya dengan kita membuat kita semakin dekat satu sama lain.
Terima kasih atas kebersamaan kita selama ini. Kebersamaan yang membawa buah kegembiraan. Kegembiraan yang menjadi daya untuk berjalan bersama. Saya percaya, bahwa kasih Allah lah yang kita terima melalui kebersamaan ini. Kasih itu begitu besar, sehingga meluap keluar, tidak hanya mengarah ke diri kita masing-masing atau kelompok kita, tetapi juga kepada mereka yang berada di luar lingkaran kita.
Di dalam Surat Natal Bersama KWI dan PGI tahun 2022 ini dapat dibaca sebuah kalimat yang menarik perhatian: “Kasih Allah juga bisa diwartakan dengan kesediaan kita untuk menjadi teman dan sahabat bagi saudara-saudari kita yang menjadi korban pelecehan seksual, peredaran obat-obat terlarang, pemutusan hubungan kerja, diskriminasi, bencana alam, dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya. Kasih Allah yang hadir dalam peristiwa Natal ini memanggil kita untuk peduli pada sesama yang sedang menderita, karena apa yang kita lakukan untuk saudara-saudari kita yang sedang menderita atau mengalami kehinaan, kita lakukan juga untuk Allah” (bdk. Mat. 25:40).
Di sini dipergunakan istilah korban. Korban, bukan istilah yang asing bagi kita, Vox Victimae Vox Dei, itu semboyan kita: Suara Korban adalah Suara Tuhan. Pada saat kita memilih istilah itu, kisah yang memberi inspirasi adalah cerita tentang Tuhan yang bertanya kepada Kain, si anak Adam dan Hawa, yang adalah petani, yang mempunyai adik, Habil seorang penggembala. Kain merasa bahwa persembahannya yang berupa hasil bumi tidak dihiraukan oleh Tuhan. Maka hati Kain menjadi sangat panas dan mukanya muram. Kain mengajak adiknya pergi ke padang untuk dipukul sampai mati. Kemudian, Tuhan menemui Kain dan bertanya:”Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya:”Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Maka Tuhan berfirman:”Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah…” (Kej 4:9-10).
Anak-anak Manusia Pertama itu menulis sejarahnya dengan menjadikan yang satu korban bagi yang lain karena di antara mereka tidak dikembangkan kasih. Tetapi meskipun sudah mati, darah Habil berteriak kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkannya dan sejak tertulis di dalam Kitab Suci, suara korban itu menjadi suara Tuhan. Pada jaman ini, kita yang percaya kepada Tuhan juga dipanggil untuk mengembangkan pendengaran kita agar hati dan telinga kita menjadi tajam sehingga mampu mendengar suara mereka yang menjadi korban.
Dalam perayaan Natal tahun ini semoga pertanyaan Tuhan mengenai saudara-saudari kita, tidak kita jawab: ”Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga mereka?”. Seperti selama ini, melalui Sahabat Insan, kita berusaha menjawab: ”Ya, Tuhan, kami adalah penjaga mereka.” Kita ini penjaga mereka dengan berusaha menjadi sahabat mereka.
Terima kasih, saudara-saudari, para sahabat atas kebersamaan kita selama ini, atas usaha bersama untuk menjadi sahabat sesama manusia. Terima kasih atas kemurahan hati yang diwujudkan dalam bentuk penyemangatan, di dalam doa dan berbagai harapan baik, dalam bentuk dana sehingga perkumpulan kita ini masih dapat terus berjalan.
Semoga Berkat Natal tahun 2022 ini menjadi kekuatan untuk hidup mengarungi tahun 2023. Semoga Berkat Tuhan melimpah bagi kita masing-masing, bagi keluarga dan masyarakat kita.
Teriring salam saya dan selamat menerima kasih dari-Nya,
(I. Ismartono, SJ)
Surat Natal 2021
Jakarta, 16 Desember 2021
Yang terkasih (sapaan)
Saat ini kita masih di dalam masa Adven, masa menanti. Penantian kita akan kedatangan Yesus, tidak sama dengan penantian yang dilakukan oleh mereka yang ada sebelum Yesus lahir pada Natal pertama. Mereka yang hadir pada Natal pertama adalah mereka yang ketika sedang menantikan kedatangan Tuhan belum tahu wujud kehadiran Tuhan itu seperti apa.
Kali ini saya ingin mengajak untuk merenungkan dua, Orang Majus dari Timur (Mt 2:1-12) dan Gembala-gembala (Lk. 2:8-20). Pertama-tama, yang nampak pada kita ialah bahwa kedua pengunjung pertama itu tidak datang sendirian. Secara tertulis di dalam Kitab Suci, mereka tidak disebut berapa jumlahnya. Kemudian karena ada tiga macam persembahan, maka disebut bahwa mereka bertiga, bahkan kemudian disebut namanya sebagai Melichior, Gaspar dan Balthazar. Sedangkan, tentang para Gembala, tidak ada sebutan nama, selalu saja disebut sebagai mereka. “Mereka” itu sepanjang sejarah akan dapat diisi oleh siapa saja, termasuk kita.
Natal tahun 2021 ini saya mengajak bersyukur karena melalui Sahabat Insan ini, kita menjadi seperti para pengunjung pertama itu, yaitu kita tidak datang sendirian, kita menghadap Yesus bersama-sama. Marilah kita mohon, agar kebersamaan ini kita sadari sebagai anugerah yang kita kembangkan, untuk menjadi semakin dekat satu sama lain. Kedua, baik Orang Majus, maupun para Gembala, ketika berjumpa dengan Yesus, mereka mengalami apa yang selama ini mereka inginkan dan kemudian menyatakan suatu penghormatan: Orang Majus menghaturkan persembahan, sedangkan para Gembala mengalami sebuah kesesuaian antara berita yang diterima dan bayi yang dilihat dan karena itu mereka mengalami sebuah kesukaan. Semoga perayaan Natal tahun ini, juga membawa akibat yang sama di dalam hati kita.
Berjumpa dengan Yesus itu menyentuh hati dan sentuhan itu membuat seseorang mengalami sebuah kesukaan. Mari kita mohon, agar Yesus yang dahulu ditemui oleh Orang Majus dan para Gembala itu memberi kita kesukaan, kesukaan yang diperuntukkan bagi seluruh bangsa, kesukaan yang tidak hanya untuk diri kita sendiri.
Bagi baik Orang Majus maupun Gembala, setelah berjumpa dengan Yesus, Maria dan Yoseph, mereka kembali ke tempat asalnya. Kembali dengan kesukaan yang mengisi hati mereka secara baru. Marilah kita mohon, semoga perjumpaan kita dengan Yesus melalui kebersamaan kita di perkumpulan Sahabat Insan ini membuat kita memiliki hati baru yang penuh kesukaan sehingga dapat membuat semakin banyak orang menjadi suka juga. Kembalinya Orang Majus dan para Gembala ke tempat asal mereka semoga menjadi teladan bagi kita untuk kembali ke dalam diri kita, ke dalam keluarga kita, ke dalam pekerjaan dan tugas kita. Karena telah berjumpa dengan Yesus, hati Orang Majus dan para Gembala itu menjadi baru demikian juga kita memiliki semangat baru penuh kesukaan di dalam hidup ini. Hidup yang masih diberikan kepada kita meski Covid 19 telah merenggut nyawa banyak orang, kita masih diberi hidup. Perayaan Natal tahun ini, merupakan kesempatan untuk lebih menyadari hidup ini benar-benar sebuah pemberian, sebuah anugerah,sebuah berkat. Mari kita berusaha agar dengan berkat yang telah diberikan kita dapat menjadi berkat bagi sesama dan seluruh alam ciptaan.
Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan kita di dalam Sahabat Insan, terima kasih atas perhatian dalam beraneka bentuk: kebersamaan, doa, sumbangan-sumbangan baik yang berupa dana, waktu, pemikiran dan keterbukaan. Mari kita datang kepada Yesus secara bersama-sama. Semoga sebagai tanda bahwa kita dekat dengan Yesus, kita dekat satu sama lain dekat juga dengan wujud Yesus di jaman ini.
Berkat Natal 2021 menjadi modal awal untuk melangkah masuk ke dalam tahun baru 2022.
Teriring salam dan doa saya.
I. Ismartono, SJ
Surat Natal 2020
Jakarta, 15 Desember, 2020
(sapaan)
Selamat Hari Raya Natal, 25 Desember, 2020 dan Selamat Tahun Baru 2021. Semoga kegembiraan yang Tuhan berikan kepada kita tahun ini, menjadi daya dan kekuatan untuk mengarungi hidup di tahun yang segera akan datang.
Natalan di masa Covid 19 ini menjadi kesempatan bagi kita untuk bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Pertama - tama mengucapkan terima kasih bahwa kita masih diberi hidup. Meskipun di antara kita ada yang terkena Covid, Tuhan memberikan kesembuhan. Semoga saudara-saudari, kenalan, sahabat-sahabat kita yang telah mendahului kita karena Covid-19 ini dapat menjadi perantara kita untuk mohon semoga bencana ini lekas berlalu, mereka lah yang mengalami dan tahu apa artinya sakit yang diderita sehingga mengantar ke alam baka.
Mari kita bersyukur atas contoh dan teladan mereka yang bekerja keras di sekitar penyelamatan nyawa, para dokter, tenaga medis, para perawat, pengemudi ambulans, dan para peneliti pencari vaksin serta semua yang telah mengorbankan hidupnya untuk kehidupan manusia sesamanya. Semoga Tuhan tetap menjaga dan memberi kegembiraan kepada mereka dalam menjalankan tugas.
Mari kita bawa syukur kita ke Gua Yesus atas semua rahmat yang membuat manusia, di dalam masa bencana ini, ketika hidupnya sendiri terancam, mereka tetap berpikir dan bertindak bagi orang lain. Sikap ini merupakan perwujudan iman kepada-Nya yang meninggalkan Sorga untuk mengunjungi Dunia dan menyelamatkannya.
Mari kita sampaikan kepada Yesus, mereka yang dalam masa Covid ini mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri, dengan berbagai cara, misalnya mengkorupsi bahan-bahan bantuan untuk mereka yang hidupnya sangat ditentukan oleh bantuan tersebut. Mari kita mohon agar Tuhan meng(h)ajar mereka untuk bertobat.
Perayaan Natal ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk mengucapkan terima kasih kepada Anda, masing-masing dan bersama-sama, karena Sahabat Insan menerima banyak dari Anda, dengan menjadi pendoa, penderma, relawan-relawati penasehat atas berbagai usaha memberi perhatian kepada anak-anak Indonesia yang berada dalam bahaya karena – justru ketika berbagai lembaga pendidikan sedang mencari cara yang tepat untuk melaksanakan proses belajar mengajar, justru ketika sarana internet diperbaiki untuk lancarnya proses mencerdaskan bangsa – jaringan yang merusak mereka yang mau memperdagangkan mereka, tak kalah cepat menyelundup masuk ke dalamnya dengan program-programnya yang menggiurkan dan licik.
Akhirnya, sekali lagi, terima kasih atas segala perhatian Anda selama ini, Tuhan sendiri yang kami mohon untuk membalas kebaikan Anda, karena Dia adalah yang Maha Bijaksana..
Teriring Salam dan hormat saya,
I. Ismartono, SJ
Surat Natal 2019
(sapaan)
Selamat Hari Raya Kelahiran Tuhan Kita Yesus Kristus, Natal, 25 Desember, 2019. Semoga Yesus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia, datang pula ke dalam hati dan pikiran kita sehingga hidup kita dapat dijalankan sesuai dengan kehendak-Nya.
Pesan Natal Nasional dari KWI dan PGI tahun ini bertautan dengan nama perkumpulan kita: “Hiduplah sebagai Sahabat bagi semua orang” (Bdk Yohanes 15:14-15). Kata Sahabat menyatukan kita.
Persahabatan merupakan bentuk hubungan antarmanusia yang secara khusus diusahakan, dirawat, dikembangkan dan disyukuri. Dalam tulisan Yohanes yang sama, persahabatan itu merupakan bentuk hubungan yang merupakan pengingkaran dari hubungan yang lain. Hubungan apa? Hubungan perhambaan. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba”, kata-Nya. Hubungan baru dibina oleh Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi dengan manusia ciptaan-Nya.
Kalimat “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi Aku menyebut kamu Sahabat” pertama-tama disampaikan kepada Para Rasul. Maka terjadi sebuah perubahan corak hubungan antarmanusia. Mereka berusaha menjalin hubungan baru yang isinya saling menghargai, saling menghormati, saling mendukung saling mengembangkan talenta, saling bekerjasama, saling menilai demi kebaikan bersama agar apa yang dikatakan oleh Yesus menjadi pengalaman nyata. Tetapi tidak hanya itu.
Terdapat anjuran Yesus yang melengkapinya.
Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga - tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang - orang buta. Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah." (Lk 14:12-13, 15)
Karena itu, mereka berusaha mengatasi segala yang bersifat “hanya untuk diri sendiri”, menuju ke “semua untuk perutusan bersama.”
Ikatan baru Murid-murid Yesus itu bukan sebuah ikatan yang mengarah ke dalam, ikatan yang eksklusif, ikatan yang membuat lingkaran mereka tertutup. Terdapat nasehat yang mengundang mereka, bahwa persahabatan akrab demi membuat “kami menjulang tinggi”, perlu diarahkan keluar, ke liyan, lebih-lebih yang terkecil, tersingkir, terhina. (Mt 25:31-46)
Yesus menganjurkan “lebih”. Sadar bahwa masing-masing dari kita dijadikan Sahabat Yesus itu rahmat, karena persahabatan dengan Yesus itu kita bersahabat satu sama lain itu pantas diusahakan dan disyukuri. Setelah dijadikan Sahabat, maka saling bersahabat untuk menjadi Sahabat bagi siapa pun, sedemikan sampai mengatasi batas-batas ruang aman yang tercipta.
Semoga persahabatan yang senatiasa memperluas cakrawalanya ini, terus menjadi semangat kita.
Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih atas persahabatan yang selama ini telah terjadi di dalam perjumpaan kita, khususnya melalui perkumpulan kami. Sahabat Insan. Terima kasih atas perhatian, waktu, harapan baik, dana, pikiran dan semua saja yang membuat kita boleh tetap menjalankan sejarah persahabatan kita. Semoga kesadaran bahwa kita ini adalah Sahabat Yesus, menguatkan kita sehingga kita boleh mengarungi tahun baru 2020 dengan hati tabah dan gembira.
Teriring salam dan hormat saya,
I. Ismartono, SJ
Surat Natal 2018
(sapaan)
Selamat Hari Raya Natal 2018.
Yesus yang hari kelahiran-Nya kita rayakan adalah Dia yang mempersatukan kita selama ini. Marilah kita bersyukur kepada-Nya, karena dalam hidup ini kita boleh mengenal-Nya, bahkan dijadikan sahabat-Nya dan karena itu kita dapat menjalin persahabatan. Terima kasih untuk persahabatan kita yang awet sampai kini. Saya percaya ini terjadi karena kasih-Nya semata.
Secara khusus, saya ucapkan terima kasih untuk segala upaya yang menjadikan Sahabat Insan tetap hidup: doa, kreativitas, harapan baik, waktu, tenaga, pikiran, dana, saran, pokoknya semua yang tak lain adalah kebaikan hati yang diberikan bagi perkumpulan kita ini.
Ketika surat ini saya tulis, kita masih berada dalam masa Adven, masa penantian, masa persiapan. Di sana-sini nampak gua Natal mulai dibuat. Bukankah kita bagaikan gua itu, masih kosong. Kosong agar diisi oleh Tuhan sendiri? Di atas gua ada Malaikat yang membawa tulisan Gloria in excelsis Deo. Bukankah kita bagaikan Malaikat itu, dipanggil untuk senantiasa memuliakan-Nya? Di atas Malaikat ada bintang, bukankah bintang itu adalah kita juga, yang meskipun berada dalam kegelapan tetap dipanggil untuk memancarkan terang? Ingat bukan, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia? Dan kambing-kambing itu? Bukankan itu kita juga, yang tak jarang dijadikan kambing hitam? Dianggap remeh dan dipersalahkan? Pasti bukan oleh-Nya, karena meskipun kita hitam, Dia tetap mencari kita. Gembala-gembala itu? Mereka juga kita. Kita yang bertanggung jawab untuk menggembalakan sejarah hidup kita supaya tetap berjalan di jalan-Nya.
Perayaan Natal adalah sebuah panggilan. Panggilan untuk semakin siap membuka hati kita bagi cinta-Nya.
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan - Maria dan Yusup - membawa Allah Sang Pencipta langit dan bumi itu dalam bentuk yang amat sederhana, Bayi Kecil tak berdaya untuk masuk kedalam goa, ke dalam dunia kita, semoga ke dalam hati juga.
Selamat datang Yesus, selamat berada di hati kami.
Semoga Natal 2018 ini menjadi tonggak sejarah hidup kita untuk lahir kembali, memperbaharui diri dan hidup setia kepada-Nya. Semoga kita diberi kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup dalam harapan, iman dan kasih selama tahun 2019 yang segera datang.
Teriring salam dan hormat saya,
I. Ismartono, SJ
Surat Natal 2017
Para Sahabat yang terkasih,
Selamat Natal 25 Desember 2017, selamat merayakan dan mensyukuri kasih Allah yang demi Cinta-Nya kepada kita, telah merelakan Anak-Nya menjadi senasib dengan kita.
Natal adalah perayaan Allah turun ke bumi. Allah merendahkan diri untuk bersama dengan kita. Dalam Natal, Allah menjadi manusia, dan nanti pada Hari Raya Paskah, yang adalah pesta gembira lain, manusia diangkat. Lengkaplah sudah gerak Allah melalui Yesus Kristus turun ke bumi menjadi satu dengan kita dan naik ke Surga membawa kita kepada Bapa-Nya.
Pada kesempatan penuh misteri, tetapi pantas disyukuri ini, saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan Anda semua selama ini. Kehadiran Anda dalam berbagai bentuk: dalam bentuk waktu yang diluangkan, dalam bentuk dana yang disampaikan, dalam bentuk pikiran dan jasa untuk berjalannya kantor, dalam bentuk berbagai perhatian dan tentu dalam bentuk doa dan harapan baik, merupakan tanda kasih Allah yang nyata dalam kehidupan Sahabat Insan.
Terima kasih untuk kebersamaan yang awet selama ini. Semoga kemurahan hati dan budi baik itu dapat dipergunakan Tuhan untuk menyampaikan kasih-Nya kepada sesama, terlebih mereka yang membutuhkan.
Semoga Berkat dan Kebahagiaan Natal 2017 ini melimpah kepada Anda masing - masing, melintasi batas waktu meluap dalam keluarga, dan kepada sesama umat di mana Anda berada dan seterusnya dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas pada umumnya.
Semoga “Saat Menghela Nafas” yang saya lampirkan di sini dapat menjadi alat pengingat bahwa kita disatukan oleh Roh-Nya yang kita hela lewat nafas kita dan karenanya kita hidup.
Selamat Hari Raya Natal 2017 dan Selamat Tahun Baru 2018.
Teriring salam dan hormat saya,
Ignatius Ismartono, SJ
Surat Natal 2016
Para sahabat yang terkasih,
Natal datang lagi. Kita bertemu lagi dalam sebuah kesadaran iman bahwa kita bersatu karena dihubungkan dengan Yesus yang kita percaya sebagai Penyelamat kita. Selamat Natal, selamat dipersatukan dengan-Nya dan dipersatukan satu sama lain sebagai sahabat-Nya. Dialah yang memilih kita menjadi sahabat-Nya. (Bdk. Yoh. 15:14). Dan karena kita semua sahabat-Nya, kita menjadi sahabat satu sama lain bagaikan ranting dengan pokok anggur (Yoh 15:1). Mari kita bersyukur karena pilihan menjadikan kita sahabat-Nya.
Wisma SY - sebagai kelanjutan Kramat-7 - dikenal sebagai wisma Sahabat Yesus karena memang karena di sana para mahasiswa-mahasiswi yang adalah sahabat-Nya saling bertemu, saling menjadi inspirasi, untuk membentuk komunitas yang menyiapkan diri diutus ke dalam dunia untuk menggaraminya, untuk meneranginya. Marilah kita bersyukur atas pengalaman berkomunitas itu, dengan berusaha agar terang itu tak padam dan garam itu tak kehilangan rasa asinnya, menjadi tawar, sehingga dibuang dan diinjak orang. (Bdk. Mat. 5:13).
Perkumpulan Sahabat Insan – dengan mencantumkan kata sahabat di dalamnya – adalah salah satu wujud kelanjutan semangat sahabat yang bersumber pada Yesus. Dialah Sang Sahabat yang kelahiran-Nya sedang kita rayakan sekarang ini, yang selama ini semangat-Nya kita usahakan untuk menjadi semangat kita dalam perjalanan hidup.
Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih atas persahabatan yang sampai sekarang masih tumbuh di antara kita. Melalui persahabatan ini Sahabat Insan menerima banyak sumbangan kasih, yang berupa waktu, perhatian, kecerdasan, dana, ide dan tentu saja doa.
Sebagai sebuah perkumpulan yang pusatnya adalah Yesus sendiri, selama ini kita dengan rendah hati mencoba melakukan apa yang Yesus ingin sahabat-Nya kerjakan. Pertama, Yesus sebagai yang paling hina tetapi sekaligus penyembuh. Untuk itu kita perhatikan mereka yang terbuang terutama buruh migran dan korban perdagangan manusia. Ini bersumber pada Yesus yang mengatakan bahwa diri-Nya sebagai yang paling hina (Mat. 25:40).
Kedua, Yesus adalah Sang Guru yang mencintai kaum muda. Para Rasul pertama-Nya pun orang-orang muda. Dia mengajar agar orang-orang muda tahu dan percaya bahwa Allah menjadi Bapa mereka. Untuk itu mari kita dukung usaha yang diprakarsai oleh beberapa teman kita untuk menjadi pendamping mahasiswa.
Maka ucapan selamat Natal juga berisi harapan baru agar undangan untuk menjadi sahabat-Nya dapat kita jawab dengan baik. Semoga persahabatan kita dengan Yesus Sang Anak Allah ini semakin menjadi sumber hidup kita. Semoga karenanya kita menjadi lebih berani hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Akhirnya, semoga tahun baru 2017 ini menjadi juga tahun penuh rahmat bagi kita semua. Semoga yang baik dari tahun yang telah lewat diintegrasikan dalam proses kita dalam menjalankan ziarah kehidupan ini dan yang tidak baik tak kita ulangi lagi, kita buang, kita ampuni, karena Tuhan kita adalah Sang Pengampun yang berbelas kasih.
Sekali lagi, Selamat Hari Raya Natal, 25 Desember 2016 dan Tahun Baru 2017.
Teriring salam dan hormat saya,
I. Ismartono, SJ
Direktur
Surat Natal 2015
Sahabat-sahabat terkasih dalam Tuhan,
Selamat Natal 25 Desember 2015. Selamat merayakan dan mensyukuri kehadiran Allah dalam bentuk manusia sehingga Yang Maha Agung itu menjadi senasib dengan kita semua.
Natal adalah perayaan Allah yang turun ke bumi. Baru dikunjungi seorang saudara atau sahabat saja hati kita sudah merasa senang. Betapa mentakjubkan kunjungan Allah ini! Dia yang adalah pencipta bumi dan langit – yang ukuran jarak antara bintang - bintangnya dipergunakan “kecepatan cahaya” – rela mengecilkan diri menjadi manusia seperti kita. “Ucapan selamat datang Tuhan” tak cukup untuk menyambut-Nya. Siapakah manusia ini sehingga Penciptanya menjadi salah satu darinya? Tuhan masuk ke dalam diri manusia, berarti manusia masuk ke dalam kehidupan Allah. Mari kita syukuri perbuatan Allah yang ajaib ini.
Setelah sadar bahwa kita dimasukkan dalam kehidupan Tuhan, maka kita mohon agar semangat-Nya menjiwai hidup kita, agar kita menjadi manusia baru seperti dikehendaki-Nya. Maka Selamat Tahun Baru 2016, selamat melanjutkan perjalanan ziarah hidup ini dengan semangat baru, semangat Tuhan yang rela senasib dengan dunia seisinya. Semoga tindakan Tuhan ini mengilhami kita untuk secara lebih tekun bergabung dengan Paus Fransiskus dalam usaha Gereja merawat “Rumah Kita Bersama” (Laudato Si). Hati kita belum sepenuhnya bahagia bila dalam Rumah Kita Bersama ini masih ada “orang-orang buangan, sampah yang dibuang.” (Evangelii Gaudium – nomor 54).
Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih atas semua perhatian, kehadiran, doa, dana dan harapan baik yang selama ini telah kita alami bersama, dalam berbagai kesempatan khususnya dalam Perkumpulan Sahabat Insan. Semoga “Sahabat Insan” siap dipakai Tuhan untuk menyampaikan Kabar Gembira-Nya.
Teriring salam dan hormat saya,
Ignatius Ismartono, SJ
Direktur
Senin, 18 Maret 2024
WHY I GOT INVOLVED IN THE MOVEMENT THAT CARES FOR VICTIMS OF HUMAN TRAFFICKING
Throughout the ages, vulnerable people have been among us. God, in disguise, is present in the form of the poor. Today, we believe that he appears in the form of victims, including those ensnared by human trafficking. It is this hidden divinity that unites us all.
My journey into the movement against human trafficking has had a long history. I was once the pastor of a poor rural parish, where I met many poor children. From that parish, I spent 14 years teaching Catholicism at a state university and then nine years as executive secretary of the Indonesian Bishops' Conference for Interreligious Dialogue. I also spent six years in the Crisis and Reconciliation section of the bishop’s office.
Throughout my time with the Indonesian Bishops' Conference and in the Crisis Centre, I observed that interfaith dialogue often centred on the discourse of harmony. I sought to complete these conversations by collaborating with people of diverse religious backgrounds. In my research, I have discovered that forced migration and human trafficking victims affect people of all religions, and in Indonesia, most prominently Muslims and Christians.
The global scale of human trafficking is staggering, with over 40 million victims worldwide and one in four of them being children. Shockingly, the United Nations reveals that human trafficking ranks second only to drug trafficking in illegal revenue generation.
My current mission, working with migrants and victims of human trafficking, carries a dimension of dialogue with Islam. Beyond that, Christologically, we feel united by the same Person, whom Islam calls Isa Almasih, and for us, Jesus Christ. He hides behind the poor, the miserable, and the suffering, as in Matthew 25:40:“The King will reply, ‘Truly I tell you, whatever you did for one of the least of these brothers and sisters of mine, you did for me.’” And in the Sahih Muslim, Hadith 2001: No 4661 and 1172: “Then Allah SWT said, 'Do you not know that my servant so-and-so asked for a drink and you did not give him a drink? Do you not know that if you had given him a drink you would have been rewarded by Me?’"The God who hides is the reason why I pay attention to the victims alongside my Muslim brothers and sisters.
As a Jesuit who is encouraged by the expression sentire cum ecclesia (in one mind with the Church), I am moved by the current supreme leader of our Church, Pope Francis, who has paid great attention to this issue of human trafficking, even establishing the Integral Human Development dicastery, which includes a section on Migrants and Refugees. His commitment is evident in the publication of his Pastoral Orientation on Human Trafficking.
Further, in Evangelii Gaudium, Pope Francis laments: “Human beings are themselves considered consumer goods to be used and then discarded. We have created a ‘throw away’ culture which is now spreading. It is no longer simply about exploitation and oppression, but something new. Exclusion ultimately has to do with what it means to be a part of the society in which we live; those excluded are no longer society’s underside or its fringes or its disenfranchised–they are no longer even a part of it. The excluded are not the ‘exploited’ but the outcast, the ‘leftovers’” (Evangelii Gaudium 2013, 53).
In his introduction to the document on Human Fraternity for World Peace and Living Together, during his apostolic journey to the United Arab Emirates in 2019, Pope Francis reiterates how our faith impels us to recognise in the other a brother and sister to be supported and loved. “Through faith in God, who has created the universe, creatures and all human beings (equal on account of his mercy), believers are called to express this human fraternity by safeguarding creation and the entire universe and supporting all persons, especially the poorest and those most in need.”
The Universal Apostolic Preferences of the Society of Jesus also underscore, among others, solidarity with marginalised and excluded populations, including those who are economically disadvantaged, refugees, migrants, and those suffering from social injustices. Jesuits strive to stand with these communities, advocate for their rights, and work towards a more just and equitable world.
Eduardo Verástegui, reflecting on his film “Sound of Freedom”, powerfully states: We are living in the moment of human history with the greatest number of slaves… and we cannot remain silent.”
Throughout the ages, vulnerable people have been among us. God, in disguise, is present in the form of the poor. Today, we believe that he appears in the form of victims, including those ensnared by human trafficking. It is this hidden divinity that unites us all.
May we find You, the hidden one.
Ignatius Ismartono SJ is the Director of Sahabat Insan (Friend in Humanity), an apostolate for Indonesian migrant workers and victims of human trafficking. He may reached at ismartono@kanisius.sch.id.
Writing source: https://www.sjesjesuits.global/sj-testimonies/why-i-got-involved-in-the-movement-that-cares-for-victims-of-human-trafficking/
"Hidup Dlm Semangat Ajaran Sosial Gereja:Apa yg kt bisa Perbuat?"bersama Rm. Is, SJ. (Sesi 9/9)
"Ajaran Sosial Gereja setelah Pandemi Covid-19" - bersama Rm. Ismartono, SJ. (Sesi 8/9)
Topik: “Anjaran Sosial Gereja setelah Pandemi Covid-19” Bersama: Romo Ismartono, SJ.
"Antara Kebebasan Beragama dan Kebebasan Ekonomi" - bersama Rm. Ismartono, SJ. (Sesi 7/9)
"Antara Prosperity Gospel dan Ajaran Sosial Gereja" - bersama Rm. Ismartono, SJ. (Sesi 6/9)
"Keselamatan Jiwa di Surga/Pembebasan dr Penindasan di Bumi" - bersama Rm. Ismartono, SJ. (Sesi 4/9)
"Memperjuangkan Keadilan atau Berbuat Amal" - bersama Romo Ismartono, SJ. (Sesi 3/9)
"Ajaran Sosial Gereja di antara Kapitalisme dan Sosialisme" - bersama Romo Ismartono, SJ. (Sesi 2/9)
"Apa itu Ajaran Sosial Gereja?" - bersama Romo Ismartono, SJ. (Sesi 1/9)
Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan
“Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...
-
Pembuat/Sumber Konten: Isi infografis ini didasarkan pada ajaran resmi Gereja Katolik yang diterbitkan oleh Takhta Suci (Vatikan). Berbag...
-
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Injil memperlihatkan kepada kita Rasul Tomas, seorang murid yang jujur dalam keraguan...
-
Magnifica Humanitas terutama menyentuh hati pembaca melalui penegasan tentang martabat manusia sebagai citra Allah (Imago Dei). Manusia...













