Rabu, 28 Oktober 2026

Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

        “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/10/2026), untuk memperingati Sumpah Pemuda. Kegiatan ini digagas Yayasan Sinergi Perempuan Indonesia, Sahabat Insan, dan Perempuan Berkebaya Indonesia. Bertema “Meningkatkan Potensi Produk Kearifan Lokal NTT untuk Lebih Mendunia”, acara mempertemukan komunitas budaya, penenun, pelaku UMKM, akademisi, dan pemangku kebijakan. Melalui simposium, pameran, pertunjukan tari, peragaan busana, dan stan UMKM, penyelenggara memperkenalkan budaya NTT sekaligus mendorong pemberdayaan perempuan.

Rabu, 30 September 2026

DARI REGIMINI MILITANTIS ECCLESIAE MENUJU UAP: MENJADI GEREJA YANG BERJUANG DI ZAMAN INI

 


1. Diresmikan dengan Regimini Militantis Ecclesiae

Pada 27 September 1540, Paus Paulus III mengesahkan Serikat Yesus melalui bulla Regimini militantis Ecclesiae. Dengan pengesahan ini, Serikat Yesus yang didirikan oleh Santo Ignatius Loyola dan para sahabatnya secara resmi diterima dalam Gereja. Sejak awal, Serikat Yesus lahir bukan terutama untuk membangun dirinya sendiri, melainkan untuk diutus. Identitasnya dibentuk oleh kesiapsediaan untuk pergi ke mana pun diperlukan, melayani Gereja dan manusia, terutama ketika zaman menghadirkan tantangan baru bagi iman dan kehidupan.

Karena itu, tanggal 27 September mempunyai makna khusus bagi Serikat Yesus. Ia mengingatkan bahwa Serikat lahir dari sebuah panggilan untuk berjuang dan diutus.

Apa kata-kata Paus Leo XIV tentang migran, pengungsi dan sebagainya selama kunjungannya ke Perancis baru-baru ini?

 

Dalam kunjungan apostoliknya ke Prancis 25–28 September 2026, Paus Leo XIV beberapa kali berbicara langsung atau sangat dekat dengan isu migran, pengungsi, orang yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan, integrasi, perdagangan manusia, serta martabat manusia. Pernyataan paling penting muncul di UNESCO, Maison Bakhita di Paris, dan Metz.

 

1. Di UNESCO: migran dan pengungsi sebagai “ujian” martabat manusia

Dalam pidatonya di UNESCO, Paris, 25 September, Paus Leo XIV menyebut migran dan pengungsi bersama kelompok-kelompok yang paling rentan: “The touchstone by which we can assess our commitment is the care we show for the littlest and for the poor: … the elderly, migrants, refugees, and all those arrogantly excluded as unproductive.” Artinya: “Tolok ukur yang dengannya kita dapat menilai komitmen kita adalah perhatian yang kita tunjukkan kepada mereka yang paling kecil dan miskin: … kaum lanjut usia, para migran, para pengungsi, dan semua orang yang dengan angkuh disingkirkan karena dianggap tidak produktif.”

Kemudian ia memberikan penekanan yang sangat kuat: “They are the true test of our claims to respect human dignity.” — “Mereka adalah ujian nyata terhadap klaim kita untuk menghormati martabat manusia.”

Jadi, bagi Paus Leo XIV, persoalan migran dan pengungsi bukan sekadar persoalan administratif atau perbatasan. Cara sebuah masyarakat memperlakukan migran dan pengungsi menjadi salah satu ukuran apakah masyarakat itu sungguh menghormati martabat manusia.

 

2. Di Maison Bakhita: “tidak seorang pun begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan”

Pada 26 September, Paus Leo XIV mengunjungi Maison Bakhita, pusat pendampingan dan integrasi sosial bagi migran dan pengungsi di Paris. Di sana ia mengatakan sesuatu yang sangat menarik: “No one is so poor as to have nothing to give; no one is so rich as to have nothing to receive.” Terjemahan: “Tidak seorang pun begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan; tidak seorang pun begitu kaya sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diterima.”

Ini penting karena Paus Leo XIV tidak menggambarkan migran hanya sebagai orang yang membutuhkan bantuan. Migran juga dipandang sebagai subjek yang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada masyarakat penerima. Ia berbicara tentang “exchange of gifts” — pertukaran karunia yang terjadi dalam setiap perjumpaan.

Dengan demikian, integrasi bukan hanya: masyarakat menerima migran → migran menyesuaikan diri. Melainkan lebih merupakan: migran + masyarakat penerima → saling menerima dan saling memperkaya.

 

3. “It is possible to encounter one another and to live together”

Kalimat pembuka Paus Leo XIV di Maison Bakhita juga sangat kuat: “It is possible to encounter one another and to live together in dignity and peace.” Terjemahannya: “Adalah mungkin bagi kita untuk saling berjumpa dan hidup bersama dalam martabat dan damai.”

Ia melihat Maison Bakhita sebagai kesaksian konkret bahwa perjumpaan lintas asal-usul dan budaya bukan sesuatu yang mustahil. Ia bahkan berterima kasih kepada para pekerja dan relawan yang memberikan: “welcome, a listening ear, formation and friendship” yakni: “penyambutan, telinga yang mau mendengarkan, pembinaan, dan persahabatan.”

Ini menarik karena empat kata tersebut membentuk semacam model pastoral migrasi: bukan sekadar memberi bantuan material, tetapi menyambut – mendengarkan – membina – bersahabat.

 

4. Di Metz: jalur migrasi yang aman dan legal

Pernyataan paling eksplisit mengenai kebijakan migrasi disampaikan Paus Leo XIV di Metz, 28 September, dalam pertemuan “At the Roots of Europe for Peace and Unity.” Ia mengatakan bahwa Eropa sedang memasuki tahap baru sejarahnya karena kedatangan:“so many men and women fleeing war and persecution or seeking a better life far from poverty and hardship.” — “begitu banyak laki-laki dan perempuan yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan atau mencari kehidupan yang lebih baik, jauh dari kemiskinan dan kesulitan.”

Lalu ia mengutip kembali pernyataannya ketika mengunjungi Kepulauan Canary: “Human dignity demands legal and safe pathways, rescue and assistance, real cooperation against traffickers, effective protection for victims, serious processes of reception and integration, and policies that allow every person to live with dignity in their own land.” Ini dapat diterjemahkan: “Martabat manusia menuntut adanya jalur-jalur yang legal dan aman, penyelamatan dan bantuan, kerja sama nyata melawan para penyelundup/perdagangan manusia, perlindungan efektif bagi para korban, proses penerimaan dan integrasi yang sungguh-sungguh, serta kebijakan yang memungkinkan setiap orang hidup bermartabat di tanah airnya sendiri.”

Kalimat ini sangat penting karena merangkum enam unsur pendekatan Paus Leo XIV:

  1. jalur legal dan aman bagi migrasi;
  2. penyelamatan dan bantuan;
  3. kerja sama melawan para trafficker;
  4. perlindungan efektif bagi korban;
  5. penerimaan dan integrasi yang serius;
  6. pembangunan kondisi yang memungkinkan orang hidup bermartabat di negeri asalnya.

 

5. Tetapi: menerima saja tidak cukup — harus ada integrasi

Paus Leo XIV kemudian menambahkan kalimat yang menurut saya sangat penting: “However, this alone would not suffice.” — “Namun, semua itu saja belumlah cukup.”

Kemudian: “To welcome a person means to integrate them as if they were part of one’s own family.” Artinya: “Menyambut seseorang berarti mengintegrasikannya seolah-olah ia adalah bagian dari keluarga sendiri.”

Ia melanjutkan bahwa orang tersebut harus diberi kesempatan:“to develop their gifts, abilities and sensibilities, but also to enter into the life of the household.” — “untuk mengembangkan karunia, kemampuan dan kepekaan mereka, tetapi juga untuk masuk ke dalam kehidupan rumah tangga [masyarakat] itu.”

Jadi integrasi bagi Paus Leo XIV bukan sekadar memasukkan orang ke dalam sistem administrasi negara. Integrasi berarti menjadi bagian dari kehidupan bersama.

 

6. Migrasi sebagai perjumpaan bangsa dan budaya

Masih di Metz, Paus Leo XIV menggunakan kerangka yang lebih luas:“an unprecedented encounter between peoples and cultures” — “sebuah perjumpaan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara bangsa-bangsa dan kebudayaan-kebudayaan.”

Ia menghubungkan migrasi dengan tugas Eropa untuk: “rediscover our roots in new and creative ways, while at the same time listening carefully to others.” — “menemukan kembali akar-akarnya dengan cara-cara baru dan kreatif, sambil pada saat yang sama mendengarkan dengan sungguh-sungguh orang lain.”

Jadi migrasi tidak hanya dipandang sebagai masalah yang harus dikelola, tetapi juga sebagai perjumpaan historis antara bangsa dan budaya.

 

7. Ini sangat dekat dengan pesan Hari Migran dan Pengungsi 2026

Yang menarik, pernyataan Paus Leo XIV di Prancis sebenarnya konsisten dengan Pesan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-112 (2026), yang bertema: “Even just one of these children” — “Bahkan hanya satu dari anak-anak ini.”

Dalam pesan tersebut ia mengatakan bahwa persoalan migrasi harus bergeser dari sekadar “management of migration” menuju: “the full and immediate protection of human rights” — “perlindungan penuh dan segera terhadap hak-hak asasi manusia.”  Ia juga menyerukan perlindungan, penyambutan, reunifikasi keluarga, dan kesempatan integrasi bagi anak-anak migran dan pengungsi.

Kalau dirangkum dalam satu gagasan 

Benang merah pernyataan Paus Leo XIV di Prancis dapat dirumuskan demikian: Migran dan pengungsi bukan sekadar “persoalan migrasi”; mereka adalah manusia yang martabatnya menguji kualitas masyarakat kita. Dan ada semacam tiga tahap yang sangat jelas:


1. PROTECTION — perlindungan
Jalur legal dan aman, penyelamatan, perlindungan korban, melawan trafficker.

2. WELCOME — penyambutan
Menerima manusia yang datang karena perang, penganiayaan, kemiskinan atau kesulitan.

3. INTEGRATION — integrasi
Bukan sekadar membiarkan mereka tinggal, tetapi memungkinkan mereka menjadi bagian dari kehidupan bersama dan menyumbangkan karunia mereka.

Dan di atas semuanya terdapat prinsip: HUMAN DIGNITY — MARTABAT MANUSIA.

Ini juga sangat relevan dengan tema Talitha Kum/TPPO yang pernah dibahas: Paus Leo XIV secara eksplisit menghubungkan migrasi dengan traffickers, perlindungan korban, jalur migrasi aman, dan integrasi.

 

 

 

 

 

 

KUNJUNGAN APOSTOLIK PAUS LEO XIV KE PRANCIS, 25–28 SEPTEMBER 2026

MENGGEMAKAN TEMA-TEMA UTAMA  MAGNIFICA HUMANITAS


1. AI harus ditempatkan kembali di bawah martabat manusia

Di Élysée, 25 September, Paus mengatakan bahwa justru karena perkembangan teknologi dan AI, ia merasa perlu menjadikan kecerdasan buatan tema ensiklik pertamanya:

“...in my first Encyclical, the theme of Artificial Intelligence, in order to place the human person at the heart of all reflection.”

Ia kemudian memperingatkan agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah “paradise of machines” yang memasuki dan mengondisikan kehidupan sehari-hari. Karena itu diperlukan pendidikan bagi penilaian etis, agar manusia mampu mengenali apa yang secara moral baik. (Vatican Press)

Ini sangat dekat dengan garis besar Magnifica Humanitas: AI bukan pusat kehidupan manusia; manusia, martabatnya, kebebasan batinnya, dan kebaikan bersama harus tetap menjadi pusat.

 

APA YANG DIKATAKAN OLEH PAUS LEO XIV TENTANG PERAWATAN BUMI, OUR COMMON HOME, ISI LAUDATO SI', KETIKA BERKUNJUNG KE PERANCIS BARU-BARU INI?

 

1. “Ada satu bumi untuk semua”

Salah satu kalimat Paus yang paling penting adalah: “There is one earth for all and a common human nature.” Dalam bahasa Indonesia: “Hanya ada satu bumi untuk semua dan satu kodrat manusia yang sama.”

Paus kemudian mengatakan bahwa manusia tidak dapat dipahami dengan memisahkan hal-hal yang sebenarnya tak terpisahkan: tubuh dan jiwa, kehidupan pribadi dan relasi, hubungan dengan sesama dan hubungan dengan lingkungan.  Ini sangat dekat dengan jantung pemikiran Laudato Si’: manusia bukan makhluk yang berdiri di luar alam, melainkan bagian dari jaringan relasi kehidupan.

 

2. Kalimat yang sangat kuat: “Cultivating the earth…”

Paus Leo XIV mengatakan: “Cultivating the earth also means cultivating the humanity that inhabits it.” Saya kira terjemahan yang bagus: “Mengolah bumi berarti juga mengolah kemanusiaan yang mendiaminya.”

Ia menghubungkan kata culture dengan cultivation: kebudayaan pada dasarnya adalah tindakan “mengolah”. Jadi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang semakin mampu menguasai alam, tetapi manusia yang mampu merawat bumi sekaligus memanusiakan dirinya sendiri. Ini menarik sekali bila dikaitkan dengan gagasan pertobatan ekologis dalam Laudato Si’.

 

3. Paus Leo XIV secara eksplisit menyebut Laudato Si’

Ini bukan sekadar interpretasi. Paus sendiri mengatakan:“Pope Francis developed the perspective of integral ecology.” Kemudian ia secara eksplisit merujuk pada Laudato Si’, khususnya nn. 137–162, yaitu bagian mengenai ekologi integral.

Jadi, dalam kunjungan ke Prancis, Paus Leo XIV secara jelas menempatkan dirinya dalam kesinambungan dengan pemikiran ekologis Paus Fransiskus.

 

4. “Merawat manusia dan ciptaan bersama-sama”

Paus mengatakan:“I therefore renew the appeal of my predecessors to care together for the human person and for creation.” Artinya: “Karena itu saya memperbarui seruan para pendahulu saya untuk bersama-sama merawat pribadi manusia dan ciptaan.”

Di sini ada kata yang penting: together — bersama-sama. Ekologi bagi Paus Leo XIV bukan hanya urusan individu, Gereja, atau aktivis lingkungan. Ia menyangkut tanggung jawab bersama umat manusia, termasuk pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lembaga-lembaga internasional.

 

5. Siapa yang menjadi “ukuran” kepedulian ekologis?

Bagian ini sangat kuat dan sangat Laudato Si’.

Paus Leo XIV mengatakan bahwa ukuran komitmen kita dapat dilihat dari perhatian kepada “the littlest and the poor” — mereka yang paling kecil dan kaum miskin. Ia menyebut:

  • anak-anak,
  • korban perang,
  • penyandang disabilitas,
  • lansia,
  • migran dan pengungsi, dan
  • mereka yang disingkirkan karena dianggap tidak produktif.

Menurut Paus, mereka merupakan “the true test of our claims to respect human dignity” — ujian nyata atas klaim kita mengenai penghormatan terhadap martabat manusia. Dan perlindungan terhadap mereka juga meluas kepada ciptaan. Ini sangat dekat dengan prinsip Laudato Si’ bahwa “jeritan bumi” dan “jeritan kaum miskin” tidak dapat dipisahkan.

Menariknya, hal ini juga konsisten dengan Magnifica Humanitas yang ditulis Paus Leo XIV: ia menyebut Laudato Si’ sebagai ensiklik yang secara sistematis menghubungkan krisis ekologis dengan krisis sosial-ekonomi, serta menggabungkan perawatan our common home dengan pilihan mengutamakan kaum miskin.


6. Kritik terhadap pola eksploitasi

Paus Leo XIV kemudian memberikan kontras yang tajam:“consuming without safeguarding, destroying without cultivating.” Secara bebas: “mengonsumsi tanpa menjaga, menghancurkan tanpa mengolah.”

Ia menggambarkan lawannya sebagai kehendak untuk mengeksploitasi dan menjarah, mengambil sebanyak mungkin dari setiap makhluk hidup. Dengan demikian, persoalan ekologis bukan sekadar: “Bagaimana kita mengurangi sampah?” Tetapi lebih dalam: “Bagaimana kita mengubah cara manusia berelasi dengan bumi?”


7. Krisis ekologis adalah krisis antropologis

Inilah mungkin kalimat paling penting dari pidatonya: “Thus, the present ecological crisis is an anthropological crisis.” Terjemahannya: “Dengan demikian, krisis ekologis sekarang ini adalah krisis antropologis.”

Maksudnya: kerusakan bumi memperlihatkan adanya persoalan mengenai siapa manusia itu, bagaimana manusia memahami kebebasan, kebutuhan, kemajuan, konsumsi, teknologi, relasi dengan sesama, dan tanggung jawabnya terhadap ciptaan.

Jadi, bagi Paus Leo XIV, krisis ekologis bukan hanya masalah lingkungan; ia adalah masalah tentang manusia.  

 

8. Ada hubungan dengan kritik Laudato Si’ terhadap paradigma teknokratis

Pidato di UNESCO juga menarik karena Paus menghubungkan lingkungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia mengatakan bahwa teknologi baru harus tetap melayani pribadi manusia, bukan menjadi instrumen dominasi dan ketidakadilan. 

Ini sejalan dengan Laudato Si’ mengenai paradigma teknokratis: masalahnya bukan teknologi itu sendiri, tetapi ketika kemampuan teknis manusia berubah menjadi logika menguasai, mengeksploitasi, mengonsumsi dan membuang.

Dalam Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV bahkan mengembangkan gagasan ini lebih jauh: Laudato Si’ dikatakannya telah menunjukkan bahwa krisis ekologis merupakan aspek ekologis dari krisis sosial-ekonomi kontemporer, sekaligus mengkritik paradigma teknokratis yang memperlakukan segala sesuatu sebagai objek untuk didominasi.

 

9. Hubungannya dengan “our common home”

Jadi, kalau kita merangkum pesan Paus Leo XIV di Prancis, khususnya UNESCO, ada lima lingkaran yang saling berhubungan: 

MANUSIA
↓
RELASI DENGAN SESAMA
↓
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
↓
BUMI / CIPTAAN
↓
MASA DEPAN BERSAMA

 Karena itu our common home bukan sekadar istilah untuk planet bumi. Ia berarti rumah bersama tempat manusia, masyarakat dan seluruh ciptaan saling berhubungan. Dan di sinilah Paus Leo XIV meneruskan Laudato Si’: ekologi tidak boleh dipisahkan dari martabat manusia, kaum miskin, perdamaian, pendidikan, kebudayaan dan keadilan.

 

10. Bahkan lebih kuat lagi: “Babel” versus “Pentakosta”

Ini menarik sekali untuk proyek yang sebelumnya kita bahas mengenai Babel and public square of Pentecost.

Di UNESCO, Paus Leo XIV mengatakan bahwa eksploitasi yang merusak masyarakat dan lingkungan merupakan salah satu wajah “Babel”. Ia menghubungkannya dengan globalisasi tanpa persaudaraan, neokolonialisme dan ilmu pengetahuan yang direduksi menjadi teknik kekuasaan.

Sebaliknya, Pentakosta adalah gambaran masyarakat yang berbeda: keberagaman tidak dihancurkan, tetapi dipersatukan melalui komunikasi, dialog, perdamaian dan pencarian kebaikan bersama.

Dengan demikian, kita dapat membaca pesan ekologis Paus Leo XIV di Prancis seperti ini:

  • Babel: menguasai → mengeksploitasi → mengonsumsi → menghancurkan → memecah-belah.
  • Pentakosta: mendengarkan → berdialog → merawat → bekerja bersama → membangun rumah bersama.

Ini sebenarnya memberikan pembacaan baru yang sangat kuat terhadap Laudato Si’: our common home hanya dapat dirawat kalau manusia juga membangun common humanity — kemanusiaan bersama.

Dan ini bukan pesan yang muncul hanya sekali. Pada 1 September 2026, dalam Misa untuk Perawatan Ciptaan di Borgo Laudato Si’, Paus Leo XIV juga menyerukan pertobatan ekologis, mengatakan bahwa “belum terlambat” untuk mengubah apa yang telah digunakan untuk kehancuran menjadi sesuatu yang memberi kehidupan dan merawat kaum miskin, memberi makan yang lapar, serta melindungi ciptaan.

Benang merah Paus Leo XIV di Prancis sangat jelas: Laudato Si’ tidak ditinggalkan. Justru gagasan “ekologi integral” dibawa masuk ke dalam pembicaraan tentang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, teknologi, kemiskinan, migrasi, perdamaian dan masa depan umat manusia.

 

Sabtu, 26 September 2026

Pesan Paus Leo XIV

 


Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Sedunia bagi Perawatan Ciptaan 2026 menghubungkan perdamaian, pertobatan hati, dan pertobatan ekologis. Perang dan kerusakan bumi dipandang saling berkaitan dengan kondisi hati manusia. Karena itu, energi dan sumber daya yang digunakan untuk kehancuran diarahkan menjadi kekuatan untuk kehidupan, keadilan, pengentasan kemiskinan, perlindungan martabat manusia, dan perawatan ciptaan. Intinya: transformasi hati melahirkan perdamaian dan pertobatan ekologis yang utuh.

Senin, 21 September 2026

HASIL PEMBACAAN DAN REFLEKSI BAB 1 MAGNIFICA HUMANITAS

 

Magnifica Humanitas terutama menyentuh hati pembaca melalui penegasan tentang martabat manusia sebagai citra Allah (Imago Dei). Manusia dipandang tetap memiliki keluhuran dan keunikan yang tidak dapat digantikan oleh mesin maupun kecerdasan buatan. Pembaca juga merasa diteguhkan untuk menerima keterbatasan dan kelemahan manusia sebagai bagian dari kenyataan hidup.

Karena itu, manusia dipanggil untuk tetap menjadi manusia seutuhnya di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. AI dan teknologi dipandang sebagai talenta yang harus digunakan secara bijaksana, kritis, dan bertanggung jawab. Teknologi hendaknya diabdikan bagi kebaikan bersama, pelayanan sosial, dan pengurangan penderitaan, bukan bagi kekuasaan atau kesombongan.

Kamis, 17 September 2026

Istilah Common Home Dipergunakan Di sini

 





35. The theme of dialogue with the various religions, to be promoted and cultivated, is also clearly reaffirmed in the Joint Declaration with Ecumenical Patriarch Bartholomew I of 29 November 2025: “We reject any use of religion and the name of God to justify violence. We believe that authentic interreligious dialogue, far from being a cause of syncretism and confusion, is essential for the coexistence of peoples of different traditions and cultures. Mindful of the 60th anniversary of the Declaration Nostra Aetate, we exhort all men and women of good will to work together to build a more just and supportive world, and to care for creation, which is entrusted to us by God. Only in this way can the human family overcome indifference, desire for domination, greed for profit, and xenophobia.”[73]Seen in this light, the dialogue that unfolds in the wake of Nostra Aetate is not merely a theoretical exercise but a shared ethical and spiritual commitment, directed toward peace, justice, and the care of our common home.

Rabu, 16 September 2026

MENJADI ALAT KASIH ALLAH DI TENGAH GEMPA NTT KEGIATAN PARA SUSTER FMM

 


Pada 15 Agustus 2026, ketika tiga Suster FMM sedang mengikuti Misa secara online di biara, terjadi guncangan gempa yang cukup kuat. Saat hendak membagikan Komuni, salah seorang suster membuka tabernakel dan merasakan guncangan tersebut. Di biara, tidak terjadi kerusakan serius. Namun, pengalaman itu mendorong para suster untuk keluar dan melihat keadaan umat yang terdampak. Mereka kemudian mengunjungi umat, terutama mereka yang membutuhkan perhatian dan bantuan setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT).

Senin, 14 September 2026

Cara Mudah Memahami Ensiklik Laudato Si’ Melalui Komik dan Katekismus

 



Buku yang bagus tidak akan berdampak jika hanya tergeletak bisu di atas meja. 

Banyak orang peduli pada isu lingkungan dan ingin membaca Ensiklik Laudato Si', tetapi bingung harus mulai dari mana. Melalui pendekatan yang proaktif, ramah, dan komunikatif. 

UANG ADALAH KOTORAN/TAHI IBLIS

 Dari Santo Basilius Agung, Santo Fransiskus dari Assisi, sampai Paus Fransiskus

Ada sebuah ungkapan yang terdengar kasar, bahkan mengejutkan:

Pecunia est stercus diaboli.
“Uang adalah kotoran/tahi Iblis.”

Mengapa uang, sesuatu yang dalam kehidupan sehari-hari kita perlukan, disebut kotoran/tahi Iblis?

Ungkapan ini mempunyai sejarah panjang dalam tradisi Kristiani. Paus Fransiskus pada 28 Februari 2015, ketika berbicara kepada para anggota Konfederasi Koperasi Italia, secara eksplisit mengatakan bahwa Santo Basilius dari Kaisarea, Bapa Gereja abad ke-4, mengatakan bahwa “uang adalah kotoran/tahi Iblis”, dan bahwa ungkapan itu kemudian diambil kembali oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Paus Fransiskus lalu mengulanginya sendiri: “Sekarang Paus juga mengulanginya: uang adalah kotoran Iblis!”

Namun, ungkapan ini perlu dipahami dengan tepat. Bukan berarti uang pada dirinya sendiri jahat. Yang dikritik adalah uang yang telah berubah menjadi kekuasaan atas manusia uang yang menjadi tujuan hidup, berhala, sumber ketamakan, korupsi, eksploitasi, dan ketidakadilan.

Kamis, 10 September 2026

MENGAJAR TIDAK SAMA DENGAN MENDIDIK

Refleksi bagi Para Pendidik Indonesia di Zaman Kecerdasan Buatan


Kita hidup dalam zaman ketika pengetahuan berada di ujung jari. Dengan telepon genggam, seorang anak dapat menemukan jawaban atas hampir segala pertanyaan dalam hitungan detik. Dengan kecerdasan buatan, sebuah tulisan dapat dibuat, sebuah persoalan dapat diringkas, sebuah bahasa dapat diterjemahkan, bahkan sebuah jawaban dapat diberikan sebelum seseorang sempat sungguh-sungguh berpikir. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu bertanya kembali: untuk apa sekolah? Untuk apa guru? Dan sebenarnya apa arti mendidik?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting bagi para pendidik Indonesia. Sebab ada perbedaan yang sangat mendasar antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran terutama berkaitan dengan menyampaikan pengetahuan, konsep, teori, informasi, dan keterampilan. Pendidikan jauh lebih luas. Pendidikan menyentuh manusia seluruhnya: cara berpikir, cara merasa, cara memilih, cara mencintai, cara hidup bersama orang lain, cara mengambil keputusan, dan kemampuan menemukan makna kehidupan.

Dengan kata lain, pengajaran terutama bertanya: “Apa yang harus diketahui?” Pendidikan bertanya lebih dalam: “Menjadi manusia macam apakah anak ini kelak?”

Inilah salah satu pesan penting Magnifica Humanitas, ensiklik Paus Leo XIV yang berbicara mengenai martabat manusia dalam menghadapi perubahan besar yang dibawa oleh teknologi dan kecerdasan buatan.


Sekolah bukan sekadar tempat memindahkan pengetahuan

Dalam Ensiklik Magnifica Humanitas no. 143, Paus Leo XIV melihat sekolah sebagai tempat generasi muda belajar mencari dan mencintai kebenaran, merefleksikan makna kehidupan, dan mengenali martabat setiap pribadi. Sekolah dengan demikian bukan sekadar tempat memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala murid.

Guru matematika tentu harus mengajarkan matematika. Guru sejarah harus mengajarkan sejarah. Guru bahasa harus mengajarkan bahasa. Guru agama harus mengajarkan agama. Semua itu penting. Tetapi pendidikan berhenti menjadi pendidikan apabila murid hanya keluar dari sekolah dengan kepala penuh informasi, tetapi tidak tahu untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Seorang siswa dapat memperoleh nilai sembilan dalam ujian, tetapi belum tentu memiliki kejujuran. Ia dapat menguasai teknologi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan. Ia dapat memenangkan perdebatan, tetapi belum tentu mampu menghormati orang yang berbeda pendapat. Ia dapat memperoleh gelar akademik yang tinggi, tetapi belum tentu tahu bagaimana menjalani hidup yang bermakna.

Di sinilah perbedaan antara mengajar dan mendidik menjadi sangat penting.


Mengajar memberi pengetahuan; mendidik membentuk pribadi

Pengajaran memberikan isi kepada pikiran. Pendidikan membantu membentuk arah hidup.
Pengajaran bertanya apakah siswa memahami sebuah rumus. Pendidikan bertanya apakah ia mampu menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan.

Pengajaran mengajarkan bagaimana membuat suatu teknologi. Pendidikan membantu anak bertanya: “Apakah teknologi ini sebaiknya digunakan? Untuk siapa? Dengan akibat apa bagi manusia lain?”
Pengajaran dapat mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Pendidikan mempersiapkan seseorang untuk menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.

Karena itu, di tengah perkembangan kecerdasan buatan, kita tidak boleh menyamakan keberhasilan pendidikan dengan semakin banyaknya pengetahuan yang dapat diperoleh seorang anak. Justru ketika pengetahuan semakin mudah diperoleh, pendidikan manusia menjadi semakin penting.


Kecerdasan buatan mengubah tugas sekolah

Magnifica Humanitas mengingatkan bahwa pendidikan harus berhadapan secara serius dengan perkembangan teknologi. Dalam artikel no. 140, pendidikan mengenai kecerdasan buatan tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Kita juga perlu belajar kapan dan untuk tujuan apa teknologi itu tidak perlu digunakan.

Gagasan ini sangat penting. Anak harus belajar bahwa tidak setiap persoalan harus segera diberikan kepada kecerdasan buatan. Tidak setiap tugas harus dipercepat. Tidak setiap kesulitan harus segera dihilangkan.
  • Ada kesulitan yang justru mendidik.
  • Ada pertanyaan yang perlu dibiarkan terbuka.
  • Ada buku yang harus dibaca perlahan.
  • Ada persoalan yang harus direnungkan.
  • Ada jawaban yang harus ditemukan melalui pergulatan pribadi.
Jika seorang siswa selalu meminta kecerdasan buatan memberikan jawaban setiap kali ia mengalami kesulitan, ia mungkin menjadi semakin cepat memperoleh jawaban, tetapi belum tentu menjadi semakin mampu berpikir.

Karena itu, tantangan pendidikan bukan hanya mengajarkan anak menggunakan kecerdasan buatan. Tantangannya adalah membantu anak menggunakan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kecerdasannya sendiri.


Guru tidak kalah oleh kecerdasan buatan

Dalam Magnifica Humanitas no. 145, Paus Leo XIV menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan menuntut pembaruan kurikulum, ruang belajar, cara penilaian, dan bahkan pemahaman mengenai peran guru. Guru perlu terus belajar agar mampu berdialog secara positif dengan teknologi dan membantu siswa menggunakannya secara bertanggung jawab, kritis, dan kreatif.

Maka kita tidak perlu bertanya, “Apakah kecerdasan buatan akan menggantikan guru?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apa yang harus dilakukan guru yang tidak dapat dilakukan oleh mesin?"
  • Mesin dapat memberikan informasi. Guru membantu anak memahami makna informasi.
  • Mesin dapat menghasilkan jawaban. Guru membantu anak belajar mengajukan pertanyaan yang benar.
  • Mesin dapat menghitung. Guru membantu manusia mempertimbangkan apa yang pantas dilakukan.
  • Mesin dapat menghasilkan teks. Guru membantu anak menemukan suara, tanggung jawab, dan pendiriannya sendiri.
  • Mesin dapat bekerja tanpa lelah. Guru hadir sebagai pribadi yang membangun relasi.
Karena itu, masa depan pendidikan bukanlah guru melawan kecerdasan buatan, melainkan guru yang menggunakan teknologi tanpa menyerahkan pendidikan manusia kepada teknologi.


“Higiene perhatian”: pendidikan untuk kebebasan

Di sinilah kita sampai pada salah satu gagasan yang sangat penting dalam no. 146, yaitu perlunya menjaga apa yang dapat disebut sebagai “higiene perhatian”.

Kita mengenal higiene tubuh: mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, tidur cukup, dan menjaga kesehatan. Higiene perhatian mempunyai gagasan yang serupa, tetapi yang dijaga adalah pikiran dan kemampuan manusia untuk memperhatikan.

Hari ini perhatian manusia menjadi sesuatu yang sangat berharga. Telepon genggam, media sosial, video pendek, iklan, pemberitahuan, mesin pencari, dan berbagai sistem digital berlomba-lomba mendapatkan perhatian kita.

Akibatnya, kita dapat duduk di depan sebuah buku selama satu jam, tetapi pikiran kita berpindah-pindah setiap beberapa detik. Masalahnya bukan sekadar bahwa kita terganggu. Masalah yang lebih dalam adalah bahwa kita perlahan-lahan dapat kehilangan kemampuan untuk menentukan sendiri kepada apa kita akan memberikan perhatian.

Di sinilah persoalannya menjadi persoalan pendidikan dan kebebasan. Seseorang yang tidak mampu mengarahkan perhatiannya sendiri akan mudah diarahkan oleh orang lain.
  • Jika setiap pemberitahuan membuat kita segera melihat telepon, perhatian kita sedang dikendalikan oleh perangkat.
  • Jika setiap judul berita membuat kita segera bereaksi sebelum membaca isinya, perhatian kita sedang dikendalikan oleh arus informasi.
  • Jika setiap video pendek membuat kita terus menggeser layar tanpa mampu berhenti, perhatian kita tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Karena itu, higiene perhatian sebenarnya adalah latihan kebebasan batin. Kita belajar mengatakan: “Saya memilih kepada apa saya memberikan perhatian.” Bukan: “Apa pun yang muncul di layar, saya harus memperhatikannya.”


Pendidikan harus mengajarkan kemampuan berhenti

Dalam Magnifica Humanitas no. 146, Paus Leo XIV memperingatkan bahwa banyaknya informasi tidak dengan sendirinya menghasilkan kebijaksanaan. Pendidikan membutuhkan penelitian, refleksi, discernment, membaca secara mendalam, dialog, dan keheningan. Ini merupakan tantangan besar bagi pendidikan Indonesia.

Anak-anak kita hidup dalam dunia yang penuh suara: pemberitahuan, video, pesan, iklan, komentar, permainan, berita, dan berbagai arus informasi. Mereka dapat berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa pernah berhenti cukup lama untuk bertanya: “Apa artinya semua ini?”

Karena itu sekolah harus menjadi tempat yang berbeda dari sekadar dunia digital. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar berhenti. Berhenti agar dapat membaca. Berhenti agar dapat mendengarkan. Berhenti agar dapat berpikir. Berhenti agar dapat bertanya. Berhenti agar dapat berdialog. Dan, bila perlu, berhenti agar dapat diam. Berhenti bukan tujuan akhir. Berhenti adalah ruang yang memungkinkan manusia kembali membaca, mendengarkan, berpikir, bertanya, berdialog, dan akhirnya menemukan keheningan.

Keheningan bukan waktu yang terbuang. Keheningan adalah ruang tempat pikiran bekerja dan hati nurani berbicara. Manusia tidak menjadi bijaksana karena menerima semakin banyak informasi. Manusia menjadi bijaksana ketika ia mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menjadi tindakan yang bertanggung jawab.


Jangan sampai sekolah hanya menghasilkan “orang pintar”

Inilah bahaya pendidikan yang hanya mengejar prestasi akademik.
  • Kita dapat menghasilkan anak-anak yang pandai mengerjakan soal, tetapi tidak mampu mengambil keputusan moral.
  • Kita dapat menghasilkan lulusan dengan banyak sertifikat, tetapi miskin kepedulian sosial.
  • Kita dapat menghasilkan manusia yang sangat kompeten secara teknis, tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesamanya.
  • Kita dapat menghasilkan orang yang mampu menciptakan teknologi, tetapi tidak pernah bertanya apakah teknologi itu menghormati martabat manusia.
Maka pendidikan yang baik tidak cukup menghasilkan orang pintar. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang bijaksana. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah

Dalam artikel no. 147, Magnifica Humanitas berbicara tentang perlunya “aliansi pendidikan yang diperbarui” antara keluarga, sekolah, komunitas Kristiani, dan lembaga-lembaga publik. Pendidikan harus membentuk kebebasan dan tanggung jawab, perhatian kepada sesama dan generasi mendatang, kesadaran akan transendensi, serta orientasi kepada kebaikan bersama.

Dengan demikian, mendidik bukan hanya tugas guru. Orang tua mendidik. Guru mendidik. Dosen mendidik. Masyarakat mendidik. Media mendidik. Lingkungan digital juga mendidik. Pertanyaannya kemudian bukan hanya “Apa yang diajarkan sekolah?”, tetapi juga “Nilai-nilai apa yang sedang dipelajari anak dari seluruh lingkungan hidupnya?”

Seorang guru dapat mengajarkan kejujuran selama satu jam. Tetapi jika anak melihat kebohongan, korupsi, kekerasan verbal, manipulasi, dan ketidakadilan setiap hari di sekelilingnya, ia menerima pelajaran lain yang mungkin jauh lebih kuat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama.


Sekolah tidak perlu berlari mengikuti kecepatan dunia digital

Salah satu tantangan terbesar pendidikan adalah godaan untuk selalu mengejar yang terbaru: perangkat terbaru, aplikasi terbaru, metode terbaru, dan kecerdasan buatan terbaru.

Padahal sekolah tidak harus menjadi tempat yang paling cepat. Sekolah harus menjadi tempat yang paling manusiawi. Sekolah harus menyediakan waktu untuk belajar dan relasi yang dapat dipercaya. Di sana seorang anak boleh melakukan kesalahan tanpa dipermalukan. Di sana ia belajar mendengarkan orang lain. Di sana ia menemukan guru yang bukan hanya mengetahui sesuatu, tetapi sungguh-sungguh peduli kepadanya. Di sana ia belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menjadi yang pertama, tetapi juga tentang membantu orang lain agar dapat maju bersama. Di sana ia belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya alat untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga panggilan untuk melayani kehidupan dan kebaikan bersama.


Dari informasi menuju kebijaksanaan

Kita dapat melihat perjalanan pendidikan manusia dalam sebuah rangkaian sederhana:
Informasi → perhatian → pemahaman → refleksi → penilaian → kebijaksanaan → tindakan.

Kecerdasan buatan sangat kuat dalam menyediakan informasi dan dapat membantu manusia memahami sesuatu. Tetapi manusia tetap harus menjalani tahap refleksi, penilaian moral, kebijaksanaan, dan keputusan.

Karena itu pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan: “Apakah siswa tahu?” Ia harus bergerak kepada: “Apakah siswa memahami?” Lalu: “Apakah ia mampu membedakan yang benar dari yang salah?” Dan akhirnya: “Apakah ia mampu menggunakan pengetahuannya demi kebaikan?”

Di sinilah pendidikan berbeda dari sekadar pengajaran.


Kepada para pendidik Indonesia

Maka kepada para guru, dosen, kepala sekolah, pengelola pendidikan, orang tua, dan semua yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia, Magnifica Humanitas mengajukan sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendasar: Apakah kita hanya sedang mengajar anak-anak, atau sungguh-sungguh sedang mendidik mereka?
  • Mengajar membuat mereka mengetahui. Mendidik membantu mereka memahami.
  • Mengajar memberi keterampilan. Mendidik membentuk karakter.
  • Mengajar mempersiapkan mereka menghadapi ujian. Mendidik mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.
  • Mengajar dapat membuat seseorang kompeten. Mendidik membantu seseorang menjadi manusia.
Di tengah kemajuan kecerdasan buatan, perbedaan ini menjadi semakin penting. Justru ketika mesin semakin mampu melakukan pekerjaan yang dahulu dilakukan manusia, pendidikan harus semakin serius melakukan apa yang tidak boleh direduksi menjadi pekerjaan mesin: membentuk hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, kemampuan mencintai, kemampuan hidup bersama, dan keberanian mencari kebenaran.

Maka janganlah kita takut bahwa kecerdasan buatan akan membuat guru tidak diperlukan. Yang harus kita takutkan justru sebaliknya: jangan sampai kita memiliki sekolah yang sangat modern, teknologi yang sangat canggih, dan siswa yang sangat pintar, tetapi kehilangan pendidikan yang membuat mereka sungguh-sungguh manusia. Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah menciptakan manusia yang mampu mengetahui segala sesuatu.

Tujuan pendidikan adalah membantu manusia mengetahui apa yang benar, mencintai apa yang baik, menghargai martabat setiap orang, mampu menjaga perhatiannya, dan berani melakukan apa yang benar demi kebaikan bersama. Itulah tantangan pendidikan Indonesia di zaman kecerdasan buatan.

Dan itulah pula panggilan mulia para pendidik: bukan hanya mengisi kepala manusia dengan pengetahuan, tetapi membantu membentuk manusia yang bebas, bijaksana, bertanggung jawab, dan mampu menggunakan pengetahuannya untuk kehidupan.


I. Ismartono, SJ
Sahabat Insan
September 2026

Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

          “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...