Senin, 24 November 2025

Laudato Si’ sebagai Motor Transformasi Budaya Gereja: Suatu Pembacaan melalui Kerangka Edgar Schein

https://www.druckerforum.org/blog/the-20th-century-most-influential-management-thinker-by-annika-steiber/

Gereja Katolik dewasa ini menghadapi perubahan besar yang menuntut pembaruan cara berpikir dan cara bermisi. Krisis ekologis, perdagangan manusia, ketidakadilan sosial, dan percepatan perubahan budaya memaksa Gereja untuk menilai ulang cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Dalam konteks ini, Laudato Si’ tampil bukan sekadar sebagai dokumen magisterium, tetapi sebagai pemantik transformasi budaya menurut logika yang dijelaskan oleh Edgar H. Schein.

Schein menggambarkan budaya organisasi seperti air: dapat membeku (freeze) menjadi bentuk yang stabil, mencair (unfreeze) ketika bentuk lama tidak lagi memadai, dan membeku kembali (refreeze) dalam bentuk baru yang lebih relevan. Dalam kerangka ini, budaya terdiri dari tiga lapisan: artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar.


Jumat, 14 November 2025

COP 30 di Brazil - 2

 




Terjemahan: 

Selamat datang di hari keempat COP-30 di Belém, Brasil. Salah satu isu kunci yang dibahas dalam COP-30 di Belém adalah mengenai transisi yang adil (just transitions). Para negara pihak dalam UNFCCC mulai membahas isu ini dalam kerangka Just Transition Work Programme. Namun, topik pembahasan kemarin menjadi kekecewaan besar bagi masyarakat sipil. Mengapa? Karena Just Transition Work Programme mulai membahas Pasal 11, yang di dalamnya membahas praktik terbaik, modalitas, dan solusi untuk transisi yang adil. Namun, beberapa negara sangat menentang penggunaan bahasa mengenai hak asasi manusia dalam diskusi tersebut.

Ini merupakan bagian dari strategi untuk menghapus bahasa hak asasi manusia dan menggantinya dengan bahasa yang lebih ramah terhadap bahan bakar fosil. Ada beberapa negara, seperti negara-negara Teluk dan negara-negara Arab, yang mendorong isu bahan bakar fosil—mereka ingin bahan bakar fosil menjadi bagian dari solusi transisi yang adil. Di sisi lain, ada pula beberapa negara yang berusaha mengeluarkan bahasa hak asasi manusia dari pembahasan.

Kami bekerja sama dengan beberapa negara yang mendukung isu partisipasi berbasis hak asasi manusia, terutama negara-negara yang memiliki visi tentang pentingnya peran masyarakat adat. Hari ini, diskusi akan kembali berlangsung dan akan terus berlanjut. Kami khawatir bahwa bahasa mengenai hak asasi manusia akan diperlemah. Karena itu, kami mencoba berdiskusi dengan sejumlah negara dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan bahwa bahasa mengenai hak asasi manusia dapat dimasukkan kembali, dan bahwa bahasa yang mendukung bahan bakar fosil perlu dikeluarkan dari pembahasan mengenai transisi yang adil.

Akan ada perkembangan lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang. Terima kasih.


Selasa, 11 November 2025

PRIORITAS DALAM HIDUP MANUSIA

 

Teks lengkap dokumen tersebut beserta terjemahan dalam Bahasa Indonesia, dapat diunduh melalui link berikut:  

https://drive.google.com/drive/folders/1mLDonB55LM2G1kzEh0JFCJ6qwi10fpCS?usp=sharing

PRIORITAS DALAM HIDUP MANUSIA - RANGKUMAN

 1. Hidup manusia dipenuhi pilihan yang menuntut kemampuan menentukan apa yang paling penting dan harus didahulukan.

2. Kesadaran akan prioritas bukan hanya soal efisiensi, tetapi arah moral dan makna hidup.

3. Secara etimologis, prioritas berarti “yang lebih dahulu” atau “yang lebih penting”.

4. Menurut Aristoteles, tindakan manusia diarahkan pada kebaikan tertinggi (the good).

5. Thomas Aquinas menekankan “ordo amoris”, yaitu mencintai hal-hal dalam urutan yang benar sesuai kehendak Allah.

6. Filsafat klasik membagi prioritas menjadi tiga: necessarium (yang perlu), utile (yang berguna), dan iucundum (yang menyenangkan).

7. Urutan ini mengajarkan bahwa kebutuhan dasar harus didahulukan sebelum hal yang berguna dan menyenangkan.

8. Aristoteles, Aquinas, Pascal, Kant, dan Covey menegaskan pentingnya penataan prioritas dalam hidup manusia.

9. Pascal mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam urusan fana dan melupakan yang kekal.

10. Covey memperbarui prinsip klasik ini melalui konsep “First Things First” dalam *The 7 Habits of Highly Effective People*.

11. Dunia modern sering membalikkan urutan prioritas dengan menempatkan kesenangan di atas kebutuhan.

12. Spiritualitas Ignasian menghidupkan kembali prinsip klasik itu menjadi latihan rohani: menimbang pilihan dengan tatanan kasih.

13. Ignatius Loyola menegaskan bahwa yang perlu adalah yang mengarah pada kemuliaan Allah, sedangkan yang menyenangkan baik sejauh selaras dengan itu.

14. Dalam praktiknya, prinsip Ignasian tampak dalam magis, indiferencia, dan discernimiento.

15. Covey kemudian menambahkan *The 8th Habit*: menemukan panggilan dan menginspirasi orang lain.

16. Prioritas yang benar membawa manusia dari efektivitas menuju keagungan dan makna hidup.

17. Prinsip ini juga berlaku bagi pemerintahan: penuhi kebutuhan dasar rakyat sebelum mengembangkan hal-hal yang menyenangkan.

18. Bagi siswa SMA, teori necessarium–utile–iucundum dapat membantu memilih jurusan kuliah yang bermakna bagi diri dan bangsa.

19. Orang tua diajak menuntun anak menimbang pilihan berdasarkan panggilan, bukan gengsi atau keuntungan ekonomi.

20. Kesadaran prioritas adalah disiplin moral dan spiritual yang menuntun manusia menuju kebebasan, kedewasaan, dan kebijaksanaan sejati. (Jakarta, 8 Desember, 2025)

Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

          “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...