Senin, 22 Desember 2025

Laudato Si’ dalam Konteks Indonesia: Tantangan Lingkungan, Kedaulatan Rakyat dan Aksi Struktural

 

Teks lengkap dokumen tersebut dapat diunduh melalui link berikut:  

https://drive.google.com/file/d/1rD7BL0FESQsdI6GCGU0PNOqDEEyObSxE/view?usp=sharing

Undangan Terbuka - Mendalami Laudato Si'

Bersama Rm Ismartono, SJ dengan panduan buku Katekismus Laudato Si'

Hari/Tgl.: Senin/22 Desember 2025

Waktu: 19:00-21:00WIB

Online via Zoom

https://telkomsel.zoom.us/j/95751949335?pwd=EY6OcPa1tmVId8SMWd2IDzzLXapbJA.1

Meeting ID: 957 5194 9335

Passcode: GLSI

Mari bergabung para animator LS dan jejaring LS. Ditunggu kehadirannya. Tuhan Memberkati. 

Selasa, 16 Desember 2025

Homo Faber, Animal Laborans dan Kita di Indonesia: Kerja, Akal Budi, dan Krisis Alam


Banjir bandang, longsor, kebakaran hutan, krisis air bersih, dan konflik agraria bukan lagi peristiwa luar biasa di Indonesia. Ia hadir berulang, nyaris rutin. Karena itu, krisis ekologis tidak cukup dibaca sebagai kegagalan teknis atau lemahnya penegakan hukum semata. Ia menyentuh lapisan yang lebih dalam: cara kita memahami manusia, kerja, dan relasi dengan alam.

Dalam sejarah pemikiran, manusia pernah disebut animal rationale, binatang yang  berakal budi. Dengan akalnya, manusia mampu menimbang baik-buruk, tujuan dan batas. Namun modernitas kemudian menajamkan gambaran lain: manusia sebagai homo faber, manusia sebagai  pembuat, dan sebagai animal laborans, binatang makhluk yang bekerja demi bertahan hidup. Ketiga gambaran ini membantu kita membaca wajah manusia Indonesia hari ini.

Sebagai homo faber, manusia Indonesia tampak dalam proyek-proyek besar pembangunan: jalan tol, bendungan, kawasan industri, pertambangan dan perkebunan skala luas. Dengan akal dan teknologi, manusia membentuk lanskap baru. Gagasan ini sudah lama berakar dalam filsafat Barat, tetapi memperoleh artikulasi modern pada awal abad ke-20, terutama melalui Henri Bergson dan kemudian Hannah Arendt. Kerja dipahami sebagai kemampuan kreatif untuk membangun dunia yang “lebih baik” dan lebih efisien.

Masalahnya muncul ketika homo faber kehilangan dimensi rationalnya. Ketika akal budi direduksi menjadi sekadar rasionalitas teknis dan ekonomi, alam diperlakukan sebagai objek. Hutan dilihat sebagai kayu, tanah sebagai konsesi, sungai sebagai saluran limbah. Dalam situasi ini, manusia tampil bukan sebagai perawat alam, melainkan sebagai penguasa alam. Gambaran ini jelas lebih dekat dengan homo faber teknokratis, bukan dengan manusia sebagai makhluk berakal budi yang bermoral.

Di sisi lain, sebagian besar warga Indonesia hidup dalam realitas animal laborans. Bagi jutaan petani kecil, nelayan, buruh harian, dan pekerja sektor informal, kerja adalah soal bertahan hidup. Pepatah Melayu lama menggambarkannya dengan tepat: “Kais pagi makan pagi, kais petang makan petang.” Hidup berlangsung dari hari ke hari, tanpa jaminan, tanpa tabungan ekologis maupun ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, tuntutan untuk menjaga lingkungan sering terasa abstrak, bahkan tidak adil.

Hannah Arendt, dalam The Human Condition (1958), menunjukkan bahwa animal laborans hidup dalam siklus tanpa akhir: bekerja – mengonsumsi - bekerja lagi. Bila seluruh energi manusia habis untuk bertahan hidup, ruang refleksi menyempit. Kepedulian jangka panjang terhadap alam pun terdesak oleh kebutuhan hari ini. Maka kerusakan lingkungan sering kali bukan karena ketidakpedulian moral, melainkan karena ketiadaan pilihan.

Indonesia hari ini berada di persimpangan dua ekstrem ini. Di satu sisi, homo faber hadir dalam wajah negara dan korporasi dengan daya ubah besar atas alam. Di sisi lain, animal laborans hidup dalam kerentanan struktural. Yang sering absen adalah manusia sebagai animal rationale: subjek yang menggunakan akal budinya untuk menimbang kepentingan jangka panjang, keadilan antargenerasi, dan keseimbangan ciptaan.

Di sinilah ensiklik Laudato Si’ menjadi sangat relevan. Paus Fransiskus mengkritik paradigma teknokratis yang melihat manusia sebagai penguasa alam. Ia mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari ciptaan, manusia memiliki banyak kesamaan dengan Binatang, sehingga makluk ciptaan ini oleh Santo Fransiskus Asisi disapa dengan sapaan Saudara atau Saudari; Saudara Anjing, Saudara Matahari dan Saudari Bulan. Manusis bukan tuan atas alam. Kritik ini terutama ditujukan kepada homo faber yang kehilangan kendali etis. Namun Paus Fransiskus juga peka terhadap realitas animal laborans: mereka yang hidup dalam kemiskinan tidak bisa dibebani sendirian tanggung jawab ekologis.

Ensiklik Fratelli Tutti melengkapi gambaran ini dengan menekankan persaudaraan sosial. Krisis ekologis di Indonesia selalu terkait dengan ketimpangan: antara pusat dan daerah, antara pemilik modal dan pekerja, antara generasi sekarang dan yang akan datang. Tanpa solidaritas, seruan menjaga lingkungan akan terdengar sebagai moralitas kosong.

Karena itu, jalan ke depan bukan memilih antara homo faber atau animal laborans, melainkan mengembalikan keduanya ke dalam horizon animal rationale. Kita membutuhkan pembangunan, tetapi yang dibimbing oleh akal budi dan etika. Kita memahami kebutuhan rakyat kecil, tetapi sekaligus membebaskan mereka dari jebakan “kais pagi makan pagi, kais petang makan petang” yang memaksa eksploitasi alam tanpa henti.

Manusia sebagai penguasa alam jelas lebih dekat dengan homo faber yang bisa terlepas dari akal budi moral. Sebaliknya, manusia sebagai perawat alam hanya mungkin bila homo faber dan animal laborans dituntun oleh animal rationale: akal yang tahu batas, tahu cukup, dan tahu berbagi.

Sebagai seorang beriman, manusia telah diangkat menjadi anak Allah, menjadi Co-Creator yang merawat alam dan lingkungan yang adalah ciptaan Bapanya.

Pada akhirnya, krisis ekologis Indonesia adalah ujian tentang siapa kita mau menjadi: pembuat yang rakus, pekerja yang terjebak, atau manusia berakal budi yang merawat rumah bersama. Pilihan itu bukan teknis semata, melainkan moral dan politis dan waktunya semakin sempit. 

(I. Ismartono, SJ – Jakarta 16-12-2025)


Senin, 15 Desember 2025

Surat Natal 2025

  

SURAT NATAL 2025

(sapaan)

Seperti yang telah terjadi selama ini, menjelang Hari Raya Natal saya kembali menulis sepucuk surat sederhana. Niat saya tetap sama: mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang masih mengaruniakan hidup, napas dan kesempatan bagi kita untuk bersama-sama berdoa di depan Palungan Yesus, Sang Imanuel yang hadir menyertai perjalanan kita.

Pada kesempatan penuh rahmat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus atas kebersamaan kita selama ini. Kebersamaan yang tidak hanya membuat hidup lebih berarti, tetapi juga saling menyalakan inspirasi, keteguhan dan kekuatan dalam ziarah kehidupan yang tak selalu mudah. Dalam suka dan duka, kita saling menopang; dalam terang dan gelap, kita saling menuntun.

Saya juga menyampaikan terima kasih mendalam atas dukungan bagi karya Sahabat Insan, baik berupa doa, perhatian, maupun sumbangan. Semua dukungan ini memungkinkan kantor kecil kita terus berjalan, tetap memperhatikan korban migrasi paksa dan perdagangan manusia. Buah perhatian dan kemurahan hati Anda sekalian telah menjadi tanda nyata kasih Allah bagi mereka yang paling rentan.

Di tengah sukacita Natal, marilah kita bersama memohon kepada Tuhan hati yang selalu siap sedia untuk diutus: hati yang peka melihat Yesus yang hidup dalam diri mereka yang terluka, tersingkirkan dan membutuhkan. Semoga kita terus mendengar suara-Nya yang lembut namun tegas: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40)

Kita juga mohon keteguhan iman, agar Dia Tuhan dan Penyelamat kita yang selalu setia, tetap menuntun perjalanan hidup kita di tahun yang baru. Semoga Kristus membimbing langkah-langkah kita, menerangi keputusan-keputusan kita dan menghibur hati kita dalam setiap pergulatan.

Bersama ini saya sampaikan bahan renungan yang berjudul Mengasihi Maria, Kumpulan Doa-doa dan Latihan Rohani. Semoga ini dapat menjadi sebuah tanda kecil bahwa kita semua tidak berjalan sendirian, tetapi bersama Bunda Maria yang setia sejak memangku Bayi Yesus di Betlehem sampai memangku tubuh yang sama, tiga puluh tiga tahun kemudian di bawah salib. Semoga kita siap menerima rahmat kesetiaan juga.

Dengan penuh syukur dan harapan, saya mengucapkan:
Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Semoga damai Kristus, yang lahir dalam kesederhanaan Palungan, tinggal di hati kita dan memancarkan berkat bagi dunia.

 

Jakarta, Pertengahan Desember 2025

Ignatius Ismartono, SJ





Jumat, 12 Desember 2025

Beyond Limits 04: Bisnis Cuan, Lingkungan Terjaga!

Mari bergabung dalam seri ke-4 Beyond Limits: Bincang Rohani & Dunia Usaha. Kali ini, kita akan mengupas tuntas bagaimana nilai-nilai iman dan kepedulian lingkungan dapat berjalan selaras dengan keuntungan finansial.

Dengan tema "Taklukkan Rasa Takutmu: Dalam Bisnis yang Merawat Lingkungan Hidup.. ternyata ada CUAN-nya", kita akan belajar bahwa menjaga "Rumah Kita Bersama" bukan hanya tanggung jawab moral, tapi juga peluang inovasi yang menjanjikan.

Narasumber & Moderator:

  1. Rm. Ismartono, SJ (Rohaniawan)

  2. Andreas Djingga (Co-Founder JEJAKIN)

  3. Tony Tandra (Moderator)

Jadwal Acara:

  1. Hari/Tanggal: Jumat, 12 Desember 2025

  2. Waktu: Pukul 19.00 WIB

  3. Lokasi: Taman Doa Akita, PIK 2, Jakarta

Mengapa Anda Harus Hadir?

Acara ini terinspirasi dari Laudato Si, Ensilik Paus Fransiskus yang menitikberatkan pada kepedulian terhadap planet bumi sebagai ibu bagi semua makhluk. Di sini, Anda akan mendapatkan insight baru tentang bagaimana strategi bisnis masa depan adalah bisnis yang ramah lingkungan.

Pendaftaran: GRATIS (FREE)! Ayo ajak rekan bisnis, teman, dan keluarga Anda untuk hadir dan bertumbuh bersama.

Info Lebih Lanjut:

Follow Instagram: @beyondlimitsakita Atau scan QR Code yang tersedia pada poster untuk informasi tambahan.

"Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah" (2 Kor 3:5)

Menaklukkan Ketakutan demi Merawat Bumi


Materi lengkap dokumen tersebut dapat diunduh melalui link berikut: 
https://bit.ly/BeyondLimits_121225 

Taman Doa Akita, PIK 2, Jakarta, menjadi tempat acara inspiratif bertajuk "Beyond Limits 04: Taklukkan Rasa Takutmu dalam Bisnis yang Merawat Lingkungan Hidup" yang diselenggarakan pada Jumat, 12 Desember 2025. Bincang rohani dan dunia usaha ini menghadirkan rohaniwan Romo Ismartono, SJ, serta Andreas Djingga selaku Co-Founder Jejakin untuk membedah bagaimana nilai-nilai spiritualitas Kristiani dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Mengacu pada ensiklik Laudato Si' karya Paus Fransiskus, acara ini mengajak kita untuk menjaga "rumah kita bersama" bukan sekadar strategi korporasi, melainkan panggilan iman yang ternyata memiliki potensi keuntungan ekonomi atau "cuan" yang nyata.

Kamis, 11 Desember 2025

Dua Macam “Budaya”: Antara yang Bernilai Luhur dan yang Berkebiasaan Merusak dalam Dinamika Masyarakat

            


        Budaya adalah salah satu konsep paling kaya dalam ilmu kemanusiaan. Ia bukan hanya tari-tarian, rumah adat, bahasa ibu, atau ritual sosial, tetapi keseluruhan cara masyarakat memahami hidup, memaknai keberadaan dan bertindak dalam dunia. Dalam makna paling luas, budaya adalah cara manusia menjadi manusia. Namun, budaya tidak selalu mulia. Ada budaya yang meninggikan martabat, tetapi ada pula budaya yang menjerumuskan manusia dalam relasi yang tidak manusiawi. Karena itu, refleksi tentang budaya harus berani melihat dua sisi sekaligus: budaya luhur yang mengungkap nilai universal, serta budaya buruk yang muncul sebagai kebiasaan merusak.

Tulisan ini berusaha menguraikan keduanya secara lebih mendalam, sambil menyoroti pertarungan halus yang terjadi di dalam struktur sosial, kesadaran kolektif dan kehidupan sehari-hari suatu bangsa.

Launching Buku Suster Kargo

 


Apa jadinya jika suara pekerja migran dituturkan langsung dari hati seorang biarawati yang hidup bersama mereka? ✨

Buku Suster Kargo karya Sr. Laurentina SDP mengajak kita menyelami keberanian, luka, dan harapan para pejuang nafkah di negeri orang — manusia yang sering hanya dipandang sebagai “kargo” yang datang dan pergi. 📦💔


Launching Buku Suster Kargo

📅 Jumat, 12 Desember 2025

🕙 10.00 WIB – selesai

📍 Gedung OBOR Lt. 1, Jl. Gunung Sahari No. 91, Jakarta Pusat


Bersama:

Sr. Laurentina SDP (Penulis)

Romo Ignatius Ismartono SJ 


Akan ada sharing inspiratif dan penjualan buku perdana langsung ditandatangani penulis. ✍️📘

Kesempatan baik untuk memahami lebih dalam misi Gereja dalam mendampingi pekerja migran.

Informasi :

📱 0821 1415 6000 / (021) 422 2396

Senin, 08 Desember 2025

Energi Baru di Usia Menjelang Senja: Alumni Katolik Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti Perkuat Warisan Iman dalam Retret Akhir Pekan

 Jakarta, 8 Desember 2025 – Sebanyak 32 peserta dari total 36 peserta terdaftar, yang merupakan alumni Katolik Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Trisakti (USAKTI), berkumpul dalam suasana hangat dan penuh keakraban untuk mengikuti Retret Akhir Pekan untuk Sahabat di Usia Menjelang Senja, bertempat di Gedung Alphonsus - Kolese Kanisius.  

Retret ini juga dilaksanakan dalam rangka “Syukur atas Imamat Romo Ismartono, SJ ke-49”, sehingga kegiatan ini sekaligus menjadi ungkapan terima kasih atas dedikasi pelayanan dan pendampingan rohani beliau yang sejak masa muda telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak sahabat.

Mengambil tema besar “Mewariskan Iman, Harapan, dan Kasih: Energi Baru di Usia Menjelang Senja”, kegiatan ini berlangsung selama dua hari penuh, pada Sabtu, 6 Desember, hingga Minggu, 7 Desember 2025. Retret dibuka dengan Doa Rosario Sabtu Pertama dan diakhiri dengan Misa Penutup yang penuh syukur.

 

Retret yang berfokus pada peran dan misi spiritualitas di usia lanjut ini bertujuan memberikan peneguhan bahwa masa senja bukanlah akhir, melainkan panggung baru untuk mewariskan hikmat dan menjadi terang.


Selasa, 02 Desember 2025

JRS Indonesia Buka Donasi untuk Respons Darurat Banjir di Sumatera


 Bagi Anda yang berminat untuk menyampaikan bantuan, mohon langsung dikirim ke JRS (Jesuit Refugee Service) dengan nomor rekening sebagai berikut.

Senin, 24 November 2025

Laudato Si’ sebagai Motor Transformasi Budaya Gereja: Suatu Pembacaan melalui Kerangka Edgar Schein

https://www.druckerforum.org/blog/the-20th-century-most-influential-management-thinker-by-annika-steiber/

Gereja Katolik dewasa ini menghadapi perubahan besar yang menuntut pembaruan cara berpikir dan cara bermisi. Krisis ekologis, perdagangan manusia, ketidakadilan sosial, dan percepatan perubahan budaya memaksa Gereja untuk menilai ulang cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Dalam konteks ini, Laudato Si’ tampil bukan sekadar sebagai dokumen magisterium, tetapi sebagai pemantik transformasi budaya menurut logika yang dijelaskan oleh Edgar H. Schein.

Schein menggambarkan budaya organisasi seperti air: dapat membeku (freeze) menjadi bentuk yang stabil, mencair (unfreeze) ketika bentuk lama tidak lagi memadai, dan membeku kembali (refreeze) dalam bentuk baru yang lebih relevan. Dalam kerangka ini, budaya terdiri dari tiga lapisan: artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar.


Jumat, 14 November 2025

COP 30 di Brazil - 2

 




Terjemahan: 

Selamat datang di hari keempat COP-30 di Belém, Brasil. Salah satu isu kunci yang dibahas dalam COP-30 di Belém adalah mengenai transisi yang adil (just transitions). Para negara pihak dalam UNFCCC mulai membahas isu ini dalam kerangka Just Transition Work Programme. Namun, topik pembahasan kemarin menjadi kekecewaan besar bagi masyarakat sipil. Mengapa? Karena Just Transition Work Programme mulai membahas Pasal 11, yang di dalamnya membahas praktik terbaik, modalitas, dan solusi untuk transisi yang adil. Namun, beberapa negara sangat menentang penggunaan bahasa mengenai hak asasi manusia dalam diskusi tersebut.

Ini merupakan bagian dari strategi untuk menghapus bahasa hak asasi manusia dan menggantinya dengan bahasa yang lebih ramah terhadap bahan bakar fosil. Ada beberapa negara, seperti negara-negara Teluk dan negara-negara Arab, yang mendorong isu bahan bakar fosil—mereka ingin bahan bakar fosil menjadi bagian dari solusi transisi yang adil. Di sisi lain, ada pula beberapa negara yang berusaha mengeluarkan bahasa hak asasi manusia dari pembahasan.

Kami bekerja sama dengan beberapa negara yang mendukung isu partisipasi berbasis hak asasi manusia, terutama negara-negara yang memiliki visi tentang pentingnya peran masyarakat adat. Hari ini, diskusi akan kembali berlangsung dan akan terus berlanjut. Kami khawatir bahwa bahasa mengenai hak asasi manusia akan diperlemah. Karena itu, kami mencoba berdiskusi dengan sejumlah negara dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan bahwa bahasa mengenai hak asasi manusia dapat dimasukkan kembali, dan bahwa bahasa yang mendukung bahan bakar fosil perlu dikeluarkan dari pembahasan mengenai transisi yang adil.

Akan ada perkembangan lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang. Terima kasih.


Selasa, 11 November 2025

PRIORITAS DALAM HIDUP MANUSIA

 

Teks lengkap dokumen tersebut beserta terjemahan dalam Bahasa Indonesia, dapat diunduh melalui link berikut:  

https://drive.google.com/drive/folders/1mLDonB55LM2G1kzEh0JFCJ6qwi10fpCS?usp=sharing

PRIORITAS DALAM HIDUP MANUSIA - RANGKUMAN

 1. Hidup manusia dipenuhi pilihan yang menuntut kemampuan menentukan apa yang paling penting dan harus didahulukan.

2. Kesadaran akan prioritas bukan hanya soal efisiensi, tetapi arah moral dan makna hidup.

3. Secara etimologis, prioritas berarti “yang lebih dahulu” atau “yang lebih penting”.

4. Menurut Aristoteles, tindakan manusia diarahkan pada kebaikan tertinggi (the good).

5. Thomas Aquinas menekankan “ordo amoris”, yaitu mencintai hal-hal dalam urutan yang benar sesuai kehendak Allah.

6. Filsafat klasik membagi prioritas menjadi tiga: necessarium (yang perlu), utile (yang berguna), dan iucundum (yang menyenangkan).

7. Urutan ini mengajarkan bahwa kebutuhan dasar harus didahulukan sebelum hal yang berguna dan menyenangkan.

8. Aristoteles, Aquinas, Pascal, Kant, dan Covey menegaskan pentingnya penataan prioritas dalam hidup manusia.

9. Pascal mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam urusan fana dan melupakan yang kekal.

10. Covey memperbarui prinsip klasik ini melalui konsep “First Things First” dalam *The 7 Habits of Highly Effective People*.

11. Dunia modern sering membalikkan urutan prioritas dengan menempatkan kesenangan di atas kebutuhan.

12. Spiritualitas Ignasian menghidupkan kembali prinsip klasik itu menjadi latihan rohani: menimbang pilihan dengan tatanan kasih.

13. Ignatius Loyola menegaskan bahwa yang perlu adalah yang mengarah pada kemuliaan Allah, sedangkan yang menyenangkan baik sejauh selaras dengan itu.

14. Dalam praktiknya, prinsip Ignasian tampak dalam magis, indiferencia, dan discernimiento.

15. Covey kemudian menambahkan *The 8th Habit*: menemukan panggilan dan menginspirasi orang lain.

16. Prioritas yang benar membawa manusia dari efektivitas menuju keagungan dan makna hidup.

17. Prinsip ini juga berlaku bagi pemerintahan: penuhi kebutuhan dasar rakyat sebelum mengembangkan hal-hal yang menyenangkan.

18. Bagi siswa SMA, teori necessarium–utile–iucundum dapat membantu memilih jurusan kuliah yang bermakna bagi diri dan bangsa.

19. Orang tua diajak menuntun anak menimbang pilihan berdasarkan panggilan, bukan gengsi atau keuntungan ekonomi.

20. Kesadaran prioritas adalah disiplin moral dan spiritual yang menuntun manusia menuju kebebasan, kedewasaan, dan kebijaksanaan sejati. (Jakarta, 8 Desember, 2025)

Rabu, 22 Oktober 2025

Rabu, 01 Oktober 2025

Cultural Tourism: Nation Building or Neo-Colonialism Through the Lens of the Bandung Spirit

 Introduction

Cultural tourism, representing over 40% of global tourism activity (Richards 2018), is a dynamic force with dual potential: it can foster nation building by promoting cultural pride and unity or perpetuate neo-colonialism by commodifying local cultures for external gain. This paper examines this tension through the Bandung Spirit, the 1955 Asian-African Conference’s call for postcolonial solidarity, self-determination, and equality. By analysing cultural tourism’s role in Indonesia, this study explores whether it aligns with the Bandung Spirit’s principles or risks reinforcing neo-colonial dynamics.

Merawat Rumah, Menemani Yang Terusir: Keterpautan Laudato Si’ dan Arah Pastoral untuk Pengungsi Korban Perubahan Iklim

 

“Ketika orang kehilangan rumah karena bumi yang rusak,
Kristus kehilangan tempat-Nya untuk tinggal bersama umat-Nya.”

 

Sabtu, 27 September 2025

Gereja Dalam Gambar: Suara, Harapan, dan Perlawanan terhadap Perdagangan Manusia

Sumber ajaran: Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia


1. Apa itu perdagangan manusia menurut Gereja Katolik?

 Jawab:

Perdagangan manusia adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang mencederai martabat manusia, dengan eksploitasi sebagai tujuannya, melalui pemaksaan, penipuan, atau penyalahgunaan kekuasaan.

📖 Rujukan: Paragraf 5

Jumat, 22 Agustus 2025

“Superior Religius Modern,” Pedro Arrupe (1972)

“The Modern Religious Superior,” Pedro Arrupe (1972)

(Challenge to Religious Life Today: Selected Letters and Addresses—I, ed. Jerome Aixala. St. Louis: The Institute of Jesuit Sources, 1979, “The Modern Religious Superior,” pg. 79–94)



Senin, 11 Agustus 2025

Kamis, 07 Agustus 2025

Mengapa Banyak Orang Flores Menjadi Pekerja Migran?


Pulau Flores, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya dan kekayaan budayanya, tetapi juga karena banyak warganya yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Dari desa-desa di Larantuka, Maumere, Bajawa, hingga Ruteng, kisah anak muda Flores yang merantau ke luar negeri untuk mencari penghidupan lebih baik sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial. Lalu, mengapa banyak orang Flores menjadi PMI? Dan pekerjaan apa saja yang mereka lakukan di luar negeri?

Kamis, 10 Juli 2025

KELUARGA, WARISAN KASIH PAUS FRANSISKUS (2)


⚘Melanjutkan pembahasan tentang WARISAN dari Bpk Paus Fransiskus tentang KELUARGA di Episode sebelumnya, yuuk kita dengarkan lanjutannya secara lebih lengkap bersama dengan :

LAURENSIA LISA & M.I.A JEANNETTA 

NARSUM : RM. IGN. ISMARTONO SJ 

⚘Sesi ke 2 obrolan ini telah ditayangkan dengan judul yang sama , yaitu “ KELUARGA, WARISAN KASIH PAUS FRANSISKUS (2)“

Yuuk bagikan video ini, agar semakin banyak yang merasakan warisan Bpk Paus Fransiskus yang indah ini. Tuhan memberkati 🙏

KELUARGA, WARISAN KASIH PAUS FRANSISKUS (1)


⚘Salah satu WARISAN yang sangat berharga dari Bpk Paus Fransiskus adalah tentang KELUARGA.

⚘ Selama ini mungkin kita hanya mengetahuinya sepotong -sepotong. Yuuk dengarkan pembahasannya secara lebih lengkap bersama dengan : LAURENSIA LISA & M.I.A JEANNETTA

NARSUM : RM. IGN. ISMARTONO SJ 

⚘Obrolan ini dibagi menjadi 2 sesi. Sesi ke 2 akan ditayangkan menyusul.

⚘ Yuuk bagikan video ini, agar semakin banyak yang merasakan warisan Bpk Paus Fransiskus yang indah ini. Tuhan memberkati 🙏

Percakapan 5

(Putu Oka Sukanta)


Cakap cakap ringan

Ketahanan Pangan

Dimulai dari meja makan?

Atau dari gubug kelaparan?


Membuka pagi

Rebus ubi


Mengunyah pisang

Melewatkan siang


Ubi kayu

Menutup waktu


Cakap cakap Ketahanan Pangan

Sebelum makan mencuci tangan

Petinggi korupsi

Rakyat gigit jari.


Cakap cakap

Cakap cakap

Cakap cakap

Tikus bersorak sorai

Di lumbung padi.*


Rmangun,27.06.25

Sabtu, 28 Juni 2025

Renungan Harian Hari Sabtu

 


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Jumat, 27 Juni 2025

PERCAKAPAN 5

 (Putu Oka Sukanta)


Cakap cakap ringan

Ketahanan Pangan

Dimulai dari meja makan?

Atau dari gubug kelaparan?


Membuka pagi

Rebus ubi


Mengunyah pisang

Melewatkan siang


Ubi kayu

Menutup waktu


Cakap cakap Ketahanan Pangan

Sebelum makan mencuci tangan

Petinggi korupsi

Rakyat gigit jari.


Cakap cakap

Cakap cakap

Cakap cakap

Tikus bersorak sorai

Di lumbung padi.*


Rmangun,27.06.25

Renungan Harian Hari Jumat

 


Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Kamis, 26 Juni 2025

Renungan Harian Hari Kamis


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.
 

Rabu, 25 Juni 2025

PERCAKAPAN 4

( Putu Oka Sukanta).


Di depanku

Rebus ubi

Secangkir kopi

Dan mimpi


Copet,

Copet,

Copet.........pet....petttttt

Orang berhamburan ke jalanan

Berlari

Lari

Jadi ombak bergelombang

Masih pakai daster,

Celana dalam,

Baju dinas 

Lilitan handuk

Kerudung

Jadi ombak bergelombang

Gelombang

Copettttttt

Coooooooo

Petttttttt


Polisi,

Satpol Pepe

Tentara

Hansip berdiri tegak lurus

Di depan posnya masing masing.


Nyopet apa?

Nyopet apa?

Bikin laporan !


Orang orang bergumam

" Percuma"

Terus berlari mengejar pencopet.


Seorang pengejar copet

Akhirnya melapor ke petugas:

"Pencopet itu, 

Nyopet kebenaran peristiwa Pak."


" Wualahhhhhhh, dari tadi kek bilang.

Itu kan bukan urusan saya." 


Air bergelombang itu,

Terus mengejar pencopet.


Rebus ubi

Ampas kopi

Nikmatnya mimpi.*


Rmangun,25.06.25.

PERCAKAPAN 4 (Putu Oka Sukanta)

PERCAKAPAN 4
(Putu Oka Sukanta)

Di depanku
Rebus ubi
Secangkir kopi
Dan mimpi

Copet,
Copet,
Copet.........pet....petttttt
Orang berhamburan ke jalanan
Berlari
Lari
Jadi ombak bergelombang
Masih pakai daster,
Celana dalam,
Baju dinas 
Lilitan handuk
Kerudung
Jadi ombak bergelombang
Gelombang
Copettttttt
Coooooooo
Petttttttt

Polisi,
Satpol Pepe
Tentara
Hansip berdiri tegak lurus
Di depan posnya masing masing.

Nyopet apa?
Nyopet apa?
Bikin laporan !

Orang orang bergumam
"Percuma"
Terus berlari mengejar pencopet.

Seorang pengejar copet
Akhirnya melapor ke petugas:
"Pencopet itu, 
Nyopet kebenaran peristiwa Pak."

"Wualahhhhhhh, dari tadi kek bilang.
Itu kan bukan urusan saya." 

Air bergelombang itu,
Terus mengejar pencopet.

Rebus ubi
Ampas kopi
Nikmatnya mimpi.*

Rmangun,25.06.25.



Renungan Harian Hari Rabu

 


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Selasa, 24 Juni 2025

PERCAKAPAN 1

 (Putu Oka Sukanta).


Berdiri di ambang pagi

Saling menyapa dengan sunyi

Lampu rumah dan jalanan

Belum waktu dipadamkan


Aku menunggu cahaya

 Peleburan jiwa.

Disapa Pemulung

 Mulai bertarung.*


Rmangun 22.06.25

PERCAKAPAN 2

 Yuya sedang di mana?


Aku mau bertutur

Knalpot karatan batuk batuk

Di keramaian hiruk pikuk

Suaranya kamu dengarkan:

Rum rum rum

Or or or 

Ru  ru ru. 

mor mor mor

Rum rum rum

Rrrrrrrrrrrrt

Morrrrrrrr


Knalpot karatan

Terbata bata

 Menyemprotkan penistaan


Yuya ada dimana?


Ternyata engkau sudah di sana

Membersihkan knalpot besi tua

Ramai ramai bersama sama.*


( Putu Oka Sukanta)

Rmangun, 23.06.2


PERCAKAPAN 3

 Mempercakapkan bambu

Ditanam di laut biru

Berderu

Deru

Di depan  podium, seru


Setelah berlalu

Bisu

Membisu

Dibikin bisu

Siapakah yang tahu?


Tonggak bambu 

Tinggi 

Mengibarkan Sertifikat


Tiang Sang Merah Putih

Lebih rendah

 Di perahu nelayan


Tonggak bambu

Diganti tembok batu

Bisu

Tanpa deru

Berderu.

Gelombang laut biru

Tonggak tonggak bambu

Diredam penguasa

Di tangan pengusaha.*


Rmangun,24.06.25

MENGENANG MARSINAH

 Arloji

Jarumnya berhenti

Disiksa mati


Tak tik, tak tik, tak tik.

" Suaranya mengganggu produksi"

Gonggong anjing.*


(Putu Oka. Sukanta. 1 Mei 2025).

BURUH ( Menyambut 1 Mei 2025)

 Buruh

Urat nadi tubuh

Mesin gemuruh

Seakan dunia  runtuh

Menyanyi menari

Berdiri

Berlari

Berkejar kejaran

Upah kerja

Hari kerja

Dari desa ke kota

Kehabisan daya buat berlaga


Tetap saja riuh.


Buruh miskin merana

Bagi laba tidak setara.

Di desa 

Di kota 

Yang kuasa, yang pengusaha

Berdendang ria.


Buruh dan Tani urat nadi 

Penghantar energi

Kemuliaan .*


(Putu Oka Sukanta.) 

Rmangun, 30.04.2025

DUA ANITA DALAM PUISIKU

 Siapakah ANITA itu. Pasti tidak akan kusebutkan. Aku akan biarkan engkau dan dunia untuk mencari dan menemukannya sendiri. 


Di tahun tahun menjelang jatuhnya Soeharto, udara pengap. Angin seolah tak berdaya berembus mengibaskan terik perlawanan Rakyat yang sepertinya dimotori oleh mahasiswa. Tidak hanya di Jakarta dan juga terjadi di kota kota lain. Tidak hanya perihal penindasan, bengisnya kekuasaan di Indonesia, tetapi juga di Timor Portugis, atau di Timor Timur, atau di Timor Loro Sae, atau sekarang bernama Timor Leste.

Sesekali anak yang usianya lebih muda, dengan derap pikiran selalu di depanku, mampir ke tempatku dengan berbagai alasan dan kebutuhan. Mereka membuat aku tidak pernah tertinggal, walau Intel terus memantau keseharianku. Seorang Intel memperkenalkan dirinya sebagai Petugas yang ditugaskan untuk memantau kegiatanku. Sering mendadak menelpon untuk menjumpainya di sesuatu Rumah makan, atau tiba tiba sudah nongol di depan rumah.Berlagak menjadi sahabat.


Yang dia tidak bisa lakukan adalah mengontrol  jalan dan kegiatan pikiranku.

Dia tidak bisa membaca puisi, cerpen maupun novel yang sudah dan sedang dalam proses penulisan. 


Dalam situasi seperti itulah aku bertemu ANITA. Ya, Anita, tidak salah lagi nama itu.


Sebelum ketemu Anita memang beberapa teman membawa kabar tentang Clandestine yang ketangkap di beberapa kota, juga semakin mengganasnya penguasa di Jakarta dan Timor Timur. Banyak hal mengerikan. Tapi derap terus menuju ke arah yang sudah disepakati. Menuju pembebasan.


Sempat aku ragu, benarkah engkau Anita? Atau namamu ini tidak dikenal oleh sanak saudaramu, orang orang di kampungmu.

Ia mengerdipkan mata, membenarkan namanya Anita.


Maka kutulislah surat kepada Anita, di tahun 1999.


SURAT DUKA KEPADA ANITA.


kudengar ayahnu

ibumu

saudara kandungmu

mati diterjang peluru


kudengar rumah kampungmu

jadi abu

kudengar adik adikmu

diburu

kudengar engkau

(jangan menangis,aku tak sanggup meneruskan)


Siapa gubernurmu

mengapa dibiarkan kamu


dari Jakarta kukirim surat duka

kepada kamu ANITA

basah gerimis airmata

menyimpan makna

laut debur silih berganti

angin dan awan mengantar hangat matahari

anak negeri menghitung arah jalannya sendiri.*


1999.

( Dikutip dari buku Perjalanan Penyair, Pustaka Pelajar, 1999)



AKU AKAN KETEMU ANITA DI TIMOR LESTE.

CANGKIR

 Cangkir menelungkup di piring kecil

Menolak kehadiran kopi

Pagi

Ia menerima bisikan

"Tensi sedang tinggi"


Cangkir menengadah di piring kecil

Pagi

Menyambut kucuran air hangat

Bening

Pereda ketegangan


Cangkir itu membisikkan Harapan

Mencium bibir peminumnya..*


Rmangun 19.06.24

RAKUS

Ditumpuk kursi

Bertingkat-tingkat

Untuk menggapai

Dipanjat rakyat.*


Rmangun, 13.03.24

Renungan Harian Hari Selasa


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.
 

Senin, 23 Juni 2025

Renungan Harian Hari Senin


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Minggu, 22 Juni 2025

Renungan Harian Hari Minggu


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Jumat, 20 Juni 2025

Menulis Sejarah Tanpa Luka: Sebuah Kekeliruan Moral

Di tengah wacana penulisan sejarah nasional baru oleh tokoh politik Fadli Zon, muncul kekhawatiran mendasar tentang masa depan ingatan kolektif bangsa. Pernyataannya yang menolak memasukkan peristiwa kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa pada Mei 1998 ke dalam narasi sejarah resmi bukan hanya problematis, tetapi juga berbahaya secara etis dan politis.

https://www.christianbook.com/ethic-for-enemies-forgiveness-in-politics/donald-shriver/9780195119169/pd/119169


Dalam bukunya An Ethic for Enemies: Forgiveness in Politics (1995), Donald W. Shriver Jr. menyampaikan bahwa pengampunan dalam ranah politik tidak bisa dilepaskan dari keberanian menghadapi kebenaran sejarah yang menyakitkan. Pengampunan, kata Shriver, bukanlah pelupaan, melainkan ingatan yang bermartabat. Tanpa pengakuan atas luka sejarah, tidak mungkin ada rekonsiliasi sejati.

Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

          “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...