Teks lengkap dokumen tersebut dapat diunduh melalui link berikut:
https://drive.google.com/file/d/1rD7BL0FESQsdI6GCGU0PNOqDEEyObSxE/view?usp=sharing
Teks lengkap dokumen tersebut dapat diunduh melalui link berikut:
https://drive.google.com/file/d/1rD7BL0FESQsdI6GCGU0PNOqDEEyObSxE/view?usp=sharing
Bersama Rm Ismartono, SJ dengan panduan buku Katekismus Laudato Si'
Hari/Tgl.: Senin/22 Desember 2025
Waktu: 19:00-21:00WIB
Online via Zoom
https://telkomsel.zoom.us/j/95751949335?pwd=EY6OcPa1tmVId8SMWd2IDzzLXapbJA.1
Meeting ID: 957 5194 9335
Passcode: GLSI
Mari bergabung para animator LS dan jejaring LS. Ditunggu kehadirannya. Tuhan Memberkati.
Banjir bandang, longsor, kebakaran hutan, krisis air bersih, dan
konflik agraria bukan lagi peristiwa luar biasa di Indonesia. Ia hadir
berulang, nyaris rutin. Karena itu, krisis ekologis tidak cukup dibaca sebagai
kegagalan teknis atau lemahnya penegakan hukum semata. Ia menyentuh lapisan
yang lebih dalam: cara kita memahami manusia, kerja, dan relasi dengan alam.
Dalam sejarah pemikiran, manusia pernah disebut animal rationale,
binatang yang berakal budi. Dengan
akalnya, manusia mampu menimbang baik-buruk, tujuan dan batas. Namun modernitas
kemudian menajamkan gambaran lain: manusia sebagai homo faber, manusia
sebagai pembuat, dan sebagai animal
laborans, binatang makhluk yang bekerja demi bertahan hidup. Ketiga
gambaran ini membantu kita membaca wajah manusia Indonesia hari ini.
Sebagai homo faber, manusia Indonesia tampak dalam
proyek-proyek besar pembangunan: jalan tol, bendungan, kawasan industri,
pertambangan dan perkebunan skala luas. Dengan akal dan teknologi, manusia
membentuk lanskap baru. Gagasan ini sudah lama berakar dalam filsafat Barat,
tetapi memperoleh artikulasi modern pada awal abad ke-20, terutama melalui
Henri Bergson dan kemudian Hannah Arendt. Kerja dipahami sebagai kemampuan
kreatif untuk membangun dunia yang “lebih baik” dan lebih efisien.
Masalahnya muncul ketika homo faber kehilangan dimensi
rationalnya. Ketika akal budi direduksi menjadi sekadar rasionalitas teknis dan
ekonomi, alam diperlakukan sebagai objek. Hutan dilihat sebagai kayu, tanah
sebagai konsesi, sungai sebagai saluran limbah. Dalam situasi ini, manusia
tampil bukan sebagai perawat alam, melainkan sebagai penguasa alam. Gambaran
ini jelas lebih dekat dengan homo faber teknokratis, bukan dengan
manusia sebagai makhluk berakal budi yang bermoral.
Di sisi lain, sebagian besar warga Indonesia hidup dalam realitas animal
laborans. Bagi jutaan petani kecil, nelayan, buruh harian, dan pekerja
sektor informal, kerja adalah soal bertahan hidup. Pepatah Melayu lama
menggambarkannya dengan tepat: “Kais pagi makan pagi, kais petang makan
petang.” Hidup berlangsung dari hari ke hari, tanpa jaminan, tanpa tabungan
ekologis maupun ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, tuntutan untuk menjaga
lingkungan sering terasa abstrak, bahkan tidak adil.
Hannah Arendt, dalam The Human Condition (1958), menunjukkan bahwa animal
laborans hidup dalam siklus tanpa akhir: bekerja – mengonsumsi - bekerja
lagi. Bila seluruh energi manusia habis untuk bertahan hidup, ruang refleksi
menyempit. Kepedulian jangka panjang terhadap alam pun terdesak oleh kebutuhan
hari ini. Maka kerusakan lingkungan sering kali bukan karena ketidakpedulian
moral, melainkan karena ketiadaan pilihan.
Indonesia hari ini berada di persimpangan dua ekstrem ini. Di satu
sisi, homo faber hadir dalam wajah negara dan korporasi dengan daya ubah
besar atas alam. Di sisi lain, animal laborans hidup dalam kerentanan
struktural. Yang sering absen adalah manusia sebagai animal rationale:
subjek yang menggunakan akal budinya untuk menimbang kepentingan jangka
panjang, keadilan antargenerasi, dan keseimbangan ciptaan.
Di sinilah ensiklik Laudato Si’ menjadi sangat relevan. Paus
Fransiskus mengkritik paradigma teknokratis yang melihat manusia sebagai
penguasa alam. Ia mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari ciptaan,
manusia memiliki banyak kesamaan dengan Binatang, sehingga makluk ciptaan ini
oleh Santo Fransiskus Asisi disapa dengan sapaan Saudara atau Saudari; Saudara
Anjing, Saudara Matahari dan Saudari Bulan. Manusis bukan tuan atas alam.
Kritik ini terutama ditujukan kepada homo faber yang kehilangan kendali
etis. Namun Paus Fransiskus juga peka terhadap realitas animal laborans:
mereka yang hidup dalam kemiskinan tidak bisa dibebani sendirian tanggung jawab
ekologis.
Ensiklik Fratelli Tutti melengkapi gambaran ini dengan menekankan
persaudaraan sosial. Krisis ekologis di Indonesia selalu terkait dengan
ketimpangan: antara pusat dan daerah, antara pemilik modal dan pekerja, antara
generasi sekarang dan yang akan datang. Tanpa solidaritas, seruan menjaga
lingkungan akan terdengar sebagai moralitas kosong.
Karena itu, jalan ke depan bukan memilih antara homo faber
atau animal laborans, melainkan mengembalikan keduanya ke dalam horizon animal
rationale. Kita membutuhkan pembangunan, tetapi yang dibimbing oleh akal
budi dan etika. Kita memahami kebutuhan rakyat kecil, tetapi sekaligus
membebaskan mereka dari jebakan “kais pagi makan pagi, kais petang makan petang”
yang memaksa eksploitasi alam tanpa henti.
Manusia sebagai penguasa alam jelas lebih dekat dengan homo faber
yang bisa terlepas dari akal budi moral. Sebaliknya, manusia sebagai perawat
alam hanya mungkin bila homo faber dan animal laborans dituntun oleh animal
rationale: akal yang tahu batas, tahu cukup, dan tahu berbagi.
Sebagai seorang beriman, manusia telah diangkat menjadi anak Allah,
menjadi Co-Creator yang merawat alam dan lingkungan yang adalah ciptaan
Bapanya.
Pada akhirnya, krisis ekologis Indonesia adalah ujian tentang siapa kita mau menjadi: pembuat yang rakus, pekerja yang terjebak, atau manusia berakal budi yang merawat rumah bersama. Pilihan itu bukan teknis semata, melainkan moral dan politis dan waktunya semakin sempit.
(I. Ismartono, SJ – Jakarta 16-12-2025)
SURAT NATAL 2025
(sapaan)
Seperti yang telah terjadi selama ini, menjelang Hari Raya Natal saya kembali menulis sepucuk surat sederhana. Niat saya tetap sama: mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang masih mengaruniakan hidup, napas dan kesempatan bagi kita untuk bersama-sama berdoa di depan Palungan Yesus, Sang Imanuel yang hadir menyertai perjalanan kita.
Pada kesempatan penuh rahmat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus atas kebersamaan kita selama ini. Kebersamaan yang tidak hanya membuat hidup lebih berarti, tetapi juga saling menyalakan inspirasi, keteguhan dan kekuatan dalam ziarah kehidupan yang tak selalu mudah. Dalam suka dan duka, kita saling menopang; dalam terang dan gelap, kita saling menuntun.
Saya juga menyampaikan terima kasih mendalam atas dukungan bagi karya Sahabat Insan, baik berupa doa, perhatian, maupun sumbangan. Semua dukungan ini memungkinkan kantor kecil kita terus berjalan, tetap memperhatikan korban migrasi paksa dan perdagangan manusia. Buah perhatian dan kemurahan hati Anda sekalian telah menjadi tanda nyata kasih Allah bagi mereka yang paling rentan.
Di tengah sukacita Natal, marilah kita bersama memohon kepada Tuhan hati yang selalu siap sedia untuk diutus: hati yang peka melihat Yesus yang hidup dalam diri mereka yang terluka, tersingkirkan dan membutuhkan. Semoga kita terus mendengar suara-Nya yang lembut namun tegas: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40)
Kita juga mohon keteguhan iman, agar Dia Tuhan dan Penyelamat kita yang selalu setia, tetap menuntun perjalanan hidup kita di tahun yang baru. Semoga Kristus membimbing langkah-langkah kita, menerangi keputusan-keputusan kita dan menghibur hati kita dalam setiap pergulatan.
Bersama ini saya sampaikan bahan renungan yang berjudul Mengasihi Maria, Kumpulan Doa-doa dan Latihan Rohani. Semoga ini dapat menjadi sebuah tanda kecil bahwa kita semua tidak berjalan sendirian, tetapi bersama Bunda Maria yang setia sejak memangku Bayi Yesus di Betlehem sampai memangku tubuh yang sama, tiga puluh tiga tahun kemudian di bawah salib. Semoga kita siap menerima rahmat kesetiaan juga.
Dengan penuh syukur dan harapan, saya mengucapkan:
Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Semoga damai Kristus, yang lahir dalam kesederhanaan Palungan, tinggal di hati
kita dan memancarkan berkat bagi dunia.
Jakarta, Pertengahan Desember 2025
Ignatius Ismartono, SJ
Mari bergabung dalam seri ke-4 Beyond Limits: Bincang Rohani & Dunia Usaha. Kali ini, kita akan mengupas tuntas bagaimana nilai-nilai iman dan kepedulian lingkungan dapat berjalan selaras dengan keuntungan finansial.
Dengan tema "Taklukkan Rasa Takutmu: Dalam Bisnis yang Merawat Lingkungan Hidup.. ternyata ada CUAN-nya", kita akan belajar bahwa menjaga "Rumah Kita Bersama" bukan hanya tanggung jawab moral, tapi juga peluang inovasi yang menjanjikan.
Rm. Ismartono, SJ (Rohaniawan)
Andreas Djingga (Co-Founder JEJAKIN)
Tony Tandra (Moderator)
Hari/Tanggal: Jumat, 12 Desember 2025
Waktu: Pukul 19.00 WIB
Lokasi: Taman Doa Akita, PIK 2, Jakarta
Acara ini terinspirasi dari Laudato Si, Ensilik Paus Fransiskus yang menitikberatkan pada kepedulian terhadap planet bumi sebagai ibu bagi semua makhluk. Di sini, Anda akan mendapatkan insight baru tentang bagaimana strategi bisnis masa depan adalah bisnis yang ramah lingkungan.
Pendaftaran: GRATIS (FREE)! Ayo ajak rekan bisnis, teman, dan keluarga Anda untuk hadir dan bertumbuh bersama.
Follow Instagram: @beyondlimitsakita Atau scan QR Code yang tersedia pada poster untuk informasi tambahan.
"Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah" (2 Kor 3:5)
Taman Doa Akita, PIK 2, Jakarta, menjadi tempat acara inspiratif bertajuk "Beyond Limits 04: Taklukkan Rasa Takutmu dalam Bisnis yang Merawat Lingkungan Hidup" yang diselenggarakan pada Jumat, 12 Desember 2025
Budaya adalah salah satu konsep paling kaya dalam ilmu kemanusiaan. Ia bukan hanya tari-tarian, rumah adat, bahasa ibu, atau ritual sosial, tetapi keseluruhan cara masyarakat memahami hidup, memaknai keberadaan dan bertindak dalam dunia. Dalam makna paling luas, budaya adalah cara manusia menjadi manusia. Namun, budaya tidak selalu mulia. Ada budaya yang meninggikan martabat, tetapi ada pula budaya yang menjerumuskan manusia dalam relasi yang tidak manusiawi. Karena itu, refleksi tentang budaya harus berani melihat dua sisi sekaligus: budaya luhur yang mengungkap nilai universal, serta budaya buruk yang muncul sebagai kebiasaan merusak.
Tulisan ini berusaha menguraikan keduanya secara lebih mendalam, sambil menyoroti pertarungan halus yang terjadi di dalam struktur sosial, kesadaran kolektif dan kehidupan sehari-hari suatu bangsa.
Apa jadinya jika suara pekerja migran dituturkan langsung dari hati seorang biarawati yang hidup bersama mereka? ✨
Buku Suster Kargo karya Sr. Laurentina SDP mengajak kita menyelami keberanian, luka, dan harapan para pejuang nafkah di negeri orang — manusia yang sering hanya dipandang sebagai “kargo” yang datang dan pergi. 📦💔
Launching Buku Suster Kargo
📅 Jumat, 12 Desember 2025
🕙 10.00 WIB – selesai
📍 Gedung OBOR Lt. 1, Jl. Gunung Sahari No. 91, Jakarta Pusat
Bersama:
Sr. Laurentina SDP (Penulis)
Romo Ignatius Ismartono SJ
Akan ada sharing inspiratif dan penjualan buku perdana langsung ditandatangani penulis. ✍️📘
Kesempatan baik untuk memahami lebih dalam misi Gereja dalam mendampingi pekerja migran.
Informasi :
📱 0821 1415 6000 / (021) 422 2396
Jakarta, 8 Desember 2025 – Sebanyak 32 peserta dari total 36 peserta terdaftar, yang merupakan alumni Katolik Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Trisakti (USAKTI), berkumpul dalam suasana hangat dan penuh keakraban untuk mengikuti Retret Akhir Pekan untuk Sahabat di Usia Menjelang Senja, bertempat di Gedung Alphonsus - Kolese Kanisius.
Retret yang berfokus pada peran dan misi spiritualitas di usia lanjut ini bertujuan memberikan peneguhan bahwa masa senja bukanlah akhir, melainkan panggung baru untuk mewariskan hikmat dan menjadi terang.
“Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...