Senin, 22 Desember 2025

Laudato Si’ dalam Konteks Indonesia: Tantangan Lingkungan, Kedaulatan Rakyat dan Aksi Struktural

 

Teks lengkap dokumen tersebut dapat diunduh melalui link berikut:  

https://drive.google.com/file/d/1rD7BL0FESQsdI6GCGU0PNOqDEEyObSxE/view?usp=sharing

Undangan Terbuka - Mendalami Laudato Si'

Bersama Rm Ismartono, SJ dengan panduan buku Katekismus Laudato Si'

Hari/Tgl.: Senin/22 Desember 2025

Waktu: 19:00-21:00WIB

Online via Zoom

https://telkomsel.zoom.us/j/95751949335?pwd=EY6OcPa1tmVId8SMWd2IDzzLXapbJA.1

Meeting ID: 957 5194 9335

Passcode: GLSI

Mari bergabung para animator LS dan jejaring LS. Ditunggu kehadirannya. Tuhan Memberkati. 

Selasa, 16 Desember 2025

Homo Faber, Animal Laborans dan Kita di Indonesia: Kerja, Akal Budi, dan Krisis Alam


Banjir bandang, longsor, kebakaran hutan, krisis air bersih, dan konflik agraria bukan lagi peristiwa luar biasa di Indonesia. Ia hadir berulang, nyaris rutin. Karena itu, krisis ekologis tidak cukup dibaca sebagai kegagalan teknis atau lemahnya penegakan hukum semata. Ia menyentuh lapisan yang lebih dalam: cara kita memahami manusia, kerja, dan relasi dengan alam.

Dalam sejarah pemikiran, manusia pernah disebut animal rationale, binatang yang  berakal budi. Dengan akalnya, manusia mampu menimbang baik-buruk, tujuan dan batas. Namun modernitas kemudian menajamkan gambaran lain: manusia sebagai homo faber, manusia sebagai  pembuat, dan sebagai animal laborans, binatang makhluk yang bekerja demi bertahan hidup. Ketiga gambaran ini membantu kita membaca wajah manusia Indonesia hari ini.

Sebagai homo faber, manusia Indonesia tampak dalam proyek-proyek besar pembangunan: jalan tol, bendungan, kawasan industri, pertambangan dan perkebunan skala luas. Dengan akal dan teknologi, manusia membentuk lanskap baru. Gagasan ini sudah lama berakar dalam filsafat Barat, tetapi memperoleh artikulasi modern pada awal abad ke-20, terutama melalui Henri Bergson dan kemudian Hannah Arendt. Kerja dipahami sebagai kemampuan kreatif untuk membangun dunia yang “lebih baik” dan lebih efisien.

Masalahnya muncul ketika homo faber kehilangan dimensi rationalnya. Ketika akal budi direduksi menjadi sekadar rasionalitas teknis dan ekonomi, alam diperlakukan sebagai objek. Hutan dilihat sebagai kayu, tanah sebagai konsesi, sungai sebagai saluran limbah. Dalam situasi ini, manusia tampil bukan sebagai perawat alam, melainkan sebagai penguasa alam. Gambaran ini jelas lebih dekat dengan homo faber teknokratis, bukan dengan manusia sebagai makhluk berakal budi yang bermoral.

Di sisi lain, sebagian besar warga Indonesia hidup dalam realitas animal laborans. Bagi jutaan petani kecil, nelayan, buruh harian, dan pekerja sektor informal, kerja adalah soal bertahan hidup. Pepatah Melayu lama menggambarkannya dengan tepat: “Kais pagi makan pagi, kais petang makan petang.” Hidup berlangsung dari hari ke hari, tanpa jaminan, tanpa tabungan ekologis maupun ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, tuntutan untuk menjaga lingkungan sering terasa abstrak, bahkan tidak adil.

Hannah Arendt, dalam The Human Condition (1958), menunjukkan bahwa animal laborans hidup dalam siklus tanpa akhir: bekerja – mengonsumsi - bekerja lagi. Bila seluruh energi manusia habis untuk bertahan hidup, ruang refleksi menyempit. Kepedulian jangka panjang terhadap alam pun terdesak oleh kebutuhan hari ini. Maka kerusakan lingkungan sering kali bukan karena ketidakpedulian moral, melainkan karena ketiadaan pilihan.

Indonesia hari ini berada di persimpangan dua ekstrem ini. Di satu sisi, homo faber hadir dalam wajah negara dan korporasi dengan daya ubah besar atas alam. Di sisi lain, animal laborans hidup dalam kerentanan struktural. Yang sering absen adalah manusia sebagai animal rationale: subjek yang menggunakan akal budinya untuk menimbang kepentingan jangka panjang, keadilan antargenerasi, dan keseimbangan ciptaan.

Di sinilah ensiklik Laudato Si’ menjadi sangat relevan. Paus Fransiskus mengkritik paradigma teknokratis yang melihat manusia sebagai penguasa alam. Ia mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari ciptaan, manusia memiliki banyak kesamaan dengan Binatang, sehingga makluk ciptaan ini oleh Santo Fransiskus Asisi disapa dengan sapaan Saudara atau Saudari; Saudara Anjing, Saudara Matahari dan Saudari Bulan. Manusis bukan tuan atas alam. Kritik ini terutama ditujukan kepada homo faber yang kehilangan kendali etis. Namun Paus Fransiskus juga peka terhadap realitas animal laborans: mereka yang hidup dalam kemiskinan tidak bisa dibebani sendirian tanggung jawab ekologis.

Ensiklik Fratelli Tutti melengkapi gambaran ini dengan menekankan persaudaraan sosial. Krisis ekologis di Indonesia selalu terkait dengan ketimpangan: antara pusat dan daerah, antara pemilik modal dan pekerja, antara generasi sekarang dan yang akan datang. Tanpa solidaritas, seruan menjaga lingkungan akan terdengar sebagai moralitas kosong.

Karena itu, jalan ke depan bukan memilih antara homo faber atau animal laborans, melainkan mengembalikan keduanya ke dalam horizon animal rationale. Kita membutuhkan pembangunan, tetapi yang dibimbing oleh akal budi dan etika. Kita memahami kebutuhan rakyat kecil, tetapi sekaligus membebaskan mereka dari jebakan “kais pagi makan pagi, kais petang makan petang” yang memaksa eksploitasi alam tanpa henti.

Manusia sebagai penguasa alam jelas lebih dekat dengan homo faber yang bisa terlepas dari akal budi moral. Sebaliknya, manusia sebagai perawat alam hanya mungkin bila homo faber dan animal laborans dituntun oleh animal rationale: akal yang tahu batas, tahu cukup, dan tahu berbagi.

Sebagai seorang beriman, manusia telah diangkat menjadi anak Allah, menjadi Co-Creator yang merawat alam dan lingkungan yang adalah ciptaan Bapanya.

Pada akhirnya, krisis ekologis Indonesia adalah ujian tentang siapa kita mau menjadi: pembuat yang rakus, pekerja yang terjebak, atau manusia berakal budi yang merawat rumah bersama. Pilihan itu bukan teknis semata, melainkan moral dan politis dan waktunya semakin sempit. 

(I. Ismartono, SJ – Jakarta 16-12-2025)


Senin, 15 Desember 2025

Surat Natal 2025

  

SURAT NATAL 2025

(sapaan)

Seperti yang telah terjadi selama ini, menjelang Hari Raya Natal saya kembali menulis sepucuk surat sederhana. Niat saya tetap sama: mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang masih mengaruniakan hidup, napas dan kesempatan bagi kita untuk bersama-sama berdoa di depan Palungan Yesus, Sang Imanuel yang hadir menyertai perjalanan kita.

Pada kesempatan penuh rahmat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus atas kebersamaan kita selama ini. Kebersamaan yang tidak hanya membuat hidup lebih berarti, tetapi juga saling menyalakan inspirasi, keteguhan dan kekuatan dalam ziarah kehidupan yang tak selalu mudah. Dalam suka dan duka, kita saling menopang; dalam terang dan gelap, kita saling menuntun.

Saya juga menyampaikan terima kasih mendalam atas dukungan bagi karya Sahabat Insan, baik berupa doa, perhatian, maupun sumbangan. Semua dukungan ini memungkinkan kantor kecil kita terus berjalan, tetap memperhatikan korban migrasi paksa dan perdagangan manusia. Buah perhatian dan kemurahan hati Anda sekalian telah menjadi tanda nyata kasih Allah bagi mereka yang paling rentan.

Di tengah sukacita Natal, marilah kita bersama memohon kepada Tuhan hati yang selalu siap sedia untuk diutus: hati yang peka melihat Yesus yang hidup dalam diri mereka yang terluka, tersingkirkan dan membutuhkan. Semoga kita terus mendengar suara-Nya yang lembut namun tegas: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40)

Kita juga mohon keteguhan iman, agar Dia Tuhan dan Penyelamat kita yang selalu setia, tetap menuntun perjalanan hidup kita di tahun yang baru. Semoga Kristus membimbing langkah-langkah kita, menerangi keputusan-keputusan kita dan menghibur hati kita dalam setiap pergulatan.

Bersama ini saya sampaikan bahan renungan yang berjudul Mengasihi Maria, Kumpulan Doa-doa dan Latihan Rohani. Semoga ini dapat menjadi sebuah tanda kecil bahwa kita semua tidak berjalan sendirian, tetapi bersama Bunda Maria yang setia sejak memangku Bayi Yesus di Betlehem sampai memangku tubuh yang sama, tiga puluh tiga tahun kemudian di bawah salib. Semoga kita siap menerima rahmat kesetiaan juga.

Dengan penuh syukur dan harapan, saya mengucapkan:
Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Semoga damai Kristus, yang lahir dalam kesederhanaan Palungan, tinggal di hati kita dan memancarkan berkat bagi dunia.

 

Jakarta, Pertengahan Desember 2025

Ignatius Ismartono, SJ





Jumat, 12 Desember 2025

Beyond Limits 04: Bisnis Cuan, Lingkungan Terjaga!

Mari bergabung dalam seri ke-4 Beyond Limits: Bincang Rohani & Dunia Usaha. Kali ini, kita akan mengupas tuntas bagaimana nilai-nilai iman dan kepedulian lingkungan dapat berjalan selaras dengan keuntungan finansial.

Dengan tema "Taklukkan Rasa Takutmu: Dalam Bisnis yang Merawat Lingkungan Hidup.. ternyata ada CUAN-nya", kita akan belajar bahwa menjaga "Rumah Kita Bersama" bukan hanya tanggung jawab moral, tapi juga peluang inovasi yang menjanjikan.

Narasumber & Moderator:

  1. Rm. Ismartono, SJ (Rohaniawan)

  2. Andreas Djingga (Co-Founder JEJAKIN)

  3. Tony Tandra (Moderator)

Jadwal Acara:

  1. Hari/Tanggal: Jumat, 12 Desember 2025

  2. Waktu: Pukul 19.00 WIB

  3. Lokasi: Taman Doa Akita, PIK 2, Jakarta

Mengapa Anda Harus Hadir?

Acara ini terinspirasi dari Laudato Si, Ensilik Paus Fransiskus yang menitikberatkan pada kepedulian terhadap planet bumi sebagai ibu bagi semua makhluk. Di sini, Anda akan mendapatkan insight baru tentang bagaimana strategi bisnis masa depan adalah bisnis yang ramah lingkungan.

Pendaftaran: GRATIS (FREE)! Ayo ajak rekan bisnis, teman, dan keluarga Anda untuk hadir dan bertumbuh bersama.

Info Lebih Lanjut:

Follow Instagram: @beyondlimitsakita Atau scan QR Code yang tersedia pada poster untuk informasi tambahan.

"Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah" (2 Kor 3:5)

Menaklukkan Ketakutan demi Merawat Bumi


Materi lengkap dokumen tersebut dapat diunduh melalui link berikut: 
https://bit.ly/BeyondLimits_121225 

Taman Doa Akita, PIK 2, Jakarta, menjadi tempat acara inspiratif bertajuk "Beyond Limits 04: Taklukkan Rasa Takutmu dalam Bisnis yang Merawat Lingkungan Hidup" yang diselenggarakan pada Jumat, 12 Desember 2025. Bincang rohani dan dunia usaha ini menghadirkan rohaniwan Romo Ismartono, SJ, serta Andreas Djingga selaku Co-Founder Jejakin untuk membedah bagaimana nilai-nilai spiritualitas Kristiani dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Mengacu pada ensiklik Laudato Si' karya Paus Fransiskus, acara ini mengajak kita untuk menjaga "rumah kita bersama" bukan sekadar strategi korporasi, melainkan panggilan iman yang ternyata memiliki potensi keuntungan ekonomi atau "cuan" yang nyata.

Kamis, 11 Desember 2025

Dua Macam “Budaya”: Antara yang Bernilai Luhur dan yang Berkebiasaan Merusak dalam Dinamika Masyarakat

            


        Budaya adalah salah satu konsep paling kaya dalam ilmu kemanusiaan. Ia bukan hanya tari-tarian, rumah adat, bahasa ibu, atau ritual sosial, tetapi keseluruhan cara masyarakat memahami hidup, memaknai keberadaan dan bertindak dalam dunia. Dalam makna paling luas, budaya adalah cara manusia menjadi manusia. Namun, budaya tidak selalu mulia. Ada budaya yang meninggikan martabat, tetapi ada pula budaya yang menjerumuskan manusia dalam relasi yang tidak manusiawi. Karena itu, refleksi tentang budaya harus berani melihat dua sisi sekaligus: budaya luhur yang mengungkap nilai universal, serta budaya buruk yang muncul sebagai kebiasaan merusak.

Tulisan ini berusaha menguraikan keduanya secara lebih mendalam, sambil menyoroti pertarungan halus yang terjadi di dalam struktur sosial, kesadaran kolektif dan kehidupan sehari-hari suatu bangsa.

Launching Buku Suster Kargo

 


Apa jadinya jika suara pekerja migran dituturkan langsung dari hati seorang biarawati yang hidup bersama mereka? ✨

Buku Suster Kargo karya Sr. Laurentina SDP mengajak kita menyelami keberanian, luka, dan harapan para pejuang nafkah di negeri orang — manusia yang sering hanya dipandang sebagai “kargo” yang datang dan pergi. 📦💔


Launching Buku Suster Kargo

📅 Jumat, 12 Desember 2025

🕙 10.00 WIB – selesai

📍 Gedung OBOR Lt. 1, Jl. Gunung Sahari No. 91, Jakarta Pusat


Bersama:

Sr. Laurentina SDP (Penulis)

Romo Ignatius Ismartono SJ 


Akan ada sharing inspiratif dan penjualan buku perdana langsung ditandatangani penulis. ✍️📘

Kesempatan baik untuk memahami lebih dalam misi Gereja dalam mendampingi pekerja migran.

Informasi :

📱 0821 1415 6000 / (021) 422 2396

Senin, 08 Desember 2025

Energi Baru di Usia Menjelang Senja: Alumni Katolik Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti Perkuat Warisan Iman dalam Retret Akhir Pekan

 Jakarta, 8 Desember 2025 – Sebanyak 32 peserta dari total 36 peserta terdaftar, yang merupakan alumni Katolik Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Trisakti (USAKTI), berkumpul dalam suasana hangat dan penuh keakraban untuk mengikuti Retret Akhir Pekan untuk Sahabat di Usia Menjelang Senja, bertempat di Gedung Alphonsus - Kolese Kanisius.  

Retret ini juga dilaksanakan dalam rangka “Syukur atas Imamat Romo Ismartono, SJ ke-49”, sehingga kegiatan ini sekaligus menjadi ungkapan terima kasih atas dedikasi pelayanan dan pendampingan rohani beliau yang sejak masa muda telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak sahabat.

Mengambil tema besar “Mewariskan Iman, Harapan, dan Kasih: Energi Baru di Usia Menjelang Senja”, kegiatan ini berlangsung selama dua hari penuh, pada Sabtu, 6 Desember, hingga Minggu, 7 Desember 2025. Retret dibuka dengan Doa Rosario Sabtu Pertama dan diakhiri dengan Misa Penutup yang penuh syukur.

 

Retret yang berfokus pada peran dan misi spiritualitas di usia lanjut ini bertujuan memberikan peneguhan bahwa masa senja bukanlah akhir, melainkan panggung baru untuk mewariskan hikmat dan menjadi terang.


Selasa, 02 Desember 2025

JRS Indonesia Buka Donasi untuk Respons Darurat Banjir di Sumatera


 Bagi Anda yang berminat untuk menyampaikan bantuan, mohon langsung dikirim ke JRS (Jesuit Refugee Service) dengan nomor rekening sebagai berikut.

Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

          “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...