Materi presentasi lengkap, dapat diunduh melalui link berikut:
Materi presentasi lengkap, dapat diunduh melalui link berikut:
Membaca Gereja dalam Perspektif Carl Rogers, Paulus, dan Lumen Gentium
Pendahuluan: Apakah Tubuh Apostolik Gereja?
Bagaimana kita memaknai tubuh apostolik Gereja?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika Gereja berhadapan dengan dunia yang berubah cepat. Gereja tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah institusi, organisasi, atau struktur yang mempunyai anggota, pemimpin, aturan, program, dan pembagian tugas. Gereja adalah sebuah tubuh: tubuh yang hidup, yang mempunyai banyak anggota, yang saling berhubungan, saling membutuhkan, bertumbuh, bergerak, dan mempunyai arah.
Lebih dari itu, Gereja adalah tubuh yang apostolik. Artinya, ia bukan tubuh yang hidup untuk dirinya sendiri. Gereja menerima kehidupan dari Kristus dan diutus untuk melanjutkan karya-Nya di tengah dunia. Ia dipanggil untuk menghadirkan kehidupan, menyembuhkan luka, membangun persaudaraan, memperjuangkan keadilan, merawat ciptaan, dan membawa manusia kepada kepenuhan hidup.
Dalam usaha memahami dinamika tubuh yang hidup itu, menarik untuk mendengarkan suara dari luar teologi: Carl R. Rogers (1902–1987), salah seorang tokoh terkemuka psikologi humanistik Amerika. Rogers tentu saja tidak sedang berbicara mengenai Gereja ketika ia mengembangkan pemikirannya tentang manusia. Namun, refleksi psikologisnya mengenai inti terdalam manusia, kecenderungan untuk bertumbuh, relasi dengan orang lain, dan gerak maju kehidupan dapat menjadi teman dialog yang menarik bagi eklesiologi.
Pertemuan antara Rogers dan Gereja bukanlah usaha untuk menjadikan psikologi sebagai dasar teologi. Sebaliknya, psikologi Rogers dapat menjadi sebuah cermin yang membantu kita bertanya: kalau Gereja sungguh-sungguh merupakan tubuh yang hidup, seperti apakah kehidupan tubuh itu? Ke mana ia bergerak? Bagaimana para anggotanya berhubungan? Dan apa yang terjadi apabila tubuh yang seharusnya hidup justru menjadi defensif, tertutup, takut, atau berputar hanya di sekitar dirinya sendiri?
Soekarno, pidato HUT Proklamasi 17 Agustus
1963, dikutip kembali oleh Soekarno dalam Tahun “Vivere Pericoloso”
(pidato 17 Agustus 1964), bagian yang mengingatkan bahaya Indonesia kembali
menjadi “een natie van koelies, en een koelie onder de naties.” Teks
juga terdokumentasi dalam Genta Suara Revolusi Indonesia dan dalam Kumpulan
Kata-Kata Mutiara Kesejarahan: Ucapan-Ucapan Pidato Bung Karno dan Bung Hatta,
Direktorat Nilai Sejarah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Penjajahan Belanda secara politik akhirnya berakhir, dan bangsa Indonesia memperoleh hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Namun, delapan puluh tahun lebih kemudian, sebuah pertanyaan lama dari zaman Bung Karno masih layak kita ajukan: apakah kemerdekaan politik telah sungguh-sungguh membebaskan manusia Indonesia dari segala bentuk eksploitasi?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita membaca kembali ungkapan yang berkali-kali digunakan Soekarno: “een natie van koelies, en een koelie onder de naties”-“suatu bangsa kuli dan seorang kuli di antara bangsa-bangsa.”
Materi presentasi lengkap, dapat diunduh melalui link berikut:
https://drive.google.com/file/d/1_qmJth98SfnBSmUzBKkE_s6tJ5OTIgGR/view?usp=sharing
Dari Kemalasan, Ketidakdisiplinan, dan Korupsi Menuju Kehancuran
Sebuah perusahaan atau organisasi pada
dasarnya didirikan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna: keuntungan,
pelayanan, produk, sekaligus lapangan pekerjaan. Untuk menjalankan semua itu,
sebuah usaha membutuhkan berbagai unsur: perangkat keras, perangkat lunak, dan
terutama manusia yang menghidupkannya.
Namun, ada sesuatu yang sering kali tidak
tercantum dalam struktur organisasi, laporan keuangan, atau neraca perusahaan.
Sesuatu itu adalah jiwa perusahaan.
Jiwa perusahaan tidak terlihat. Ia tidak dapat
diukur seperti jumlah aset atau keuntungan. Tetapi keberadaannya dapat
dirasakan dalam cara orang bekerja: apakah mereka jujur, bertanggung jawab,
disiplin, saling menghargai, dan merasa bahwa pekerjaan mereka mempunyai arti.
Sebaliknya, sebuah perusahaan dapat kehilangan
jiwanya tanpa segera terlihat dari luar. Gedungnya masih berdiri. Produk masih
terjual. Kantor masih buka setiap hari. Rapat masih berlangsung. Laporan
keuangan masih dibuat. Dari luar semuanya tampak normal. Tetapi di dalamnya
mungkin telah tumbuh penyakit: ketidakjujuran dianggap biasa, disiplin dianggap
tidak penting, orang bekerja sekadarnya, dan kepentingan pribadi perlahan-lahan
ditempatkan di atas kepentingan bersama.
Pada akhirnya, kehancuran finansial mungkin hanya menjadi gejala yang tampak di permukaan. Penyakit yang sebenarnya telah berlangsung jauh sebelumnya: perusahaan kehilangan integritasnya.
Jakarta, 7 Agustus 2026 - Perdagangan orang (TPPO) dan kejahatan transnasional berbasis teknologi menjadi perhatian dalam kegiatan diskusi, bedah buku, dan nonton bareng film Neraka Perbatasan yang digelar di Bangi Kopi, Pasar Minggu, Jakarta, Jumat (7/8). Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30–17.00 WIB ini membahas maraknya scam center, judi daring, perdagangan orang, serta praktik perbudakan digital di Asia Tenggara. Sahabat Insan turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap isu perdagangan manusia.
Membaca Bersama Santo Ireneus dan Santo Agustinus
Di tengah
dunia yang masih diwarnai perang, perdagangan manusia, kemiskinan, dan berbagai
bentuk ketidakadilan, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Apa yang sesungguhnya
memuliakan Allah? Apakah kemuliaan Allah terutama tampak dalam liturgi yang
megah, doa yang khusyuk, atau gereja yang indah? Semua itu penting. Namun, dua
Bapa Gereja yang hidup pada abad-abad awal Kekristenan mengajak kita melihat
sesuatu yang lebih mendasar, yaitu manusia itu sendiri.
Santo
Ireneus dari Lyon (±130–202 M) menulis sebuah kalimat yang kemudian menjadi
salah satu ungkapan paling terkenal dalam tradisi Gereja:
Gloria enim Dei vivens homo; vita
autem hominis visio Dei.
"Sebab kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; dan kehidupan manusia adalah memandang Allah." (Adversus Haereses, IV, 20, 7)
MENDENGAR
SUARA KORBAN, BUKAN SEKADAR MENGASIHANI MEREKA
"Aku
telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku... Aku telah mendengar
seruan mereka."
(Keluaran 3:7)
Belakangan ini kita semakin sering mendengar ungkapan Latin Vox victimae vox Dei, yang berarti "Suara korban adalah suara Allah." Ungkapan ini indah sekaligus menggugah. Ia mengingatkan kita bahwa Allah tidak menutup telinga terhadap orang-orang yang menderita. Allah selalu berpihak kepada mereka yang diperlakukan tidak adil.
Namun, ungkapan ini juga dapat disalahpahami. Bila tidak dijelaskan dengan baik, orang dapat mengira bahwa setiap perkataan korban pasti benar, atau bahwa siapa pun yang menjadi korban otomatis mewakili kehendak Allah. Bukan itu maksudnya.
Ungkapan ini sesungguhnya mengajak kita untuk mengubah cara memandang korban. Selama ini kita sering melihat korban hanya dari lukanya. Kita merasa iba, lalu memberi bantuan. Setelah itu kita pulang dengan perasaan sudah berbuat baik. Padahal, mungkin kita belum sungguh-sungguh mendengarkan mereka.
JAKARTA, Di tengah maraknya modus kejahatan Tindak Pidana Perdagangan
Orang (TPPO) yang kian terselubung di ranah digital, Sahabat Insan bersama 42 kelompok
pegiat kemanusiaan dan masyarakat luas berpartisipasi aktif dalam kegiatan “Talitha Kum Walk & Talk:
Melangkah Bersama dan Bersuara Melawan Perdagangan Orang” pada Minggu, 2
Agustus 2026. Mengusung tema global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) “Trapped behind the scam”,
rangkaian acara yang diawali dengan jalan sehat massal dari kawasan Car Free
Day Bundaran HI hingga Amphitheatre ATMAterra Universitas Katolik Indonesia
Atma Jaya Jakarta ini menjadi ruang konsolidasi sosial untuk membongkar realita
kelam penipuan lowongan kerja (job scam) yang kerap menjebak generasi muda
“Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...