Selasa, 21 April 2026

MENGENANG 1 TAHUN BERPULANGNYA KEKASIH HATI (PAUS FRANSISKUS)


 

🌟 Sosok luar biasa, penuh kasih dan selalu peduli pada mereka yang menderita & tersisihkan

🌟 Sosok yang sangat concern pada perlunya merawat bumi sebagai rumah kita bersama

🌟 Setahun sudah Paus Fransiskus meninggalkan kita... namun ada MIMPINYA yang perlu kita lanjutkan... Apa tindakan nyata kita untuk mewujudkan MIMPI tsb?


Simak edisi khusus mengenang 1 th berpulangnya Paus Fransiskus, bersama dengan:


Rm. IGN. ISMARTONO SJ, didampingi M.I.A JEANNETTA


Terimakasih untuk kesediaan Anda menshare acara ini. Tuhan memberkati 🙏🪴

NYEPI DAN LAUDATO SI’: SAATNYA BUMI BERNAPAS

 


Berikut sebuah tulisan reflektif yang menghubungkan Hari Raya Nyepi dan ensiklik Laudato Si’ sebagai dua jalan spiritual yang sejalan dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.

Dalam keheningan Hari Raya Nyepi, manusia diajak berhenti. Tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, bahkan tidak bersenang-senang secara berlebihan. Ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah tindakan kosmis: memberi kesempatan kepada alam untuk beristirahat.

Apa yang dilakukan dalam Nyepi sesungguhnya adalah sebuah “puasa ekologis”. Dalam diamnya manusia, bumi berbicara. Dalam berhentinya aktivitas, alam memulihkan dirinya.

Pesan ini sangat selaras dengan seruan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’. Ia mengingatkan bahwa bumi bukanlah objek eksploitasi tanpa batas, melainkan “rumah bersama” yang harus dirawat dengan kasih.

Dari Raden Ajeng Kartini ke “Panggil Aku Kartini Saja”

Perempuan dan Ketahanan Budaya Indonesia


(Untuk HW dan para sahabatnya. Dengan ucapan “Selamat Terus Berjuang”)


Ungkapan “Panggil aku Kartini saja,” yang dipopulerkan oleh Pramoedya Ananta Toer, (Buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer pertama kali diterbitkan pada tahun 1962), bukan hanya  perubahan cara menyebut nama Raden Ajeng Kartini. Ia adalah tanda sebuah pergeseran kultural yang dalam: dari identitas yang ditentukan oleh struktur menuju identitas yang dihidupi sebagai kesadaran. Dari feodalisme menuju ruang yang lebih demokratis. Dari “diberi peran” menuju “mengambil peran”.

Kamis, 16 April 2026

DARI LUKA YESUS KE LUKA BUMI: SEPERTI TOMAS, MARI KITA SENTUH DENGAN PERHATIAN KITA

 


Hari ini kita merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Injil memperlihatkan kepada kita Rasul Tomas, seorang murid yang jujur dalam keraguannya. Ia berkata: “Sebelum aku melihat dan menyentuh, aku tidak akan percaya.” Dan bagaimana Yesus Kristus menjawab? Ia tidak menegur. Ia tidak menolak. Ia justru membuka luka-Nya dan berkata: “Taruhlah jarimu di sini… dan percayalah.” Di sinilah inti Kerahiman Ilahi: Allah tidak menyembunyikan luka-Nya, Ia mengundang kita untuk menyentuhnya.

Senin, 13 April 2026

PIDATO BAPA SUCI PAUS LEO XIV DALAM PERINGATAN ULANG TAHUN KE-60 NOSTRA AETATE “BERJALAN BERSAMA DALAM HARAPAN”

https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/events/event.dir.html/content/vaticanevents/en/2025/10/28/nostra-aetate.html

Teks lengkap dokumen tersebut beserta terjemahan dalam Bahasa Indonesia, dapat diunduh melalui link berikut:  


https://drive.google.com/file/d/1jxf0rrPv8-v_eZfl19-WctVVSH_HfsxX/view?usp=sharing

Kamis, 09 April 2026

NOSTRA AETATE DAN BUDDHISME

 Sikap Nostra Aetate yang positif terhadap agama Buddha dapat menjadi dasar bagi seorang Katolik untuk menghagai juga singing bowl dari Tibet sebagai alat untuk bermeditasi

“Budhisme dalam pelbagai alirannya mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau-entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas, mencapai penerangan yang tertinggi.” (Dokumen Konsili Vatikan Ii Nostra Aetate (Pada Zaman Kita) Pernyataan Tentang Hubungan Gereja Dengan Agama-Agama Bukan Kristiani, No. 2)

TUHAN, JIKA AKU INI KELEDAI-MU, PAKAILAH AKU

 


Teks lengkap dokumen tersebut beserta terjemahan dalam Bahasa Indonesia, dapat diunduh melalui link berikut:  

https://drive.google.com/file/d/1AjXFkfYeFN-t9On_A2gRHrUHWzUKrE7s/view?usp=sharing 

Selasa, 07 April 2026

Victimae Paschali Laudes dan Vox Victimae - Vox Dei Dari Kurban Paskah Menuju Suara Para Korban

 



      Dalam bahasa Indonesia, kata “kurban” dan “korban” berasal dari akar yang sama, yakni bahasa Arab qurbān, yang berarti persembahan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun dalam perkembangannya, keduanya memiliki nuansa makna yang berbeda. Kurban biasanya dipakai dalam konteks ibadat, menunjuk pada tindakan mempersembahkan diri secara sadar dan bebas kepada Tuhan. Dalam iman Kristiani, Yesus Kristus disebut sebagai Kurban Paskah karena Ia menyerahkan diri-Nya dengan kasih demi keselamatan manusia. Sementara itu, korban digunakan dalam kehidupan sehari-hari, menunjuk pada mereka yang menderita akibat ketidakadilan atau kekerasan. Korban perdagangan manusia, korban bencana, atau korban kekerasan adalah mereka yang mengalami penderitaan tanpa memilihnya. Dengan demikian, kurban bersifat aktif dan penuh makna penyerahan, sedangkan korban cenderung pasif dan menanggung akibat dari situasi yang menindas.

PIDATO PAUS LEO XIV DI HADAPAN SIDANG PLENO KOMISI PONTIFIKAL UNTUK PERLINDUNGAN ANAK-ANAK

 


Teks lengkap dokumen tersebut beserta terjemahan dalam Bahasa Indonesia, dapat diunduh melalui link berikut:  


Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

          “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...