Sabtu, 28 Juni 2025

Renungan Harian Hari Sabtu

 


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Jumat, 27 Juni 2025

PERCAKAPAN 5

 (Putu Oka Sukanta)


Cakap cakap ringan

Ketahanan Pangan

Dimulai dari meja makan?

Atau dari gubug kelaparan?


Membuka pagi

Rebus ubi


Mengunyah pisang

Melewatkan siang


Ubi kayu

Menutup waktu


Cakap cakap Ketahanan Pangan

Sebelum makan mencuci tangan

Petinggi korupsi

Rakyat gigit jari.


Cakap cakap

Cakap cakap

Cakap cakap

Tikus bersorak sorai

Di lumbung padi.*


Rmangun,27.06.25

Renungan Harian Hari Jumat

 


Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Kamis, 26 Juni 2025

Renungan Harian Hari Kamis


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.
 

Rabu, 25 Juni 2025

PERCAKAPAN 4

( Putu Oka Sukanta).


Di depanku

Rebus ubi

Secangkir kopi

Dan mimpi


Copet,

Copet,

Copet.........pet....petttttt

Orang berhamburan ke jalanan

Berlari

Lari

Jadi ombak bergelombang

Masih pakai daster,

Celana dalam,

Baju dinas 

Lilitan handuk

Kerudung

Jadi ombak bergelombang

Gelombang

Copettttttt

Coooooooo

Petttttttt


Polisi,

Satpol Pepe

Tentara

Hansip berdiri tegak lurus

Di depan posnya masing masing.


Nyopet apa?

Nyopet apa?

Bikin laporan !


Orang orang bergumam

" Percuma"

Terus berlari mengejar pencopet.


Seorang pengejar copet

Akhirnya melapor ke petugas:

"Pencopet itu, 

Nyopet kebenaran peristiwa Pak."


" Wualahhhhhhh, dari tadi kek bilang.

Itu kan bukan urusan saya." 


Air bergelombang itu,

Terus mengejar pencopet.


Rebus ubi

Ampas kopi

Nikmatnya mimpi.*


Rmangun,25.06.25.

PERCAKAPAN 4 (Putu Oka Sukanta)

PERCAKAPAN 4
(Putu Oka Sukanta)

Di depanku
Rebus ubi
Secangkir kopi
Dan mimpi

Copet,
Copet,
Copet.........pet....petttttt
Orang berhamburan ke jalanan
Berlari
Lari
Jadi ombak bergelombang
Masih pakai daster,
Celana dalam,
Baju dinas 
Lilitan handuk
Kerudung
Jadi ombak bergelombang
Gelombang
Copettttttt
Coooooooo
Petttttttt

Polisi,
Satpol Pepe
Tentara
Hansip berdiri tegak lurus
Di depan posnya masing masing.

Nyopet apa?
Nyopet apa?
Bikin laporan !

Orang orang bergumam
"Percuma"
Terus berlari mengejar pencopet.

Seorang pengejar copet
Akhirnya melapor ke petugas:
"Pencopet itu, 
Nyopet kebenaran peristiwa Pak."

"Wualahhhhhhh, dari tadi kek bilang.
Itu kan bukan urusan saya." 

Air bergelombang itu,
Terus mengejar pencopet.

Rebus ubi
Ampas kopi
Nikmatnya mimpi.*

Rmangun,25.06.25.



Renungan Harian Hari Rabu

 


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Selasa, 24 Juni 2025

PERCAKAPAN 1

 (Putu Oka Sukanta).


Berdiri di ambang pagi

Saling menyapa dengan sunyi

Lampu rumah dan jalanan

Belum waktu dipadamkan


Aku menunggu cahaya

 Peleburan jiwa.

Disapa Pemulung

 Mulai bertarung.*


Rmangun 22.06.25

PERCAKAPAN 2

 Yuya sedang di mana?


Aku mau bertutur

Knalpot karatan batuk batuk

Di keramaian hiruk pikuk

Suaranya kamu dengarkan:

Rum rum rum

Or or or 

Ru  ru ru. 

mor mor mor

Rum rum rum

Rrrrrrrrrrrrt

Morrrrrrrr


Knalpot karatan

Terbata bata

 Menyemprotkan penistaan


Yuya ada dimana?


Ternyata engkau sudah di sana

Membersihkan knalpot besi tua

Ramai ramai bersama sama.*


( Putu Oka Sukanta)

Rmangun, 23.06.2


PERCAKAPAN 3

 Mempercakapkan bambu

Ditanam di laut biru

Berderu

Deru

Di depan  podium, seru


Setelah berlalu

Bisu

Membisu

Dibikin bisu

Siapakah yang tahu?


Tonggak bambu 

Tinggi 

Mengibarkan Sertifikat


Tiang Sang Merah Putih

Lebih rendah

 Di perahu nelayan


Tonggak bambu

Diganti tembok batu

Bisu

Tanpa deru

Berderu.

Gelombang laut biru

Tonggak tonggak bambu

Diredam penguasa

Di tangan pengusaha.*


Rmangun,24.06.25

MENGENANG MARSINAH

 Arloji

Jarumnya berhenti

Disiksa mati


Tak tik, tak tik, tak tik.

" Suaranya mengganggu produksi"

Gonggong anjing.*


(Putu Oka. Sukanta. 1 Mei 2025).

BURUH ( Menyambut 1 Mei 2025)

 Buruh

Urat nadi tubuh

Mesin gemuruh

Seakan dunia  runtuh

Menyanyi menari

Berdiri

Berlari

Berkejar kejaran

Upah kerja

Hari kerja

Dari desa ke kota

Kehabisan daya buat berlaga


Tetap saja riuh.


Buruh miskin merana

Bagi laba tidak setara.

Di desa 

Di kota 

Yang kuasa, yang pengusaha

Berdendang ria.


Buruh dan Tani urat nadi 

Penghantar energi

Kemuliaan .*


(Putu Oka Sukanta.) 

Rmangun, 30.04.2025

DUA ANITA DALAM PUISIKU

 Siapakah ANITA itu. Pasti tidak akan kusebutkan. Aku akan biarkan engkau dan dunia untuk mencari dan menemukannya sendiri. 


Di tahun tahun menjelang jatuhnya Soeharto, udara pengap. Angin seolah tak berdaya berembus mengibaskan terik perlawanan Rakyat yang sepertinya dimotori oleh mahasiswa. Tidak hanya di Jakarta dan juga terjadi di kota kota lain. Tidak hanya perihal penindasan, bengisnya kekuasaan di Indonesia, tetapi juga di Timor Portugis, atau di Timor Timur, atau di Timor Loro Sae, atau sekarang bernama Timor Leste.

Sesekali anak yang usianya lebih muda, dengan derap pikiran selalu di depanku, mampir ke tempatku dengan berbagai alasan dan kebutuhan. Mereka membuat aku tidak pernah tertinggal, walau Intel terus memantau keseharianku. Seorang Intel memperkenalkan dirinya sebagai Petugas yang ditugaskan untuk memantau kegiatanku. Sering mendadak menelpon untuk menjumpainya di sesuatu Rumah makan, atau tiba tiba sudah nongol di depan rumah.Berlagak menjadi sahabat.


Yang dia tidak bisa lakukan adalah mengontrol  jalan dan kegiatan pikiranku.

Dia tidak bisa membaca puisi, cerpen maupun novel yang sudah dan sedang dalam proses penulisan. 


Dalam situasi seperti itulah aku bertemu ANITA. Ya, Anita, tidak salah lagi nama itu.


Sebelum ketemu Anita memang beberapa teman membawa kabar tentang Clandestine yang ketangkap di beberapa kota, juga semakin mengganasnya penguasa di Jakarta dan Timor Timur. Banyak hal mengerikan. Tapi derap terus menuju ke arah yang sudah disepakati. Menuju pembebasan.


Sempat aku ragu, benarkah engkau Anita? Atau namamu ini tidak dikenal oleh sanak saudaramu, orang orang di kampungmu.

Ia mengerdipkan mata, membenarkan namanya Anita.


Maka kutulislah surat kepada Anita, di tahun 1999.


SURAT DUKA KEPADA ANITA.


kudengar ayahnu

ibumu

saudara kandungmu

mati diterjang peluru


kudengar rumah kampungmu

jadi abu

kudengar adik adikmu

diburu

kudengar engkau

(jangan menangis,aku tak sanggup meneruskan)


Siapa gubernurmu

mengapa dibiarkan kamu


dari Jakarta kukirim surat duka

kepada kamu ANITA

basah gerimis airmata

menyimpan makna

laut debur silih berganti

angin dan awan mengantar hangat matahari

anak negeri menghitung arah jalannya sendiri.*


1999.

( Dikutip dari buku Perjalanan Penyair, Pustaka Pelajar, 1999)



AKU AKAN KETEMU ANITA DI TIMOR LESTE.

CANGKIR

 Cangkir menelungkup di piring kecil

Menolak kehadiran kopi

Pagi

Ia menerima bisikan

"Tensi sedang tinggi"


Cangkir menengadah di piring kecil

Pagi

Menyambut kucuran air hangat

Bening

Pereda ketegangan


Cangkir itu membisikkan Harapan

Mencium bibir peminumnya..*


Rmangun 19.06.24

RAKUS

Ditumpuk kursi

Bertingkat-tingkat

Untuk menggapai

Dipanjat rakyat.*


Rmangun, 13.03.24

Renungan Harian Hari Selasa


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.
 

Senin, 23 Juni 2025

Renungan Harian Hari Senin


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Minggu, 22 Juni 2025

Renungan Harian Hari Minggu


 Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.

Jumat, 20 Juni 2025

Menulis Sejarah Tanpa Luka: Sebuah Kekeliruan Moral

Di tengah wacana penulisan sejarah nasional baru oleh tokoh politik Fadli Zon, muncul kekhawatiran mendasar tentang masa depan ingatan kolektif bangsa. Pernyataannya yang menolak memasukkan peristiwa kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa pada Mei 1998 ke dalam narasi sejarah resmi bukan hanya problematis, tetapi juga berbahaya secara etis dan politis.

https://www.christianbook.com/ethic-for-enemies-forgiveness-in-politics/donald-shriver/9780195119169/pd/119169


Dalam bukunya An Ethic for Enemies: Forgiveness in Politics (1995), Donald W. Shriver Jr. menyampaikan bahwa pengampunan dalam ranah politik tidak bisa dilepaskan dari keberanian menghadapi kebenaran sejarah yang menyakitkan. Pengampunan, kata Shriver, bukanlah pelupaan, melainkan ingatan yang bermartabat. Tanpa pengakuan atas luka sejarah, tidak mungkin ada rekonsiliasi sejati.

Selasa, 10 Juni 2025

Mengapa CDA (Critical Discourse Analysis) penting saat ini?

Saudara-saudari sekalian,

Hari ini saya ingin mengajak Anda semua menengok ulang relasi yang sangat erat—dan sering kali tak disadari—antara bahasa, kekuasaan, dan kesadaran manusia. Di sinilah letak pentingnya Critical Discourse Analysis, atau dalam bahasa kita, Analisis Wacana Kritis (AWK).

CDA bukan hanya milik para ahli linguistik. Ia adalah alat etis dan intelektual bagi siapa pun yang menghargai  keadilan sosial, bagi kita yang percaya bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi, tapi senjata ideologis yang bisa membangun atau menghancurkan.

Mengapa CDA penting saat ini?

1. Melawan Ujaran Kebencian

Kita hidup di zaman di mana kebencian mudah viral. Di media sosial, di mimbar politik, bahkan di ruang-ruang keagamaan, bahasa digunakan untuk menciptakan “kami vs mereka”. Umat mayoritas merasa berhak atas narasi kebenaran, lalu menyudutkan yang berbeda: etnis minoritas, kelompok gender, atau bahkan umat beragama lain.

CDA mengajari kita untuk mencermati dan membongkar  ujaran kebencian itu. Kita bertanya: mengapa kata “radikal” hanya dilekatkan pada kelompok tertentu? Apa maksud di balik kata “primitif”, “pendatang”, atau “beban negara”? Apakah ini fakta? Atau ini adalah konstruksi ideologis?

Saya merasa ini panggilan moral. Bahasa yang menyakiti harus ditelanjangi.

PHK Massal dan Dampaknya terhadap Pekerja Migran Indonesia: Antara Krisis dan Harapan

Mass Layoffs and Their Impact on Indonesian Migrant Workers

Mass layoffs in Indonesia have increased in recent years, particularly in labor-intensive sectors such as textiles and manufacturing. The impact is deeply felt by young workers and women, many of whom have lost their primary source of income. In the midst of household economic crises, a significant number of these individuals turn to migration and become Indonesian Migrant Workers (PMI) as an alternative means of survival. Unfortunately, not a few fall into irregular migration paths and become victims of human trafficking.

One of the tragic cases that came to light is the story of Meriance Kabu, a PMI from East Nusa Tenggara (NTT), who was tortured by her employer in Malaysia. Her fate is not an exception. In 2024 alone, 124 coffins of PMI from NTT were repatriated to Indonesia, most of them victims of exploitation and abuse. Disturbingly, human trafficking syndicates often involve state officials and community leaders who are supposed to protect citizens.

The main drivers of this phenomenon are structural unemployment and weak social protection for those affected by layoffs. When severance benefits are inadequate and vocational training programs are irrelevant to labor market needs, migration becomes the only perceived option. The children of migrant workers are also affected, particularly in their limited access to education in host countries. Efforts from international organizations such as the ILO through the Decent Work Country Programmes have not been fully effective without strong national law enforcement.

To address this issue, preventive measures are needed through public education, regionally based job training, and strengthened immigration oversight. The shooting of five Indonesian migrant workers in Malaysia in early 2025 illustrates the weak protection the state provides its citizens abroad. Although the Indonesian Ministry of Foreign Affairs has lodged a protest, justice for the victims remains elusive. In some cases, victims must face their traffickers in foreign courts while enduring significant psychological trauma.

The state must take a more proactive role in creating dignified employment opportunities at home and systematically dismantling trafficking syndicates. Unresolved mass layoffs only push impoverished citizens further into the traps of high-risk migration. This is not merely an economic issue but a humanitarian crisis and a moral test for the Indonesian nation. It is time for the state to show up—not just as a bystander, but as a true protector of its people's dignity.


Gambar diambil dari https://citizen.riau24.com/berita/baca/1728275233-badai-phk-di-indonesia-dilirik-jokowi-sri-mulyani-hingga-airlangga-hartanto

Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi kenyataan pahit bagi dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Agustus 2024 mencapai 5,45 persen, naik dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa sektor industri padat karya seperti tekstil, elektronik, dan manufaktur dilaporkan melakukan PHK karena tekanan global, otomasi, serta perpindahan investasi ke negara-negara dengan biaya tenaga kerja lebih rendah.

Senin, 09 Juni 2025

Melaksanakan Logika Politisi


 

Gereja Santa Katarína di Mandor: Persembahan Cinta dan Iman

Pada tanggal 4 Juni 2025, sebuah peristiwa penuh makna terjadi di Stasi Mandor, salah satu stasi Paroki Landak, Kalimantan Barat. Di tengah pepohonan tropis dan denyut kehidupan masyarakat Katolik yang terus bertumbuh di antara kota Pontianak dan Singkawang, berdirilah sebuah rumah doa baru: Gereja Santa Katarína dari Siena.

Gereja ini dibangun sebagai tanda kasih dan kenangan akan Ibu Katarína, ibunda dari Romo Markus Wanandi SJ, seorang imam Jesuit dari Provinsi SJ Indonesia. Dalam semangat pengabdian kepada Tuhan yang dikenal dalam tradisi Ignasian sebagai Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG), gereja ini menjadi saksi cinta keluarga dan umat kepada Allah yang terus berkarya dalam sejarah manusia. 

Sabtu, 07 Juni 2025

Menjaga Kesatuan dalam Perbedaan: Ketegangan Liturgi dalam Kepemimpinan Empat Paus Terakhir


 

Abstrak

 

Gereja menawarkan kepada kita Liturgi sebagai sumber kekuatan untuk beriman, berharap dan mengasihi: Ekaristi sebagai yang sangat penting di dalam hidup kita. Artikel ini menyoroti dinamika dan ketegangan liturgis dalam Gereja Katolik selama masa kepemimpinan empat Paus terakhir: Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, Fransiskus, dan Leo XIV. Melalui pendekatan teologis-pastoral, tulisan ini memperlihatkan bagaimana liturgi menjadi ruang kontestasi antara tradisi dan pembaruan, kesakralan dan partisipasi, serta keutuhan universal dan konteks lokal. Refleksi ini bertujuan membantu para pelayan pastoral dan umat memahami liturgi sebagai tempat perjumpaan dengan Allah yang terus hidup dan berbicara melalui sejarah.

 

The Church offers us the Liturgy as a source of strength to believe, hope, and love: the Eucharist is of utmost importance in our lives. This article highlights the liturgical dynamics and tensions within the Catholic Church during the leadership of the last four Popes: John Paul II, Benedict XVI, Francis, and Leo XIV. Through a theological-pastoral approach, this paper demonstrates how liturgy has become a space of contestation between tradition and renewal, sacredness and participation, and universal unity and local context. This reflection aims to help pastoral ministers and the faithful understand liturgy as a place of encounter with God who continues to live and speak through history.



 

1. Pendahuluan: Liturgi Sebagai Cermin Gereja

 

Liturgi adalah jantung kehidupan Gereja. Di dalamnya, Gereja tidak hanya merayakan misteri keselamatan, tetapi juga menampakkan wajahnya kepada dunia. Tak heran bila setiap perubahan dalam liturgi kerap memicu respons emosional maupun ideologis. Dalam konteks pastoral, pemahaman dan pengelolaan ketegangan liturgi menjadi bagian penting dalam menjaga kesatuan iman dan kesetiaan pada Tradisi Gereja yang hidup. Seperti dinyatakan dalam Sacrosanctum Concilium: “Liturgi, melalui yang terjadi, merupakan puncak ke mana seluruh kegiatan Gereja tertuju dan sekaligus sumber dari mana seluruh kekuatannya mengalir.”[^1] (Liturgia est culmen ad quod actio Ecclesiae tendit et simul fons unde omnis eius virtus emanat.)

 

2. Yohanes Paulus II: Inkulturasi dan Peneguhan Identitas Ekaristi

Paus Yohanes Paulus II sangat mendukung semangat Sacrosanctum Concilium, khususnya dalam mendorong partisipasi aktif umat. Dalam dokumen Ecclesia de Eucharistia, ia menegaskan pentingnya Ekaristi sebagai "sumber dan puncak" seluruh kehidupan Gereja[^2] (Ecclesia ab Eucharistia vivit). Ia menulis, “Gereja hidup dari Ekaristi.” Namun, di balik semangat inkulturasi dan pembaruan, muncul kekhawatiran tentang kehilangan rasa sakral dan simbolisme tradisional. Oleh karena itu, Paus juga membuka jalan bagi kelompok yang masih terikat pada bentuk lama Misa Latin melalui pembentukan Komisi Ecclesia Dei (1988).

 

Tegangan pastoral: Bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai lokal tanpa mereduksi kekayaan simbolik liturgi universal?

 

3. Benediktus XVI: Kesinambungan dan Pemulihan Kesakralan

 

Benediktus XVI, dengan latar belakang teologisnya, menyoroti pentingnya kesinambungan antara liturgi sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II. Dalam Summorum Pontificum, ia mengizinkan penggunaan kembali ritus Misa Tridentina sebagai "bentuk luar biasa" dari ritus Roma. Ia juga mengangkat pentingnya ars celebrandi — seni merayakan liturgi dengan hormat dan tanpa improvisasi sembarangan. Dalam Sacramentum Caritatis, ia menegaskan: “Keindahan, sebagaimana juga kebenaran, membangkitkan kegembiraan hati manusia”[^3] (Pulchritudo, sicut veritas, cordis humani exsuscitat gaudium.)

 

Tegangan pastoral: Apakah perbedaan bentuk liturgi memperkaya atau justru memecah kesatuan umat?

 

4. Fransiskus: Liturgi Sebagai Ruang Perjumpaan dan Inkarnasi Pastoral

 

Dalam Desiderio Desideravi, Paus Fransiskus menekankan liturgi sebagai tempat perjumpaan dengan kasih Allah yang konkret. Ia menulis: “Liturgi bukan sekadar suatu kumpulan peraturan, bukan juga sekadar koreografi; melainkan tindakan Kristus dan Gereja-Nya.”[^4] (Liturgia non est solum legum collectio neque gestuum choreographia; est actio Christi et Ecclesiae.) Ia ingin membangun liturgi yang inklusif dan menjangkau yang terpinggirkan. Namun, keputusan Traditionis Custodes—yang membatasi kembali penggunaan ritus lama—menyulut respons keras dari beberapa kelompok tradisionalis. Ia menegaskan, “Saya merasa terdorong untuk menegaskan kembali bahwa kesatuan Gereja harus dipulihkan di sekitar ritus Roma sebagaimana dikembangkan setelah Konsili.”[^5] (Ad unitatem Ecclesiae fovendam, ritus Romanus post Concilium Vaticanum II evolutus centrum celebrationis manere debet.)

 

Tegangan pastoral: Bagaimana menjaga ruang bagi keragaman ekspresi iman tanpa kehilangan arah dan otoritas liturgis Gereja?

 

5. Leo XIV: Liturgi di Era Pasca-Digital dan Ekologis

 

Paus Leo XIV menghadapi tantangan baru: misa daring, partisipasi virtual, dan bentuk-bentuk devosi ekologis. Ia mendorong pembaruan simbolik yang relevan dengan ekologi integral, serta membuka dialog antara liturgi dan teknologi. Dalam sambutan kepada para peserta Sinode Liturgi Digital (2025), ia menyatakan, “Kita harus belajar menafsirkan kehadiran Kristus dalam dunia yang terhubung dan cepat berubah, tanpa kehilangan sakralitas misteri.”[^6]

 

Tegangan pastoral: Dapatkah dunia digital menjadi "ruang suci"? Apakah kehadiran virtual tetap menghadirkan Kristus secara nyata?

 

6. Liturgi sebagai Wajah Gereja: Mengelola Tegangan dengan Bijaksana

 

Liturgi bukan panggung ideologis, melainkan opus Dei — karya Allah di tengah umat-Nya. Dalam konteks pastoral, tantangannya adalah menumbuhkan pemahaman bahwa setiap bentuk liturgi, baik lama maupun baru, harus membawa umat pada perjumpaan dengan misteri Kristus.

 

Sebagai pelayan pastoral, kita dipanggil untuk:

  1. Memelihara kesakralan dan keindahan liturgi tanpa jatuh ke dalam legalisme bentuk.
  2. Memberi ruang kepada umat untuk mengungkapkan imannya dengan cara yang bermakna secara lokal.
  3. Menghindari ideologisasi liturgi, baik dari sisi konservatif maupun progresif.
  4. Mengedepankan formasi liturgis agar umat tidak hanya menjadi peserta, tetapi benar-benar "mengambil bagian" dalam misteri yang dirayakan. Sebagaimana dikatakan dalam Katekismus: “Perayaan liturgi bukan semata-mata tindakan kolektif, tetapi juga tindakan Kristus seluruhnya.”[^7] (Celebratio liturgica non est tantum actio collectiva, sed etiam actio totius Christi.)

 

Penutup: “Lex orandi” dalam Napas Gereja Zaman Ini

 

Liturgi adalah titik temu antara langit dan bumi, antara misteri kekal dan kehidupan sehari-hari umat. Ketegangan yang muncul dalam perjalanan liturgi Gereja bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk menyaring, memperdalam, dan memperbaharui pemahaman kita akan Allah yang hadir dalam sejarah.

 

Gereja dipanggil untuk terus belajar dari Roh Kudus yang menuntun dalam kebenaran, termasuk melalui perbedaan cara berdoa dan merayakan iman. Semoga ketegangan yang ada bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan sumber pengayaan rohani yang menyatukan kita dalam Kristus.

 

Ignatius Ismartono, SJ / Sahabat Insan

6 Juni 2025

 

Catatan:

[^1]: Sacrosanctum Concilium (1963), no. 10.

[^2]: Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (2003), no. 1.

[^3]: Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis (2007), no. 35.

[^4]: Fransiskus, Desiderio Desideravi (2022), no. 23.

[^5]: Fransiskus, Traditionis Custodes (2021), Surat Pendahuluan.

[^6]: Leo XIV, Sambutan dalam Sinode Liturgi Digital dan Ekologis (2025).

[^7]: Katekismus Gereja Katolik (1992), no. 1140.

 

Referensi Utama:

  • Sacrosanctum Concilium (1963), no. 10
  • Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (2003), no. 1
  • Benediktus XVI, Summorum Pontificum (2007); Sacramentum Caritatis (2007), no. 35
  • Fransiskus, Desiderio Desideravi (2022), no. 23; Traditionis Custodes (2021), Surat Pendahuluan
  • Katekismus Gereja Katolik, no. 1140–1144
  • Sambutan Paus Leo XIV dalam Sinode Liturgi Digital dan Ekologis (2025)






 

 


Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

          “Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...