Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.
Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.
(Putu Oka Sukanta)
Cakap cakap ringan
Ketahanan Pangan
Dimulai dari meja makan?
Atau dari gubug kelaparan?
Membuka pagi
Rebus ubi
Mengunyah pisang
Melewatkan siang
Ubi kayu
Menutup waktu
Cakap cakap Ketahanan Pangan
Sebelum makan mencuci tangan
Petinggi korupsi
Rakyat gigit jari.
Cakap cakap
Cakap cakap
Cakap cakap
Tikus bersorak sorai
Di lumbung padi.*
Rmangun,27.06.25
Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.
( Putu Oka Sukanta).
Di depanku
Rebus ubi
Secangkir kopi
Dan mimpi
Copet,
Copet,
Copet.........pet....petttttt
Orang berhamburan ke jalanan
Berlari
Lari
Jadi ombak bergelombang
Masih pakai daster,
Celana dalam,
Baju dinas
Lilitan handuk
Kerudung
Jadi ombak bergelombang
Gelombang
Copettttttt
Coooooooo
Petttttttt
Polisi,
Satpol Pepe
Tentara
Hansip berdiri tegak lurus
Di depan posnya masing masing.
Nyopet apa?
Nyopet apa?
Bikin laporan !
Orang orang bergumam
" Percuma"
Terus berlari mengejar pencopet.
Seorang pengejar copet
Akhirnya melapor ke petugas:
"Pencopet itu,
Nyopet kebenaran peristiwa Pak."
" Wualahhhhhhh, dari tadi kek bilang.
Itu kan bukan urusan saya."
Air bergelombang itu,
Terus mengejar pencopet.
Rebus ubi
Ampas kopi
Nikmatnya mimpi.*
Rmangun,25.06.25.
Bulan Juni, bulan Cinta pada Bumi, bulan Laudato Si sudah tinggal satu minggu. Mari kita akhiri dengan doa seminggu: Semoga meskipun bulan Juni berlalu, api semangat mencintai Ibu Bumi, Rumah kita Bersama, tetap menyala.
(Putu Oka Sukanta).
Berdiri di ambang pagi
Saling menyapa dengan sunyi
Lampu rumah dan jalanan
Belum waktu dipadamkan
Aku menunggu cahaya
Peleburan jiwa.
Disapa Pemulung
Mulai bertarung.*
Rmangun 22.06.25
Yuya sedang di mana?
Aku mau bertutur
Knalpot karatan batuk batuk
Di keramaian hiruk pikuk
Suaranya kamu dengarkan:
Rum rum rum
Or or or
Ru ru ru.
mor mor mor
Rum rum rum
Rrrrrrrrrrrrt
Morrrrrrrr
Knalpot karatan
Terbata bata
Menyemprotkan penistaan
Yuya ada dimana?
Ternyata engkau sudah di sana
Membersihkan knalpot besi tua
Ramai ramai bersama sama.*
( Putu Oka Sukanta)
Rmangun, 23.06.2
Mempercakapkan bambu
Ditanam di laut biru
Berderu
Deru
Di depan podium, seru
Setelah berlalu
Bisu
Membisu
Dibikin bisu
Siapakah yang tahu?
Tonggak bambu
Tinggi
Mengibarkan Sertifikat
Tiang Sang Merah Putih
Lebih rendah
Di perahu nelayan
Tonggak bambu
Diganti tembok batu
Bisu
Tanpa deru
Berderu.
Gelombang laut biru
Tonggak tonggak bambu
Diredam penguasa
Di tangan pengusaha.*
Rmangun,24.06.25
Arloji
Jarumnya berhenti
Disiksa mati
Tak tik, tak tik, tak tik.
" Suaranya mengganggu produksi"
Gonggong anjing.*
(Putu Oka. Sukanta. 1 Mei 2025).
Buruh
Urat nadi tubuh
Mesin gemuruh
Seakan dunia runtuh
Menyanyi menari
Berdiri
Berlari
Berkejar kejaran
Upah kerja
Hari kerja
Dari desa ke kota
Kehabisan daya buat berlaga
Tetap saja riuh.
Buruh miskin merana
Bagi laba tidak setara.
Di desa
Di kota
Yang kuasa, yang pengusaha
Berdendang ria.
Buruh dan Tani urat nadi
Penghantar energi
Kemuliaan .*
(Putu Oka Sukanta.)
Rmangun, 30.04.2025
Siapakah ANITA itu. Pasti tidak akan kusebutkan. Aku akan biarkan engkau dan dunia untuk mencari dan menemukannya sendiri.
Di tahun tahun menjelang jatuhnya Soeharto, udara pengap. Angin seolah tak berdaya berembus mengibaskan terik perlawanan Rakyat yang sepertinya dimotori oleh mahasiswa. Tidak hanya di Jakarta dan juga terjadi di kota kota lain. Tidak hanya perihal penindasan, bengisnya kekuasaan di Indonesia, tetapi juga di Timor Portugis, atau di Timor Timur, atau di Timor Loro Sae, atau sekarang bernama Timor Leste.
Sesekali anak yang usianya lebih muda, dengan derap pikiran selalu di depanku, mampir ke tempatku dengan berbagai alasan dan kebutuhan. Mereka membuat aku tidak pernah tertinggal, walau Intel terus memantau keseharianku. Seorang Intel memperkenalkan dirinya sebagai Petugas yang ditugaskan untuk memantau kegiatanku. Sering mendadak menelpon untuk menjumpainya di sesuatu Rumah makan, atau tiba tiba sudah nongol di depan rumah.Berlagak menjadi sahabat.
Yang dia tidak bisa lakukan adalah mengontrol jalan dan kegiatan pikiranku.
Dia tidak bisa membaca puisi, cerpen maupun novel yang sudah dan sedang dalam proses penulisan.
Dalam situasi seperti itulah aku bertemu ANITA. Ya, Anita, tidak salah lagi nama itu.
Sebelum ketemu Anita memang beberapa teman membawa kabar tentang Clandestine yang ketangkap di beberapa kota, juga semakin mengganasnya penguasa di Jakarta dan Timor Timur. Banyak hal mengerikan. Tapi derap terus menuju ke arah yang sudah disepakati. Menuju pembebasan.
Sempat aku ragu, benarkah engkau Anita? Atau namamu ini tidak dikenal oleh sanak saudaramu, orang orang di kampungmu.
Ia mengerdipkan mata, membenarkan namanya Anita.
Maka kutulislah surat kepada Anita, di tahun 1999.
SURAT DUKA KEPADA ANITA.
kudengar ayahnu
ibumu
saudara kandungmu
mati diterjang peluru
kudengar rumah kampungmu
jadi abu
kudengar adik adikmu
diburu
kudengar engkau
(jangan menangis,aku tak sanggup meneruskan)
Siapa gubernurmu
mengapa dibiarkan kamu
dari Jakarta kukirim surat duka
kepada kamu ANITA
basah gerimis airmata
menyimpan makna
laut debur silih berganti
angin dan awan mengantar hangat matahari
anak negeri menghitung arah jalannya sendiri.*
1999.
( Dikutip dari buku Perjalanan Penyair, Pustaka Pelajar, 1999)
AKU AKAN KETEMU ANITA DI TIMOR LESTE.
Cangkir menelungkup di piring kecil
Menolak kehadiran kopi
Pagi
Ia menerima bisikan
"Tensi sedang tinggi"
Cangkir menengadah di piring kecil
Pagi
Menyambut kucuran air hangat
Bening
Pereda ketegangan
Cangkir itu membisikkan Harapan
Mencium bibir peminumnya..*
Rmangun 19.06.24
![]() |
| https://www.christianbook.com/ethic-for-enemies-forgiveness-in-politics/donald-shriver/9780195119169/pd/119169 |
Saudara-saudari sekalian,
Hari ini saya ingin mengajak Anda semua
menengok ulang relasi yang sangat erat—dan sering kali tak disadari—antara
bahasa, kekuasaan, dan kesadaran manusia. Di sinilah letak pentingnya Critical
Discourse Analysis, atau dalam bahasa kita, Analisis Wacana Kritis (AWK).
CDA bukan hanya milik para ahli linguistik.
Ia adalah alat etis dan intelektual bagi siapa pun yang menghargai keadilan sosial, bagi kita yang percaya bahwa
kata-kata bukan sekadar bunyi, tapi senjata ideologis yang bisa membangun atau
menghancurkan.
Mengapa CDA penting saat ini?
1. Melawan Ujaran Kebencian
Kita hidup di zaman di mana kebencian mudah
viral. Di media sosial, di mimbar politik, bahkan di ruang-ruang keagamaan,
bahasa digunakan untuk menciptakan “kami vs mereka”. Umat mayoritas merasa
berhak atas narasi kebenaran, lalu menyudutkan yang berbeda: etnis minoritas,
kelompok gender, atau bahkan umat beragama lain.
CDA mengajari kita untuk mencermati dan
membongkar ujaran kebencian itu. Kita
bertanya: mengapa kata “radikal” hanya dilekatkan pada kelompok tertentu? Apa
maksud di balik kata “primitif”, “pendatang”, atau “beban negara”? Apakah ini
fakta? Atau ini adalah konstruksi ideologis?
Saya merasa ini panggilan moral. Bahasa yang menyakiti harus ditelanjangi.
|
Mass Layoffs and Their Impact on Indonesian Migrant Workers Mass layoffs in Indonesia have increased in recent years, particularly in labor-intensive sectors such as textiles and manufacturing. The impact is deeply felt by young workers and women, many of whom have lost their primary source of income. In the midst of household economic crises, a significant number of these individuals turn to migration and become Indonesian Migrant Workers (PMI) as an alternative means of survival. Unfortunately, not a few fall into irregular migration paths and become victims of human trafficking. One of the tragic cases that came to light is the story of Meriance Kabu, a PMI from East Nusa Tenggara (NTT), who was tortured by her employer in Malaysia. Her fate is not an exception. In 2024 alone, 124 coffins of PMI from NTT were repatriated to Indonesia, most of them victims of exploitation and abuse. Disturbingly, human trafficking syndicates often involve state officials and community leaders who are supposed to protect citizens. The main drivers of this phenomenon are structural unemployment and weak social protection for those affected by layoffs. When severance benefits are inadequate and vocational training programs are irrelevant to labor market needs, migration becomes the only perceived option. The children of migrant workers are also affected, particularly in their limited access to education in host countries. Efforts from international organizations such as the ILO through the Decent Work Country Programmes have not been fully effective without strong national law enforcement. To address this issue, preventive measures are needed through public education, regionally based job training, and strengthened immigration oversight. The shooting of five Indonesian migrant workers in Malaysia in early 2025 illustrates the weak protection the state provides its citizens abroad. Although the Indonesian Ministry of Foreign Affairs has lodged a protest, justice for the victims remains elusive. In some cases, victims must face their traffickers in foreign courts while enduring significant psychological trauma. The state must take a more proactive role
in creating dignified employment opportunities at home and systematically
dismantling trafficking syndicates. Unresolved mass layoffs only push
impoverished citizens further into the traps of high-risk migration. This is
not merely an economic issue but a humanitarian crisis and a moral test for
the Indonesian nation. It is time for the state to show up—not just as a
bystander, but as a true protector of its people's dignity. |
![]() |
Gambar diambil dari https://citizen.riau24.com/berita/baca/1728275233-badai-phk-di-indonesia-dilirik-jokowi-sri-mulyani-hingga-airlangga-hartanto |
Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi kenyataan pahit bagi dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Agustus 2024 mencapai 5,45 persen, naik dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa sektor industri padat karya seperti tekstil, elektronik, dan manufaktur dilaporkan melakukan PHK karena tekanan global, otomasi, serta perpindahan investasi ke negara-negara dengan biaya tenaga kerja lebih rendah.
Pada tanggal 4 Juni 2025, sebuah peristiwa penuh makna terjadi di Stasi Mandor, salah satu stasi Paroki Landak, Kalimantan Barat. Di tengah pepohonan tropis dan denyut kehidupan masyarakat Katolik yang terus bertumbuh di antara kota Pontianak dan Singkawang, berdirilah sebuah rumah doa baru: Gereja Santa KatarÃna dari Siena.
Gereja ini dibangun sebagai tanda kasih dan kenangan akan Ibu KatarÃna, ibunda dari Romo Markus Wanandi SJ, seorang imam Jesuit dari Provinsi SJ Indonesia. Dalam semangat pengabdian kepada Tuhan yang dikenal dalam tradisi Ignasian sebagai Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG), gereja ini menjadi saksi cinta keluarga dan umat kepada Allah yang terus berkarya dalam sejarah manusia.
Abstrak
Gereja menawarkan kepada kita Liturgi sebagai sumber
kekuatan untuk beriman, berharap dan mengasihi: Ekaristi sebagai yang sangat
penting di dalam hidup kita. Artikel ini menyoroti dinamika dan ketegangan
liturgis dalam Gereja Katolik selama masa kepemimpinan empat Paus terakhir:
Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, Fransiskus, dan Leo XIV. Melalui pendekatan
teologis-pastoral, tulisan ini memperlihatkan bagaimana liturgi menjadi ruang
kontestasi antara tradisi dan pembaruan, kesakralan dan partisipasi, serta
keutuhan universal dan konteks lokal. Refleksi ini bertujuan membantu para
pelayan pastoral dan umat memahami liturgi sebagai tempat perjumpaan dengan
Allah yang terus hidup dan berbicara melalui sejarah.
|
The Church offers us the Liturgy as a source of strength
to believe, hope, and love: the Eucharist is of utmost importance in our
lives. This article highlights the liturgical dynamics and tensions within
the Catholic Church during the leadership of the last four Popes: John Paul
II, Benedict XVI, Francis, and Leo XIV. Through a theological-pastoral
approach, this paper demonstrates how liturgy has become a space of
contestation between tradition and renewal, sacredness and participation, and
universal unity and local context. This reflection aims to help pastoral
ministers and the faithful understand liturgy as a place of encounter with
God who continues to live and speak through history. |
1. Pendahuluan: Liturgi Sebagai Cermin Gereja
Liturgi adalah jantung kehidupan Gereja. Di dalamnya,
Gereja tidak hanya merayakan misteri keselamatan, tetapi juga menampakkan
wajahnya kepada dunia. Tak heran bila setiap perubahan dalam liturgi kerap
memicu respons emosional maupun ideologis. Dalam konteks pastoral, pemahaman
dan pengelolaan ketegangan liturgi menjadi bagian penting dalam menjaga
kesatuan iman dan kesetiaan pada Tradisi Gereja yang hidup. Seperti dinyatakan
dalam Sacrosanctum Concilium: “Liturgi, melalui yang terjadi, merupakan puncak
ke mana seluruh kegiatan Gereja tertuju dan sekaligus sumber dari mana seluruh
kekuatannya mengalir.”[^1] (Liturgia est culmen ad quod actio Ecclesiae tendit
et simul fons unde omnis eius virtus emanat.)
2. Yohanes Paulus II: Inkulturasi dan Peneguhan
Identitas Ekaristi
Paus Yohanes Paulus II sangat mendukung semangat
Sacrosanctum Concilium, khususnya dalam mendorong partisipasi aktif umat. Dalam
dokumen Ecclesia de Eucharistia, ia menegaskan pentingnya Ekaristi sebagai
"sumber dan puncak" seluruh kehidupan Gereja[^2] (Ecclesia ab
Eucharistia vivit). Ia menulis, “Gereja hidup dari Ekaristi.” Namun, di balik
semangat inkulturasi dan pembaruan, muncul kekhawatiran tentang kehilangan rasa
sakral dan simbolisme tradisional. Oleh karena itu, Paus juga membuka jalan
bagi kelompok yang masih terikat pada bentuk lama Misa Latin melalui pembentukan
Komisi Ecclesia Dei (1988).
Tegangan pastoral:
Bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai lokal tanpa mereduksi kekayaan simbolik
liturgi universal?
3. Benediktus XVI: Kesinambungan dan Pemulihan
Kesakralan
Benediktus XVI, dengan
latar belakang teologisnya, menyoroti pentingnya kesinambungan antara liturgi
sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II. Dalam Summorum Pontificum, ia
mengizinkan penggunaan kembali ritus Misa Tridentina sebagai "bentuk luar
biasa" dari ritus Roma. Ia juga mengangkat pentingnya ars celebrandi —
seni merayakan liturgi dengan hormat dan tanpa improvisasi sembarangan. Dalam
Sacramentum Caritatis, ia menegaskan: “Keindahan, sebagaimana juga kebenaran,
membangkitkan kegembiraan hati manusia”[^3] (Pulchritudo, sicut veritas, cordis
humani exsuscitat gaudium.)
Tegangan pastoral:
Apakah perbedaan bentuk liturgi memperkaya atau justru memecah kesatuan umat?
4. Fransiskus: Liturgi Sebagai Ruang Perjumpaan dan
Inkarnasi Pastoral
Dalam Desiderio
Desideravi, Paus Fransiskus menekankan liturgi sebagai tempat perjumpaan dengan
kasih Allah yang konkret. Ia menulis: “Liturgi bukan sekadar suatu kumpulan
peraturan, bukan juga sekadar koreografi; melainkan tindakan Kristus dan
Gereja-Nya.”[^4] (Liturgia non est solum legum collectio neque gestuum choreographia;
est actio Christi et Ecclesiae.) Ia ingin membangun liturgi yang inklusif dan
menjangkau yang terpinggirkan. Namun, keputusan Traditionis Custodes—yang
membatasi kembali penggunaan ritus lama—menyulut respons keras dari beberapa
kelompok tradisionalis. Ia menegaskan, “Saya merasa terdorong untuk menegaskan
kembali bahwa kesatuan Gereja harus dipulihkan di sekitar ritus Roma
sebagaimana dikembangkan setelah Konsili.”[^5] (Ad unitatem Ecclesiae fovendam,
ritus Romanus post Concilium Vaticanum II evolutus centrum celebrationis manere
debet.)
Tegangan pastoral:
Bagaimana menjaga ruang bagi keragaman ekspresi iman tanpa kehilangan arah dan
otoritas liturgis Gereja?
5. Leo XIV: Liturgi di Era Pasca-Digital dan Ekologis
Paus Leo XIV
menghadapi tantangan baru: misa daring, partisipasi virtual, dan bentuk-bentuk
devosi ekologis. Ia mendorong pembaruan simbolik yang relevan dengan ekologi
integral, serta membuka dialog antara liturgi dan teknologi. Dalam sambutan
kepada para peserta Sinode Liturgi Digital (2025), ia menyatakan, “Kita harus
belajar menafsirkan kehadiran Kristus dalam dunia yang terhubung dan cepat
berubah, tanpa kehilangan sakralitas misteri.”[^6]
Tegangan pastoral:
Dapatkah dunia digital menjadi "ruang suci"? Apakah kehadiran virtual
tetap menghadirkan Kristus secara nyata?
6. Liturgi sebagai Wajah Gereja: Mengelola Tegangan
dengan Bijaksana
Liturgi bukan panggung
ideologis, melainkan opus Dei — karya Allah di tengah umat-Nya. Dalam konteks
pastoral, tantangannya adalah menumbuhkan pemahaman bahwa setiap bentuk
liturgi, baik lama maupun baru, harus membawa umat pada perjumpaan dengan
misteri Kristus.
Sebagai pelayan pastoral, kita dipanggil untuk:
Penutup: “Lex orandi” dalam Napas Gereja Zaman Ini
Liturgi adalah titik
temu antara langit dan bumi, antara misteri kekal dan kehidupan sehari-hari
umat. Ketegangan yang muncul dalam perjalanan liturgi Gereja bukanlah hambatan,
melainkan peluang untuk menyaring, memperdalam, dan memperbaharui pemahaman kita
akan Allah yang hadir dalam sejarah.
Gereja dipanggil untuk
terus belajar dari Roh Kudus yang menuntun dalam kebenaran, termasuk melalui
perbedaan cara berdoa dan merayakan iman. Semoga ketegangan yang ada bukan
menjadi sumber perpecahan, melainkan sumber pengayaan rohani yang menyatukan
kita dalam Kristus.
Ignatius Ismartono, SJ
/ Sahabat Insan
6 Juni 2025
Catatan:
[^1]: Sacrosanctum Concilium (1963), no. 10.
[^2]: Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia
(2003), no. 1.
[^3]: Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis (2007),
no. 35.
[^4]: Fransiskus, Desiderio Desideravi (2022), no. 23.
[^5]: Fransiskus, Traditionis Custodes (2021), Surat
Pendahuluan.
[^6]: Leo XIV, Sambutan dalam Sinode Liturgi Digital
dan Ekologis (2025).
[^7]: Katekismus Gereja Katolik (1992), no. 1140.
Referensi Utama:
“Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1...