Selasa, 29 Maret 2022

AJARAN SOSIAL GEREJA

 Bagaimana saya memahami Ajaran Sosial Gereja? 

Begini: Dasar ajaran sosial itu kan Yesus yang secara radikal dan sentral mengubah hubungan antara manusia dan Yang Ilahi. Bahwa Yesus mengajar manusia untuk menyebut-Nya sebagai Bapa. Jadi "Sang Hyang Moho Wikan" yang oleh Orang Yahudi dikenal  dengan sebutan Yahweh, baru bisa ditemui di atas Gunung Sinai, dengan iringan Halilintar yang menggelegar, yang membuat takut dan miris, boleh disapa sebagai "bapa".  Ini terekam dalam Doa Bapa Kami (Mat 6:9-13, Luk 11:2-4) dan di dalam surat-surat katolik, misalnya "...Oleh Roh itu kita berseru 'Ya Abba, ya, Bapa!" (Rm 8: 14-15) dengan akibatnya (Gal 4:6). Sebagai akibat bahwa Allah menjadi bapa, maka sesama manusia menjadi saudara. Sebutan baru ini dengan maksud dasar yang sama memiliki makna baru, di tempat lain juga sebutan itu adalah 'sahabat'. (Yoh 15;15). Orang-orang pada jaman Gereja awal, menyebut sesama orang beriman sebagai saudara (adelphos), misalnya Mat 12:50, Mrk 3:35). Perubahan ini bukan hanya menyangkut soal istilah, melainkan menyangkut sikap, cara berpikir cara dan gaya hidup. Ini dikembangkan di dalam jemaat awal dengan membentuk "kumpulan orang yang percaya":"Kumpulan orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama" (Kis.Ras 4:32). Inilah dasar "ajaran sosial" Gereja. "Socius" dalam bahasa Latin berarti "sahabat". Dengan mata orang beriman, seorang yang menerima Kristus juga menerima sesamanya secara baru, bukan hanya sebagai se-"sama", tetapi "sahabat", "saudara se Bapa", atau istilah yang serupa, yang isinya "membebaskan", "menghasilkan kebaikan", "memberi makna hidup secara baru:. (I. Ismartono, SJ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga Perempuan Penjaga Kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi Mariyah (Bunda Maria)

  Dalam keheningan bumi Nusantara, kita mengenal sosok-sosok perempuan yang memancarkan energi kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi M...