Senin, 17 Maret 2025

Earth Hour 2025

Yang terkasih rekan-rekan Sahabat Insan dan para simpatisannya,

Earth Hour 2025 akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 Maret 2025, mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat.  Pada waktu tersebut, individu, komunitas, dan bisnis di seluruh dunia diajak untuk mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak esensial selama satu jam sebagai simbol dukungan terhadap upaya penanggulangan perubahan iklim dan pelestarian lingkungan. 

Earth Hour biasanya dilaksanakan pada Sabtu terakhir bulan Maret. Namun, pada tahun 2025, acara ini dijadwalkan pada 22 Maret, bukan 29 Maret.


Dari Titik ke Ruang Kerjasama

Menulis Laudato Si’ dapat dipandang sebagai terminus a quo titik mula dari sebuah ziarah batin dan sosial menuju pemulihan dunia yang retak. Sebuah ajakan untuk kembali mendengar bisikan bumi yang lelah dan jeritan kaum yang tersingkir. Sementara itu, Bumi Our Common Home adalah terminus ad quem, arah dan tujuan dari seluruh peziarahan ini: sebuah dunia yang lebih bersaudara, lebih lestari, lebih manusiawi.

Namun antara awal dan akhir itu terbentang sebuah jalan panjang jalan yang tak selalu terang, tak selalu mulus. Di jalan itu, komunitas menjadi oasis harapan. Di sanalah benih-benih cinta akan ciptaan disemai; di sanalah spiritualitas ekologis menemukan wujudnya dalam hidup sehari-hari.

Laudato Si’ hanyalah sebuah titik. Tapi titik itu mengandung potensi. Titik yang, bila ditarik dengan kesetiaan, bisa menjadi garis. Garis yang bisa meluas menjadi bidang. Dan bidang itu, bila direngkuh dalam semangat kasih dan dialog, akan menjelma menjadi ruang: ruang hidup bersama, ruang merawat, ruang berbagi, ruang saling meneguhkan.

Namun tak semua orang menyambutnya dengan hangat. Ada yang mencintai Laudato Si’ dengan sepenuh hati, namun ada pula yang menolaknya, bahkan membencinya. Tetapi Ibu Bumi, dalam kebijaksanaannya yang hening, menguatkan anak-anaknya dengan bisikan lembut: Cinta itu menguatkan, dan kebencian itu pun tanpa sadar menjadi dorongan bahwa usaha ini tak bisa dihentikan. Sebab kebenaran tak selalu datang bersama tepuk tangan, dan harapan sering tumbuh dalam tanah yang keras.

Semua itu memerlukan keberanian untuk percaya. Percaya bahwa dari pencaharian yang tak jarang terbentur dan membentuk luka, dapat tumbuh sesuatu yang baru. Sebuah gaya hidup baru yang lahir dari penghayatan mendalam akan relasi: dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan.

Semoga dari titik kecil ini, mengalir arus pertobatan ekologis yang pelan namun pasti mengubah dunia dimulai dari hati kita sendiri.

(I. Ismartono, SJ - Di Hari Bumi 2025)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga Perempuan Penjaga Kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi Mariyah (Bunda Maria)

  Dalam keheningan bumi Nusantara, kita mengenal sosok-sosok perempuan yang memancarkan energi kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi M...