Pulau Flores, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya dan kekayaan budayanya, tetapi juga karena banyak warganya yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Dari desa-desa di Larantuka, Maumere, Bajawa, hingga Ruteng, kisah anak muda Flores yang merantau ke luar negeri untuk mencari penghidupan lebih baik sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial. Lalu, mengapa banyak orang Flores menjadi PMI? Dan pekerjaan apa saja yang mereka lakukan di luar negeri?
Banyak
orang Flores menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) karena sejumlah faktor
struktural, ekonomi, dan kultural yang saling berkaitan. Berikut ini penjelasan
penyebab utamanya dan perkiraan jumlahnya:
Mengapa Banyak Orang Flores Menjadi PMI?
1. Keterbatasan Lapangan Kerja Lokal
1) Di banyak wilayah Flores,
khususnya di pedesaan, lapangan kerja formal sangat terbatas.
2) Sektor pertanian dan perikanan
tidak cukup menyerap tenaga kerja produktif secara berkelanjutan.
3) Kurangnya investasi industri dan
infrastruktur mempersempit peluang ekonomi lokal.
2. Kemiskinan Struktural dan Ketimpangan
Pembangunan
1) NTT, termasuk Flores, merupakan
salah satu provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia.
|
Periode |
Persentase
Kemiskinan |
Jumlah
Penduduk Miskin |
|
Maret 2024 |
19,48 % |
± 1,13 juta orang (jurnalntt.com) |
|
September 2024 |
19,02 % |
± 1,11 juta orang (Media Indonesia) |
|
Maret 2025 (Terbaru) |
18,60 % |
± 1,09 juta orang (Detik NTT, The Kupang Times
Newsroom) |
2) Banyak keluarga mengandalkan remitansi (kiriman uang) dari anggota
keluarga yang bekerja di luar negeri sebagai sumber utama penghidupan.
3. Budaya Merantau dan Jejaring Sosial
1) Ada budaya yang menilai merantau
sebagai jalan menuju keberhasilan.
2) Keberadaan saudara, tetangga,
atau kenalan di negara tujuan mempermudah keberangkatan dan menumbuhkan
kepercayaan sosial untuk ikut.
4. Peran Lembaga Perekrutan (Formal dan Informal)
1) Banyak lembaga perekrutan aktif
beroperasi di Flores, termasuk yang ilegal atau semi-legal.
2) Masyarakat sering kali kurang
akses informasi lengkap tentang hak-hak kerja, risiko eksploitasi dan prosedur
yang benar.
5. Kurangnya Pendidikan dan Pelatihan Vokasional
1) Banyak calon migran hanya
memiliki pendidikan dasar dan minim pelatihan keterampilan.
2) Karena itu, mereka lebih mudah
terserap ke sektor domestik seperti asisten rumah tangga, buruh kebun, atau
pekerja bangunan di luar negeri.
6. Pengorbanan Demi Keluarga Sebagai Bingkai
Religius: Menderita Demi Anak
Dalam beberapa kasus, terutama perempuan,
keberangkatan sebagai PMI dipandang sebagai pengorbanan demi keluarga — bahkan
kadang dibingkai secara religius (misalnya, "menderita demi anak").
7. Perkiraan Jumlah PMI dari Flores
Data
resmi tentang jumlah spesifik PMI dari Flores cukup sulit didapat karena
data biasanya diklasifikasikan per provinsi atau kabupaten, bukan per pulau.
Namun, berikut ini beberapa estimasi berdasarkan sumber BNP2TKI, BP2MI, dan
penelitian lokal:
1) NTT adalah provinsi pengirim PMI
tertinggi ketiga di Indonesia, setelah Jawa Timur dan Jawa Barat.
2) Sekitar 60–70% PMI asal NTT
berasal dari pulau Flores dan pulau-pulau kecil sekitarnya.
3) Berdasarkan laporan tahunan BP2MI
(2022 dan 2023):
a) Sekitar 30.000–40.000 PMI dari
NTT diberangkatkan tiap tahun, baik secara prosedural maupun nonprosedural.
b) Dari jumlah itu, diperkirakan
18.000–25.000 berasal dari Flores, khususnya kabupaten seperti Ende, Sikka,
Nagekeo, dan Manggarai Timur.
Jumlah
PMI nonprosedural (ilegal) dari Flores juga cukup tinggi, dan sering
kali menjadi korban perdagangan orang atau kerja paksa, terutama di Timur
Tengah dan Malaysia.
Orang
Flores menjadi PMI karena desakan ekonomi, terbatasnya pilihan lokal, dan
pengaruh budaya migrasi. Mereka sering kali melihat pekerjaan di luar negeri
sebagai "strategi bertahan hidup" dan "jalan menuju
harapan". Namun, risiko eksploitasi dan perdagangan orang tetap
menjadi tantangan serius yang membutuhkan intervensi negara, Gereja dan
masyarakat sipil.
8. Akar Masalah: Campuran Ekonomi, Struktur dan
Budaya, Terutama Tekanan Ekonomi
1) Banyak
keluarga di Flores masih hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Pendapatan
dari bertani atau berdagang kecil-kecilan seringkali tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk pendidikan anak.
2) Kiriman
uang dari luar negeri (remitansi) menjadi penopang utama ekonomi rumah tangga.
3) Kurangnya
Lapangan Kerja Lokal: Minimnya industri di Flores membuat lulusan sekolah
menengah tak punya banyak pilihan pekerjaan, selain bertani atau merantau.
4) Budaya
Merantau: Di banyak komunitas di Flores, merantau ke luar negeri dipandang
sebagai pilihan hidup yang wajar, bahkan membanggakan. Banyak yang berhasil
membangun rumah, membuka usaha, atau menyekolahkan adik-adiknya berkat menjadi
PMI.
9. Negara Tujuan dan Jenis Pekerjaan Orang
Flores
Berikut adalah negara tujuan utama orang Flores menjadi PMI, diurutkan dari yang paling banyak, beserta jenis pekerjaan yang umum dilakukan:
1) Arab Saudi
a) Jenis
pekerjaan: Pekerja rumah tangga (PRT), Perawat lansia informal, Supir pribadi
atau penjaga rumah
b) Arab
Saudi telah menjadi tujuan utama sejak 1980-an, terutama bagi perempuan muda
dari Flores Timur dan Lembata. Banyak yang direkrut melalui jalur informal.
2) Malaysia
a) Jenis pekerjaan:
Buruh kebun kelapa sawit dan karet (di Sabah dan Sarawak). Buruh konstruksi
b) Pekerja rumah tangga.
Karena kedekatan geografis dan jaringan sosial yang kuat, Malaysia menjadi
negara tujuan paling "mudah diakses", walau banyak migrasi dilakukan
tanpa dokumen resmi.
3) Taiwan
Jenis pekerjaan: Caregiver (perawat lansia dan disabilitas). Operator pabrik elektronik dan komponen mesin. Catatan: Banyak perempuan Flores bekerja sebagai caregiver karena permintaan tinggi dan pelatihan yang tersedia dari agen penyalur.
4) Hong Kong
a) Jenis pekerjaan:
Pekerja rumah tangga professional, Babysitter dan pendamping lansia
b) Meski jumlahnya tak
sebanyak di Taiwan atau Malaysia, pekerja dari Flores di Hong Kong cukup
terkenal karena keterampilan dan sikap kerja yang baik.
5) Jepang
Jenis pekerjaan: Perawat
dan caregiver (melalui program pemagangan teknis), Buruh pabrik makanan,
logistik, atau pengolahan hasil laut. Mayoritas adalah lulusan SMA atau sekolah
keperawatan yang mengikuti pelatihan bahasa Jepang dan seleksi ketat.
6) Korea Selatan
Jenis pekerjaan: Buruh
pabrik tekstil, logistik, atau manufaktur, Pekerja pertanian (musiman) Catatan:
Mereka umumnya masuk lewat skema Employment Permit System (EPS).
Jumlahnya masih terbatas, tapi meningkat setiap tahun karena gaji yang tinggi
dan sistem kerja yang lebih tertib.
10. Perjuangan dan Harapan
Fenomena migrasi orang
Flores sebagai PMI bukan sekadar soal mencari uang, tapi juga menyangkut
harapan akan kehidupan yang lebih baik. Mereka bekerja keras jauh dari keluarga
demi membiayai sekolah adik, membangun rumah, atau sekadar membantu orang tua
yang menua.
Namun, perjuangan ini tidak
mudah. Banyak yang mengalami masalah seperti upah yang tidak dibayar, kekerasan
dari majikan, atau kesulitan adaptasi di negeri orang. Oleh karena itu, perlindungan
dan pembekalan keterampilan bagi calon PMI sangat penting, agar kerja keras
mereka benar-benar bisa membawa perubahan bagi Flores dan keluarganya.
11. Skema Employment Permit System (EPS).
Apa yang dimaksud
dengan: skema Employment Permit
System (EPS). Bagaimana itu berlaku di Indonesia? Employment Permit
System (EPS) adalah sistem perekrutan tenaga kerja asing yang diberlakukan
oleh pemerintah Korea Selatan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor
industri dan pertanian, sekaligus mengatur arus masuk pekerja asing secara
legal dan tertib.
Apa itu EPS?: EPS adalah singkatan dari
Employment Permit System, yaitu program kerja resmi yang memungkinkan
warga negara dari negara-negara mitra, termasuk Indonesia) untuk bekerja di
Korea Selatan dalam jangka waktu tertentu. Program ini dikelola langsung oleh
pemerintah Korea Selatan melalui Human Resources Development Service of
Korea (HRD Korea).
Bagaimana EPS berlaku di Indonesia? Di
Indonesia, EPS dijalankan melalui kerja sama antara: Kementerian
Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker), BP2MI (Badan Pelindungan Pekerja
Migran Indonesia), HRD Korea
Indonesia menjadi salah
satu negara pengirim tenaga kerja ke Korea Selatan sejak tahun 2004 di bawah
skema EPS. Warga Indonesia yang ingin bekerja ke Korea harus melalui jalur
resmi ini, yang mengutamakan seleksi keterampilan dan bahasa Korea (EPS-TOPIK).
Istilah Indonesia untuk EPS:
Dalam konteks Indonesia, EPS biasa disebut sebagai: Program G to G Korea (Singkatan
dari: Government to Government, Artinya, proses perekrutan tenaga kerja
dilakukan antar-pemerintah—bukan oleh perusahaan swasta atau calo.
Sektor Pekerjaan dalam EPS:
Pekerja Indonesia yang lolos EPS biasanya ditempatkan di sektor: Manufaktur
(pabrik makanan, logistik, tekstil, elektronik), Pertanian, Peternakan, Perikanan
dengan skema khusus, termasuk E-10 visa yaitu E-10 visa adalah jenis visa kerja yang
dikeluarkan oleh pemerintah
Korea Selatan, yang diberikan kepada pekerja asing yang
masuk dalam Program
Permit Kerja untuk Sektor Tertentu, terutama yang melibatkan
pekerjaan maritim atau
pelaut. Syarat Utama Mengikuti EPS (G to G Korea): Usia
18–39 tahu, Pendidikan minimal SMP’ Sehat jasmani dan rohani, Lulus ujian
EPS-TOPIK (ujian bahasa Korea), Tidak memiliki catatan criminal, Belum pernah
dideportasi dari Korea, engikuti pelatihan dan prosedur resmi dari BP2MI
Keunggulan Program EPS: Gaji
tinggi (setara atau lebih dari UMR Korea), Skema kerja legal dan terproteksi, Bebas
dari calo karena diselenggarakan langsung oleh pemerintah. Peluang
memperpanjang kontrak hingga 4 tahun 10 bulan
12. Catatan Penting
Meskipun EPS adalah jalur
resmi dan legal, jumlah kuota terbatas dan persaingan cukup ketat. Maka,
penting bagi calon PMI untuk belajar bahasa Korea secara serius dan menghindari
jalur non-prosedural.
Jakarta,
Awal Agustus, 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar