![]() |
| https://www.druckerforum.org/blog/the-20th-century-most-influential-management-thinker-by-annika-steiber/ |
Gereja Katolik dewasa ini menghadapi perubahan besar yang menuntut pembaruan cara berpikir dan cara bermisi. Krisis ekologis, perdagangan manusia, ketidakadilan sosial, dan percepatan perubahan budaya memaksa Gereja untuk menilai ulang cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Dalam konteks ini, Laudato Si’ tampil bukan sekadar sebagai dokumen magisterium, tetapi sebagai pemantik transformasi budaya menurut logika yang dijelaskan oleh Edgar H. Schein.
Schein menggambarkan budaya organisasi seperti air: dapat membeku (freeze) menjadi bentuk yang stabil, mencair (unfreeze) ketika bentuk lama tidak lagi memadai, dan membeku kembali (refreeze) dalam bentuk baru yang lebih relevan. Dalam kerangka ini, budaya terdiri dari tiga lapisan: artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar.
1. Budaya Gereja sebagai air yang “membeku”
Selama berabad-abad, Gereja memiliki budaya yang kaya dan stabil. Artefaknya tampak dalam tata liturgi, struktur hierarkis, tata kelola paroki, cara mengajar dan berkatekese, serta simbol-simbol iman. Nilai yang dianut tampak dalam ajaran sosial, spiritualitas sakramental, dan visi misi universalnya. Di kedalaman, terdapat asumsi dasar yang jarang dipertanyakan — seperti cara memandang manusia di atas ciptaan, atau model pastoral yang menempatkan Gereja sebagai pusat kehidupan sosial.
Ketiga lapisan
ini — artefak, nilai, dan asumsi dasar — telah lama “membeku”, memberi
stabilitas namun juga berpotensi menjadi kaku ketika dunia berubah.
2. Krisis global dan Laudato Si’ sebagai proses “pencairan”
Perubahan iklim, kehancuran ekosistem, dan meningkatnya perdagangan manusia mengguncang stabilitas budaya itu. Laudato Si’ membuka mata Gereja bahwa krisis ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan krisis moral dan spiritual yang menantang asumsi dasar Gereja. Kerangka ekologi integral Paus Fransiskus menggoyang cara lama memandang ciptaan hanya sebagai sumber daya.
Pada tahap
ini, terjadi unfreezing: artefak lama
dipertanyakan (misalnya gaya hidup institusional yang tidak berkelanjutan),
nilai yang dianut dibaca ulang (misalnya solidaritas universal), dan asumsi
dasar diguncang (misalnya pemisahan tegas antara moral sosial dan moral
ekologis).
3. Mengalir menuju budaya baru: ekologi integral sebagai nilai pembentuk
Pada tahap “mencair”, Gereja mulai mengalir ke arah baru. Laudato Si’ memberi nilai yang dianut yang baru atau diperdalam: tanggung jawab terhadap rumah bersama, perlindungan terhadap yang rapuh, dan relasi yang harmonis antara manusia–ciptaan–Allah. Nilai-nilai baru ini mendorong perubahan nyata:
- munculnya spiritualitas ekologis,
- tindakan pastoral yang menggabungkan keadilan sosial dengan keadilan ekologis,
- keterlibatan dalam advokasi perdagangan manusia,
- praktik sinodal yang menekankan mendengar jeritan bumi dan jeritan mereka yang tertindas,
- gaya hidup komunitas religius yang lebih sederhana dan ekologis.
Perubahan nilai ini perlahan membentuk ulang artefak baru: kebijakan energi, kebun organik komunitas, kurikulum formasi, struktur pelayanan sosial, dan langkah-langkah keberlanjutan dalam keuskupan.
4. Membeku kembali: internalisasi nilai menjadi asumsi dasar Gereja
Tahap refreezing terjadi ketika nilai baru mulai menjadi asumsi dasar baru. Inilah yang sedang terjadi dalam berbagai upaya Gereja:
- Laudate Deum sebagai penegasan lanjutan.
- Integrasi ekologi integral dalam pendidikan seminari dan universitas Katolik.
- Platform aksi global Laudato Si’ yang mengikat lembaga Gereja pada komitmen berkelanjutan.
- Kebijakan penggunaan aset Gereja secara etis dan ekologis.
- Praksis pastoral baru yang menggabungkan perlindungan bumi dan pembelaan korban perdagangan manusia dalam satu kesatuan misi.
Dalam titik
ini, budaya Gereja tidak hanya berubah di permukaan (artefak), tetapi juga pada
lapis nilai yang dianut dan bahkan pada asumsi dasar, yaitu cara Gereja
memahami dirinya sebagai pelayan rekonsiliasi dengan Allah, sesama, dan seluruh
ciptaan.
5. Transformasi budaya Serikat Jesus dalam arus ini
Turunnya jumlah Jesuit hampir 50% dalam 50 tahun terakhir memperjelas kebutuhan akan pembaruan budaya misi. Universal Apostolic Preferences (UAP) menjadi alat transformasi budaya internal: pendampingan kaum muda, berjalan bersama mereka yang tersingkir, menunjukkan jalan kepada Allah lewat Latihan Rohani, dan merawat rumah bersama.
Dalam kerangka
Schein, UAP sedang menggeser artefak (cara bekerja, struktur komunitas), nilai
yang dianut (pendampingan, kedekatan dengan korban, ekologi integral), dan
bahkan asumsi dasar tentang identitas dan cara bermisi. Komitmen ini merupakan
bagian dari tradisi Jesuit yang mendalam: Sentire
cum Ecclesia, berpikir dan merasa bersama Gereja. Dengan demikian,
keterlibatan dalam isu ekologis dan perdagangan manusia menjadi bentuk
kesetiaan Jesuit terhadap panggilan Gereja universal di tengah dunia yang
terluka.
Penutup
Membaca
Laudato Si’ melalui kerangka Edgar Schein memperlihatkan bahwa dokumen ini
adalah pemicu transformasi budaya Gereja: mencairkan budaya lama, mengalirkan
nilai baru, dan membentuk asumsi dasar baru yang mencerminkan Injil dan
kebutuhan zaman. Transformasi budaya ini adalah jalan Gereja untuk semakin
setia pada misi Kristus dan semakin berpihak kepada bumi serta mereka yang
paling menderita.
I. Ismartono, SJ
Via Renata,
Cimacan
Hari Raya
Kristus Raja 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar