Sikap Nostra Aetate yang positif terhadap agama Buddha dapat menjadi dasar bagi seorang Katolik untuk menghagai juga singing bowl dari Tibet sebagai alat untuk bermeditasi
“Budhisme dalam pelbagai alirannya mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau-entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas, mencapai penerangan yang tertinggi.” (Dokumen Konsili Vatikan Ii Nostra Aetate (Pada Zaman Kita) Pernyataan Tentang Hubungan Gereja Dengan Agama-Agama Bukan Kristiani, No. 2)
Dokumen Nostra Aetate (1965) dari Konsili Vatikan II
menandai perubahan penting dalam cara Gereja Katolik memandang agama-agama
lain, termasuk Buddhisme. Dalam teksnya, Gereja mengakui bahwa dalam Buddhisme
terdapat “cara hidup, ajaran dan praktik” yang, meskipun berbeda, sering
mencerminkan pencarian tulus akan pembebasan dari penderitaan dan pencapaian
pencerahan. Sikap ini bukan sekadar toleransi pasif, tetapi penghargaan aktif
terhadap nilai-nilai rohani yang ada dalam tradisi lain.
Dari perspektif ini, seorang Katolik diajak untuk
mengembangkan sikap hormat terhadap unsur-unsur simbolik dan praksis dalam
Buddhisme, sejauh unsur-unsur tersebut membantu manusia untuk semakin hening,
sadar, dan terbuka terhadap Yang Ilahi. Salah satu unsur yang dapat dilihat
dalam kerangka ini adalah Singing Bowl Tibet, yang secara tradisional
digunakan dalam praktik meditasi Buddhis untuk membantu konsentrasi dan
keheningan batin melalui getaran suara yang berulang dan menenangkan.
Dalam terang Nostra Aetate, penggunaan singing bowl
tidak harus dipahami sebagai adopsi iman Buddhis, melainkan sebagai pemanfaatan
sarana manusiawi yang dapat membantu disposisi batin untuk berdoa atau
bermeditasi. Seperti halnya Gereja sepanjang sejarah telah mengadopsi berbagai
unsur budaya (misalnya musik, arsitektur, atau simbol lokal) dan memurnikannya
dalam terang Injil, demikian pula alat seperti singing bowl dapat
dipandang sebagai bantuan kontemplatif yang netral secara iman, tergantung pada
intensi penggunaannya.
Lebih jauh, jika dikaitkan dengan spiritualitas kontemplatif
dalam tradisi Katolik misalnya dalam praktik doa hening atau centering
prayer alat seperti singing bowl dapat berfungsi sebagai penanda
ritmis untuk memasuki keheningan batin. Dalam hal ini, yang utama bukanlah
alatnya, tetapi orientasi hati kepada Allah. Maka, selama tidak menggantikan
iman Kristiani atau mengaburkan identitas iman, penggunaan alat tersebut dapat
dipahami sebagai bagian dari sikap dialogis dan terbuka yang dianjurkan oleh
Nostra Aetate.
Dengan demikian, sikap positif Gereja terhadap Buddhisme
membuka ruang bagi seorang Katolik untuk menghargai bahkan menggunakan
unsur-unsur tertentu, seperti singing bowl,sebagai sarana bantu dalam
perjalanan rohani, dalam semangat dialog, penghargaan, dan pencarian kebenaran
yang lebih mendalam.
Laudato Si’
Dalam Laudato Si', Paus Fransiskus berbicara tentang bumi
sebagai Our Common Home yang “menjerit” karena kerusakan ekologis.
Jeritan ini bukan sekadar metafora puitis, tetapi suatu “suara” yang menuntut
kepekaan batin suara kaum miskin, suara alam, suara ciptaan yang terluka.
Persoalannya: manusia modern sering kehilangan kemampuan untuk mendengar secara
mendalam.
Di sinilah latihan mendengarkan menjadi penting. Salah satu
cara sederhana namun efektif adalah melalui suara Singing Bowl Tibet.
Bukan karena alat ini memiliki makna religius tertentu bagi iman Katolik,
tetapi karena ia dapat menjadi sarana pedagogis untuk melatih kepekaan indera
dan batin.
Bagaimana proses latihan itu terjadi?
Pertama, belajar diam. Ketika singing bowl
dibunyikan, suara yang muncul tidak langsung hilang, tetapi bergetar perlahan.
Untuk sungguh mendengarnya, seseorang harus berhenti, hening, dan memberi
perhatian penuh. Ini melatih disiplin dasar: keluar dari kebisingan dan
distraksi.
Kedua, belajar mendengarkan secara utuh. Suara
singing bowl tidak hanya didengar sebagai bunyi, tetapi sebagai
gelombang yang bergerak, naik-turun, lalu menghilang. Latihan ini mengasah
kesadaran akan proses bahwa realitas tidak statis. Dalam konteks Laudato Si',
ini membantu kita menyadari bahwa kerusakan lingkungan juga adalah proses yang
sering halus, perlahan, namun nyata.
Ketiga, belajar peka terhadap yang halus. Pada
awalnya kita hanya mendengar bunyi keras di awal pukulan. Tetapi jika perhatian
dipertajam, kita mulai mendengar resonansi yang semakin lembut. Di sinilah
terjadi transformasi: telinga dilatih untuk menangkap yang hampir tak
terdengar. Analogi rohaninya jelas jeritan bumi sering tidak keras seperti
bencana besar, tetapi hadir dalam tanda-tanda kecil: udara yang memburuk, air
yang tercemar, suhu yang berubah.
Keempat, menghubungkan pendengaran dengan empati.
Mendengarkan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi sikap hati. Ketika seseorang
sungguh mendengarkan suara hingga tuntas, ia belajar sabar, menerima, dan
hadir. Dari sini tumbuh kemampuan untuk “mendengar” penderitaan ciptaan
sebagaimana diserukan oleh Paus Fransiskus.
Latihan konkret yang bisa dilakukan:
- Duduk hening, bunyikan singing bowl sekali.
- Ikuti suara itu sampai benar-benar hilang.
- Perhatikan bagaimana perhatian Anda bergerak: mudah
teralihkan atau tetap setia.
- Setelah itu, alihkan latihan yang sama ke
lingkungan: dengarkan suara angin, burung, atau bahkan keheningan.
- Akhiri dengan refleksi: “Apa yang selama ini tidak
saya dengar dari bumi?”
Dengan cara ini, singing bowl menjadi semacam “guru
awal” bagi indera pendengaran. Ia melatih manusia untuk kembali menjadi
pendengar yang sabar dan peka. Dari latihan sederhana ini, seseorang perlahan
dibentuk untuk mampu menangkap “jeritan” Our Common Homebukan hanya
sebagai informasi, tetapi sebagai panggilan moral dan spiritual. (I. Ismartono,
SJ – April 2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar