Ungkapan-ungkapan Latin sering menjadi adagium, ungkapan singkat yang memuat kebijaksanaan umum, lahir dari pengalaman panjang manusia, dan luas sebagai kebenaran praktis. yang merangkum pengalaman sejarah manusia dalam kalimat pendek namun tajam. Di antara yang paling terkenal adalah “Si vis pacem, para bellum”- “Jika ingin damai, bersiaplah untuk perang.” Dari sana, dalam perjalanan panjang sejarah, muncul pergeseran makna: dari logika kekuatan, menuju logika keadilan, dan akhirnya menuju logika perawatan ciptaan. Perjalanan ini kecuali merupakan permainan kata, juga merupakan cermin perubahan kesadaran manusia dari zaman ke zaman.
1. Asal-usul: “Si vis pacem, para bellum”
Ungkapan ini berasal dari Publius Flavius Vegetius
Renatus, dalam karyanya Epitoma Rei Militaris, yang ditulis sekitar
akhir abad ke-4 Masehi dalam konteks Kekaisaran Romawi.
Latar sosial-politik
Pada masa itu, Kekaisaran
Romawi sedang mengalami: Kemunduran militer dan administrative, , ancaman
dari bangsa-bangsa “barbar” di perbatasan dan disiplin tentara yang merosot
Vegetius menulis sebagai seorang yang prihatin
terhadap melemahnya kekuatan militer Roma. Baginya, perdamaian hanya bisa
dijaga jika negara tetap kuat secara militer. Maka, kalimat itu bukan
sekadar nasihat, melainkan strategi bertahan hidup sebuah imperium. Damai,
dalam konteks ini, adalah hasil dari kesiapsiagaan perang.
2. Pergeseran: “Si vis pacem, para pacem”
Dalam perkembangan modern terutama setelah dua Perang
Dunia I dan Perang Dunia II muncul kritik tajam terhadap logika militeristik
tersebut. Ungkapan tandingan mulai dirumuskan: “Si vis pacem, para pacem”
Jika ingin damai, bersiaplah untuk damai.
Latar sosial-politik
- Trauma global akibat perang besar
- Munculnya gerakan perdamaian dan
diplomasi internasional
- Lahirnya lembaga seperti Perserikatan
Bangsa-Bangsa
Di sini, damai tidak lagi dilihat sebagai hasil
ancaman kekuatan, tetapi sebagai buah dari upaya aktif membangun relasi,
dialog, dan kerja sama. Damai mulai dipahami sebagai proyek, bukan
sekadar kondisi.
3. Pendalaman etis: “Si vis pacem, cole iustitiam”
Tahap berikutnya adalah kesadaran bahwa damai tidak
cukup hanya “dipersiapkan”, tetapi harus berakar pada keadilan. Ungkapan:
“Si vis pacem, cole iustitiam” Jika ingin damai, peliharalah
keadilan.
Ini selaras dengan ajaran sosial Gereja, khususnya
ensiklik Pacem in Terris dari Paus Yohanes XXIII.
Latar sosial-politik
- Era Perang Dingin
- Ketegangan nuklir dan ancaman
kehancuran global
- Ketimpangan ekonomi dan kolonialisme
yang masih terasa
Gereja menegaskan: Tidak ada damai tanpa keadilan
(opus iustitiae pax). Damai bukan sekadar tidak ada perang, tetapi
adanya:
- Hak asasi manusia
- Keadilan sosial
- Martabat manusia
4. Horizon baru: “Si vis pacem, cura creationem”
Dalam konteks krisis ekologis global, muncul horizon
baru: “Si vis pacem, cura creationem” Jika ingin damai, rawatlah
ciptaan. Ungkapan ini dapat dikaitkan dengan arah pemikiran ekologis Gereja
yang dipertegas oleh Paus Leo XIV dalam narasi ini, sejalan dengan semangat
Laudato Si’ dari Paus Fransiskus.
Kalimat ini dipergunakan oleh Paus Leo XIV dalam
pesannya yang disampaikan oleh Kardinal Pietro Parolin, pada
Sidang ke-30 Konferensi para pihak pada Konvensi dalam rangka PBB tentang
perubahan iklim (COP30) di Belém pada tanggal 07 November 2025.
“If you want to cultivate peace, care for creation.
There is a clear link between peacebuilding and the stewardship for creation:
“The quest for peace by people of good will surely would become easier if all
acknowledge the indivisible relationship between God, human beings and the
whole of creation.” – “Jika Anda ingin menumbuhkan perdamaian, rawatlah
ciptaan. Terdapat hubungan yang jelas antara pembangunan perdamaian dan
pengelolaan ciptaan: “Upaya mencari perdamaian oleh orang-orang yang
berkehendak baik pasti akan menjadi lebih mudah jika semua mengakui hubungan
yang tak terpisahkan antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan.” (Message from
His Holiness Pope Leo XIV delivered by Cardinal Secretary of State Pietro
Parolin at the Thirtieth Session of The Conference of The Parties to The United
Nations Framework Convention on Climate Change (COP30) in Belém)
Latar sosial-politik:
- Krisis iklim global
- Kerusakan lingkungan dan hilangnya
keanekaragaman hayati
- Ketidakadilan ekologis (yang miskin
paling terdampak)
Kesadaran baru muncul: Tidak
mungkin ada damai jika bumi rusak. Konflik modern tidak lagi hanya
merupakan konflik:
- Antarnegara
- Akibat perebutan sumber daya
- Migrasi karena perubahan iklim
- Krisis air dan pangan
Maka damai kini dipahami
sebagai:
- Harmoni dengan alam
- Keadilan antar generasi
- Tanggung jawab ekologis
5. Kesimpulan: Evolusi Makna Damai
Perjalanan keempatnya ini menunjukkan perkembangan
kesadaran manusia:
|
Tahap |
Ungkapan |
Logika |
|
Klasik |
Para bellum |
Damai lewat kekuatan |
|
Modern awal |
Para pacem |
Damai lewat usaha |
|
Etis |
Cole iustitiam |
Damai lewat keadilan |
|
Ekologis |
Cura creationem |
Damai lewat perawatan bumi |
Penutup reflektif
Jika dahulu manusia percaya bahwa senjata menjaga
damai, kini semakin jelas bahwa: Damai sejati lahir ketika manusia
berdamai dengan sesama, dengan keadilan, dan dengan bumi sebagai rumah bersama.
Perjalanan dari bellum (perang) ke creationem (ciptaan)
adalah perjalanan peradaban dari kekuasaan menuju tanggung jawab.
Jakarta, 06 Mei
2026
Ignatius
Ismartono, SJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar