Rabu, 06 Mei 2026

DARI “SI VIS PACEM, PARA BELLUM” KE “SI VIS PACEM, CURA CREATIONEM”

 Ungkapan-ungkapan Latin sering menjadi adagium, ungkapan singkat yang memuat kebijaksanaan umum, lahir dari pengalaman panjang manusia, dan luas sebagai kebenaran praktis.  yang merangkum pengalaman sejarah manusia dalam kalimat pendek namun tajam. Di antara yang paling terkenal adalah Si vis pacem, para bellum”-  “Jika ingin damai, bersiaplah untuk perang.” Dari sana, dalam perjalanan panjang sejarah, muncul pergeseran makna: dari logika kekuatan, menuju logika keadilan, dan akhirnya menuju logika perawatan ciptaan. Perjalanan ini kecuali merupakan  permainan kata, juga merupakan cermin perubahan kesadaran manusia dari zaman ke zaman.

 1. Asal-usul: “Si vis pacem, para bellum

Ungkapan ini berasal dari Publius Flavius Vegetius Renatus, dalam karyanya Epitoma Rei Militaris, yang ditulis sekitar akhir abad ke-4 Masehi dalam konteks Kekaisaran Romawi.

Latar sosial-politik

Pada masa itu, Kekaisaran Romawi sedang mengalami: Kemunduran militer dan administrative, , ancaman dari bangsa-bangsa “barbar” di perbatasan dan disiplin tentara yang merosot

Vegetius menulis sebagai seorang yang prihatin terhadap melemahnya kekuatan militer Roma. Baginya, perdamaian hanya bisa dijaga jika negara tetap kuat secara militer. Maka, kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan strategi bertahan hidup sebuah imperium. Damai, dalam konteks ini, adalah hasil dari kesiapsiagaan perang.

 2. Pergeseran: “Si vis pacem, para pacem

Dalam perkembangan modern terutama setelah dua Perang Dunia I dan Perang Dunia II muncul kritik tajam terhadap logika militeristik tersebut. Ungkapan tandingan mulai dirumuskan: Si vis pacem, para pacem Jika ingin damai, bersiaplah untuk damai.

Latar sosial-politik

  1. Trauma global akibat perang besar
  2. Munculnya gerakan perdamaian dan diplomasi internasional
  3. Lahirnya lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa

Di sini, damai tidak lagi dilihat sebagai hasil ancaman kekuatan, tetapi sebagai buah dari upaya aktif membangun relasi, dialog, dan kerja sama. Damai mulai dipahami sebagai proyek, bukan sekadar kondisi.

  3. Pendalaman etis: “Si vis pacem, cole iustitiam

Tahap berikutnya adalah kesadaran bahwa damai tidak cukup hanya “dipersiapkan”, tetapi harus berakar pada keadilan. Ungkapan: Si vis pacem, cole iustitiamJika ingin damai, peliharalah keadilan.

Ini selaras dengan ajaran sosial Gereja, khususnya ensiklik Pacem in Terris dari Paus Yohanes XXIII.

Latar sosial-politik

  1. Era Perang Dingin
  2. Ketegangan nuklir dan ancaman kehancuran global
  3. Ketimpangan ekonomi dan kolonialisme yang masih terasa

Gereja menegaskan: Tidak ada damai tanpa keadilan (opus iustitiae pax). Damai bukan sekadar tidak ada perang, tetapi adanya:

  1. Hak asasi manusia
  2. Keadilan sosial
  3. Martabat manusia

 4. Horizon baru: “Si vis pacem, cura creationem

Dalam konteks krisis ekologis global, muncul horizon baru: Si vis pacem, cura creationem Jika ingin damai, rawatlah ciptaan. Ungkapan ini dapat dikaitkan dengan arah pemikiran ekologis Gereja yang dipertegas oleh Paus Leo XIV dalam narasi ini, sejalan dengan semangat Laudato Si’ dari Paus Fransiskus.

Kalimat ini dipergunakan oleh Paus Leo XIV dalam pesannya yang disampaikan oleh Kardinal Pietro Parolin, pada Sidang ke-30 Konferensi para pihak pada Konvensi dalam rangka PBB tentang perubahan iklim (COP30) di Belém pada tanggal 07 November 2025.

“If you want to cultivate peace, care for creation. There is a clear link between peacebuilding and the stewardship for creation: “The quest for peace by people of good will surely would become easier if all acknowledge the indivisible relationship between God, human beings and the whole of creation.” – “Jika Anda ingin menumbuhkan perdamaian, rawatlah ciptaan. Terdapat hubungan yang jelas antara pembangunan perdamaian dan pengelolaan ciptaan: “Upaya mencari perdamaian oleh orang-orang yang berkehendak baik pasti akan menjadi lebih mudah jika semua mengakui hubungan yang tak terpisahkan antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan.” (Message from His Holiness Pope Leo XIV delivered by Cardinal Secretary of State Pietro Parolin at the Thirtieth Session of The Conference of The Parties to The United Nations Framework Convention on Climate Change (COP30) in Belém)

Latar sosial-politik:

  1. Krisis iklim global
  2. Kerusakan lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati
  3. Ketidakadilan ekologis (yang miskin paling terdampak)

Kesadaran baru muncul: Tidak mungkin ada damai jika bumi rusak. Konflik modern tidak lagi hanya merupakan konflik:

  1. Antarnegara
  2. Akibat perebutan sumber daya
  3. Migrasi karena perubahan iklim
  4. Krisis air dan pangan

Maka damai kini dipahami sebagai:

  1. Harmoni dengan alam
  2. Keadilan antar generasi
  3. Tanggung jawab ekologis

 5. Kesimpulan: Evolusi Makna Damai

Perjalanan keempatnya ini menunjukkan perkembangan kesadaran manusia:

Tahap

Ungkapan

Logika

Klasik

Para bellum

Damai lewat kekuatan

Modern awal

Para pacem

Damai lewat usaha

Etis

Cole iustitiam

Damai lewat keadilan

Ekologis

Cura creationem

Damai lewat perawatan bumi

 Penutup reflektif

Jika dahulu manusia percaya bahwa senjata menjaga damai, kini semakin jelas bahwa: Damai sejati lahir ketika manusia berdamai dengan sesama, dengan keadilan, dan dengan bumi sebagai rumah bersama. Perjalanan dari bellum (perang) ke creationem (ciptaan) adalah perjalanan peradaban dari kekuasaan menuju tanggung jawab.

 

Jakarta, 06 Mei 2026

Ignatius Ismartono, SJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI “SI VIS PACEM, PARA BELLUM” KE “SI VIS PACEM, CURA CREATIONEM”

  Ungkapan-ungkapan Latin sering menjadi adagium, ungkapan singkat yang memuat kebijaksanaan umum, lahir dari pengalaman panjang manusia, da...