Di Jalan Menteng Raya 64, Jakarta, terdapat sebuah kapel bernama Kapel Kanisius. Setiap hari kerja, kapel ini selalu mengadakan misa harian. Pada hari-hari sekolah, biasanya tiga siswa terlibat dalam melayani Ekaristi. Dua di antaranya menjadi putra altar, sementara seorang lainnya menjadi lektor atau pembaca bacaan pertama. Namun, ada yang berbeda ketika masa liburan tiba.
Masa liburan adalah waktu yang biasanya dimanfaatkan siswa untuk beristirahat dari rutinitas sekolah. Namun, di Kapel Kanisius, tiga anak muda tetap hadir untuk melayani altar meskipun mereka sedang libur sekolah. Kehadiran mereka sungguh istimewa. Mereka datang bukan untuk belajar, tetapi untuk melayani Tuhan dengan penuh semangat.
Pada hari itu, bacaan Injil mengajarkan tentang doa Bapa Kami. Yesus mengajarkan untuk menyapa Allah sebagai Bapa. Mengapa menyapa Allah sebagai Bapa itu istimewa? Karena Allah bukanlah sosok yang mudah marah atau penghukum, melainkan sosok yang mencintai kita tanpa syarat. Akibat langsung dari menyapa Allah sebagai Bapa adalah bahwa kita melihat sesama sebagai saudara, terjalinlah ikatan persaudaraan yang erat.
Ketiga siswa ini, dengan tulus melayani altar, memuliakan Allah dengan tindakan mereka. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, siapa ibu mereka? Orang-orang ingin mengetahui siapa ibu mereka karena mereka ingin memuji sang ibu atas didikannya yang berhasil. Mungkin hanya dengan senyuman dan anggukan kepala, pujian itu disampaikan.
Setiap kali kita berbuat baik bagi sesama, siapa yang juga dimuliakan? Tak lain adalah Allah, Bapa kita. Doa yang menyapa Allah sebagai Bapa semakin menegaskan bahwa sesama adalah saudara. Ketika kita berbuat baik bagi sesama, Bapa di surga dimuliakan, sama seperti ibu yang dimuliakan karena anaknya berbuat baik. Begitu pula dengan ketiga siswa ini, yang meski sedang libur sekolah, tetap melayani altar dengan penuh dedikasi.
Dalam doa Bapa Kami, kita juga diajarkan untuk mengampuni sesama seperti Allah mengampuni kita. Seberapa besar Allah mengampuni kita? Sebesar ampun kita kepada orang yang bersalah kepada kita. Jika kita memberikan ampun yang besar, maka Allah juga akan memberikan ampun yang besar kepada kita. Sebaliknya, jika kita sulit mengampuni, maka ampun dari Allah pun akan sulit kita dapatkan.
"Tuhan, ajarilah kami untuk mengampuni saudara-saudari yang bersalah kepada kami dengan ampun sebesar mungkin, karena kami juga ingin Kauampuni dengan ampun yang besar pula. Amin." - I. Ismartono, SJ.
Kisah tiga siswa yang tetap melayani di Kapel Kanisius meskipun sedang libur sekolah ini mengingatkan kita bahwa kebaikan dan pelayanan kepada sesama adalah bentuk nyata dari memuliakan Allah. Mari kita meneladani mereka dengan terus berbuat baik, mengampuni, dan saling mengasihi sebagai saudara dalam Tuhan.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar