Biasanya, saya mulai menyadari bahwa sudah masuk ke dalam hari baru, ketika telah minum kopi yang dibuatkan oleh Frater Alfred. Di sini nampak peran kopi sebagai pembuka kesadaran akan adanya hari baru. Kami sarapan bersama. Biasanya dengan tenang masing – masing mulai dengan suapan – suapan pertama. Saya mulai sadar ketika tiba-tiba mendengar kata Romo Bas, pada waktu ke Eropa, melihat tulisan “Dari gelap terbitlah terang” sebagai semboyan Calvin, terkejut karena selama ini kata-kata itu dikenal sebagai dari Raden Ajeng Kartini (Kartini saja dalam buku Panggil Aku Kartini Saja, menurut Pramudya Ananta Toer). Oh, ternyata dari Calvin. Saya malah ingatnya dari Paulus (2 Kor :4:6).
Omong-omong atau wacana atau obrolan pagi memang bisa ke mana-mana. Tiba – tiba Romo Bas meninggalkan ruang makan menuju ruang sebelah yang ada pigeon hole nya dan mengatakan bahwa saya akan dapat sesuatu...Eh, benar...Romo Alex Koko memberi sebuah kaos yang bagus dengan tulisan “Transit Umbra, manent Opera" (Bayang – bayang berlalu, karya tetap ada) dari Santo Petrus Canisius.
Wah, ini menarik bagi saya. Baru tertegun akan kata-kata mutiara itu, apalagi juga mendengraknn pujian Romo Mudji bagi Romo Alex, Romo Bas menggeser pembicaraan ini dengan beralih akan ingatannya ketika masuk ke Kantor Sahabat Insan, dia lihat gambar tengkorak dengan dua tulang.
Romo Bas menafsir dengan bertanya apa artinya ini? Apakah saya akan meneladan para penulis (yang biasanya orang kudus) yang di meja tulisnya ada tengkorak dengan pesan, menulislah terus tetapi tetap menjaga semangat rendah hati, karena akhirnya kita ini hanya menjadi tengkorak.
Santo Hironimus
"Ah, tidak" jawab saya...."Selama ini,
saya memang menulis tetapi tulisan saya biasanya hanya dibaca oleh orang –
orang yang dulu pernah singgah di ruang kuliah saya. Ini nampak dari siapa yang
membaca blog atau website saya.
Pagi ini ada umbra
ada opera, ada transit. Sebelum meninggalkan kamar makan, saya
ingat, bahwa konon, bila mana seorang Paus baru terpilih, ada Rahib yang akan
mengatakan pada Paus terpilih itu Sic transit gloria mundi
(Betapa cepat berlalunya kemuliaan dunia).
Lalu… opera macam
apa yang akan manet? Santo Petrus Canisius memiliki Katekismus Katolik
yang manet sampai jaman saya anak-anak, baru ketika di SMA diganti
Katekismus Jerman, ketika di Filsafat Driyarkara awal, ada Katekismus Belanda.
Petrus Canisius memang manet
secara awet.
(I. Ismartono, SJ/Kamis,
13 Juni, 2024)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar