Selasa, 24 Juni 2025

DUA ANITA DALAM PUISIKU

 Siapakah ANITA itu. Pasti tidak akan kusebutkan. Aku akan biarkan engkau dan dunia untuk mencari dan menemukannya sendiri. 


Di tahun tahun menjelang jatuhnya Soeharto, udara pengap. Angin seolah tak berdaya berembus mengibaskan terik perlawanan Rakyat yang sepertinya dimotori oleh mahasiswa. Tidak hanya di Jakarta dan juga terjadi di kota kota lain. Tidak hanya perihal penindasan, bengisnya kekuasaan di Indonesia, tetapi juga di Timor Portugis, atau di Timor Timur, atau di Timor Loro Sae, atau sekarang bernama Timor Leste.

Sesekali anak yang usianya lebih muda, dengan derap pikiran selalu di depanku, mampir ke tempatku dengan berbagai alasan dan kebutuhan. Mereka membuat aku tidak pernah tertinggal, walau Intel terus memantau keseharianku. Seorang Intel memperkenalkan dirinya sebagai Petugas yang ditugaskan untuk memantau kegiatanku. Sering mendadak menelpon untuk menjumpainya di sesuatu Rumah makan, atau tiba tiba sudah nongol di depan rumah.Berlagak menjadi sahabat.


Yang dia tidak bisa lakukan adalah mengontrol  jalan dan kegiatan pikiranku.

Dia tidak bisa membaca puisi, cerpen maupun novel yang sudah dan sedang dalam proses penulisan. 


Dalam situasi seperti itulah aku bertemu ANITA. Ya, Anita, tidak salah lagi nama itu.


Sebelum ketemu Anita memang beberapa teman membawa kabar tentang Clandestine yang ketangkap di beberapa kota, juga semakin mengganasnya penguasa di Jakarta dan Timor Timur. Banyak hal mengerikan. Tapi derap terus menuju ke arah yang sudah disepakati. Menuju pembebasan.


Sempat aku ragu, benarkah engkau Anita? Atau namamu ini tidak dikenal oleh sanak saudaramu, orang orang di kampungmu.

Ia mengerdipkan mata, membenarkan namanya Anita.


Maka kutulislah surat kepada Anita, di tahun 1999.


SURAT DUKA KEPADA ANITA.


kudengar ayahnu

ibumu

saudara kandungmu

mati diterjang peluru


kudengar rumah kampungmu

jadi abu

kudengar adik adikmu

diburu

kudengar engkau

(jangan menangis,aku tak sanggup meneruskan)


Siapa gubernurmu

mengapa dibiarkan kamu


dari Jakarta kukirim surat duka

kepada kamu ANITA

basah gerimis airmata

menyimpan makna

laut debur silih berganti

angin dan awan mengantar hangat matahari

anak negeri menghitung arah jalannya sendiri.*


1999.

( Dikutip dari buku Perjalanan Penyair, Pustaka Pelajar, 1999)



AKU AKAN KETEMU ANITA DI TIMOR LESTE.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga Perempuan Penjaga Kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi Mariyah (Bunda Maria)

  Dalam keheningan bumi Nusantara, kita mengenal sosok-sosok perempuan yang memancarkan energi kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi M...