Sabtu, 07 Juni 2025

Menjaga Kesatuan dalam Perbedaan: Ketegangan Liturgi dalam Kepemimpinan Empat Paus Terakhir


 

Abstrak

 

Gereja menawarkan kepada kita Liturgi sebagai sumber kekuatan untuk beriman, berharap dan mengasihi: Ekaristi sebagai yang sangat penting di dalam hidup kita. Artikel ini menyoroti dinamika dan ketegangan liturgis dalam Gereja Katolik selama masa kepemimpinan empat Paus terakhir: Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, Fransiskus, dan Leo XIV. Melalui pendekatan teologis-pastoral, tulisan ini memperlihatkan bagaimana liturgi menjadi ruang kontestasi antara tradisi dan pembaruan, kesakralan dan partisipasi, serta keutuhan universal dan konteks lokal. Refleksi ini bertujuan membantu para pelayan pastoral dan umat memahami liturgi sebagai tempat perjumpaan dengan Allah yang terus hidup dan berbicara melalui sejarah.

 

The Church offers us the Liturgy as a source of strength to believe, hope, and love: the Eucharist is of utmost importance in our lives. This article highlights the liturgical dynamics and tensions within the Catholic Church during the leadership of the last four Popes: John Paul II, Benedict XVI, Francis, and Leo XIV. Through a theological-pastoral approach, this paper demonstrates how liturgy has become a space of contestation between tradition and renewal, sacredness and participation, and universal unity and local context. This reflection aims to help pastoral ministers and the faithful understand liturgy as a place of encounter with God who continues to live and speak through history.



 

1. Pendahuluan: Liturgi Sebagai Cermin Gereja

 

Liturgi adalah jantung kehidupan Gereja. Di dalamnya, Gereja tidak hanya merayakan misteri keselamatan, tetapi juga menampakkan wajahnya kepada dunia. Tak heran bila setiap perubahan dalam liturgi kerap memicu respons emosional maupun ideologis. Dalam konteks pastoral, pemahaman dan pengelolaan ketegangan liturgi menjadi bagian penting dalam menjaga kesatuan iman dan kesetiaan pada Tradisi Gereja yang hidup. Seperti dinyatakan dalam Sacrosanctum Concilium: “Liturgi, melalui yang terjadi, merupakan puncak ke mana seluruh kegiatan Gereja tertuju dan sekaligus sumber dari mana seluruh kekuatannya mengalir.”[^1] (Liturgia est culmen ad quod actio Ecclesiae tendit et simul fons unde omnis eius virtus emanat.)

 

2. Yohanes Paulus II: Inkulturasi dan Peneguhan Identitas Ekaristi

Paus Yohanes Paulus II sangat mendukung semangat Sacrosanctum Concilium, khususnya dalam mendorong partisipasi aktif umat. Dalam dokumen Ecclesia de Eucharistia, ia menegaskan pentingnya Ekaristi sebagai "sumber dan puncak" seluruh kehidupan Gereja[^2] (Ecclesia ab Eucharistia vivit). Ia menulis, “Gereja hidup dari Ekaristi.” Namun, di balik semangat inkulturasi dan pembaruan, muncul kekhawatiran tentang kehilangan rasa sakral dan simbolisme tradisional. Oleh karena itu, Paus juga membuka jalan bagi kelompok yang masih terikat pada bentuk lama Misa Latin melalui pembentukan Komisi Ecclesia Dei (1988).

 

Tegangan pastoral: Bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai lokal tanpa mereduksi kekayaan simbolik liturgi universal?

 

3. Benediktus XVI: Kesinambungan dan Pemulihan Kesakralan

 

Benediktus XVI, dengan latar belakang teologisnya, menyoroti pentingnya kesinambungan antara liturgi sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II. Dalam Summorum Pontificum, ia mengizinkan penggunaan kembali ritus Misa Tridentina sebagai "bentuk luar biasa" dari ritus Roma. Ia juga mengangkat pentingnya ars celebrandi — seni merayakan liturgi dengan hormat dan tanpa improvisasi sembarangan. Dalam Sacramentum Caritatis, ia menegaskan: “Keindahan, sebagaimana juga kebenaran, membangkitkan kegembiraan hati manusia”[^3] (Pulchritudo, sicut veritas, cordis humani exsuscitat gaudium.)

 

Tegangan pastoral: Apakah perbedaan bentuk liturgi memperkaya atau justru memecah kesatuan umat?

 

4. Fransiskus: Liturgi Sebagai Ruang Perjumpaan dan Inkarnasi Pastoral

 

Dalam Desiderio Desideravi, Paus Fransiskus menekankan liturgi sebagai tempat perjumpaan dengan kasih Allah yang konkret. Ia menulis: “Liturgi bukan sekadar suatu kumpulan peraturan, bukan juga sekadar koreografi; melainkan tindakan Kristus dan Gereja-Nya.”[^4] (Liturgia non est solum legum collectio neque gestuum choreographia; est actio Christi et Ecclesiae.) Ia ingin membangun liturgi yang inklusif dan menjangkau yang terpinggirkan. Namun, keputusan Traditionis Custodes—yang membatasi kembali penggunaan ritus lama—menyulut respons keras dari beberapa kelompok tradisionalis. Ia menegaskan, “Saya merasa terdorong untuk menegaskan kembali bahwa kesatuan Gereja harus dipulihkan di sekitar ritus Roma sebagaimana dikembangkan setelah Konsili.”[^5] (Ad unitatem Ecclesiae fovendam, ritus Romanus post Concilium Vaticanum II evolutus centrum celebrationis manere debet.)

 

Tegangan pastoral: Bagaimana menjaga ruang bagi keragaman ekspresi iman tanpa kehilangan arah dan otoritas liturgis Gereja?

 

5. Leo XIV: Liturgi di Era Pasca-Digital dan Ekologis

 

Paus Leo XIV menghadapi tantangan baru: misa daring, partisipasi virtual, dan bentuk-bentuk devosi ekologis. Ia mendorong pembaruan simbolik yang relevan dengan ekologi integral, serta membuka dialog antara liturgi dan teknologi. Dalam sambutan kepada para peserta Sinode Liturgi Digital (2025), ia menyatakan, “Kita harus belajar menafsirkan kehadiran Kristus dalam dunia yang terhubung dan cepat berubah, tanpa kehilangan sakralitas misteri.”[^6]

 

Tegangan pastoral: Dapatkah dunia digital menjadi "ruang suci"? Apakah kehadiran virtual tetap menghadirkan Kristus secara nyata?

 

6. Liturgi sebagai Wajah Gereja: Mengelola Tegangan dengan Bijaksana

 

Liturgi bukan panggung ideologis, melainkan opus Dei — karya Allah di tengah umat-Nya. Dalam konteks pastoral, tantangannya adalah menumbuhkan pemahaman bahwa setiap bentuk liturgi, baik lama maupun baru, harus membawa umat pada perjumpaan dengan misteri Kristus.

 

Sebagai pelayan pastoral, kita dipanggil untuk:

  1. Memelihara kesakralan dan keindahan liturgi tanpa jatuh ke dalam legalisme bentuk.
  2. Memberi ruang kepada umat untuk mengungkapkan imannya dengan cara yang bermakna secara lokal.
  3. Menghindari ideologisasi liturgi, baik dari sisi konservatif maupun progresif.
  4. Mengedepankan formasi liturgis agar umat tidak hanya menjadi peserta, tetapi benar-benar "mengambil bagian" dalam misteri yang dirayakan. Sebagaimana dikatakan dalam Katekismus: “Perayaan liturgi bukan semata-mata tindakan kolektif, tetapi juga tindakan Kristus seluruhnya.”[^7] (Celebratio liturgica non est tantum actio collectiva, sed etiam actio totius Christi.)

 

Penutup: “Lex orandi” dalam Napas Gereja Zaman Ini

 

Liturgi adalah titik temu antara langit dan bumi, antara misteri kekal dan kehidupan sehari-hari umat. Ketegangan yang muncul dalam perjalanan liturgi Gereja bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk menyaring, memperdalam, dan memperbaharui pemahaman kita akan Allah yang hadir dalam sejarah.

 

Gereja dipanggil untuk terus belajar dari Roh Kudus yang menuntun dalam kebenaran, termasuk melalui perbedaan cara berdoa dan merayakan iman. Semoga ketegangan yang ada bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan sumber pengayaan rohani yang menyatukan kita dalam Kristus.

 

Ignatius Ismartono, SJ / Sahabat Insan

6 Juni 2025

 

Catatan:

[^1]: Sacrosanctum Concilium (1963), no. 10.

[^2]: Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (2003), no. 1.

[^3]: Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis (2007), no. 35.

[^4]: Fransiskus, Desiderio Desideravi (2022), no. 23.

[^5]: Fransiskus, Traditionis Custodes (2021), Surat Pendahuluan.

[^6]: Leo XIV, Sambutan dalam Sinode Liturgi Digital dan Ekologis (2025).

[^7]: Katekismus Gereja Katolik (1992), no. 1140.

 

Referensi Utama:

  • Sacrosanctum Concilium (1963), no. 10
  • Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (2003), no. 1
  • Benediktus XVI, Summorum Pontificum (2007); Sacramentum Caritatis (2007), no. 35
  • Fransiskus, Desiderio Desideravi (2022), no. 23; Traditionis Custodes (2021), Surat Pendahuluan
  • Katekismus Gereja Katolik, no. 1140–1144
  • Sambutan Paus Leo XIV dalam Sinode Liturgi Digital dan Ekologis (2025)






 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga Perempuan Penjaga Kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi Mariyah (Bunda Maria)

  Dalam keheningan bumi Nusantara, kita mengenal sosok-sosok perempuan yang memancarkan energi kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi M...