Perjalanannya membawanya dari desa-desa terpencil hingga ke pusat konflik antaragama, mengajarkannya arti menjadi “yang lain.” Ia menyaksikan pola-pola penderitaan manusia yang berulang: bagaimana stigma menyebabkan marginalisasi dan viktimisasi, mengubah korban menjadi pelaku. Namun, ia juga melihat jalan menuju penyembuhan yang muncul dari konflik, di mana toleransi berkembang menjadi dialog dan kolaborasi. Ia mengatakan bahwa pelayanan adalah tentang berjalan bersama orang-orang di saat-saat paling rentan mereka, membiarkan ketahanan mereka mengubah realitas.
***
English translation:
Ignatius Ismartono SJ reflects on a life spent "walking with the wounded. His journey has taken him from remote villages to the heart of interreligious conflict, teaching him what it means to be "the other." He witnessed recurring patterns of human suffering: how stigma leads to marginalization and victimization, turning victims into the guilty. Yet, he also saw paths to healing emerging from conflict, where tolerance blossomed into dialogue and collaboration. He says that ministry is about walking alongside people in their most vulnerable moments, allowing their resilience to transform reality.

.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar