Senin, 08 Desember 2025

Energi Baru di Usia Menjelang Senja: Alumni Katolik Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti Perkuat Warisan Iman dalam Retret Akhir Pekan

 Jakarta, 8 Desember 2025 – Sebanyak 32 peserta dari total 36 peserta terdaftar, yang merupakan alumni Katolik Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Trisakti (USAKTI), berkumpul dalam suasana hangat dan penuh keakraban untuk mengikuti Retret Akhir Pekan untuk Sahabat di Usia Menjelang Senja, bertempat di Gedung Alphonsus - Kolese Kanisius.  

Retret ini juga dilaksanakan dalam rangka “Syukur atas Imamat Romo Ismartono, SJ ke-49”, sehingga kegiatan ini sekaligus menjadi ungkapan terima kasih atas dedikasi pelayanan dan pendampingan rohani beliau yang sejak masa muda telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak sahabat.

Mengambil tema besar “Mewariskan Iman, Harapan, dan Kasih: Energi Baru di Usia Menjelang Senja”, kegiatan ini berlangsung selama dua hari penuh, pada Sabtu, 6 Desember, hingga Minggu, 7 Desember 2025. Retret dibuka dengan Doa Rosario Sabtu Pertama dan diakhiri dengan Misa Penutup yang penuh syukur.

 

Retret yang berfokus pada peran dan misi spiritualitas di usia lanjut ini bertujuan memberikan peneguhan bahwa masa senja bukanlah akhir, melainkan panggung baru untuk mewariskan hikmat dan menjadi terang.



Merangkum Pesan Inti: Usia Senja Adalah Misi Suci

Bahan retret yang kaya akan peneguhan iman dan kebijaksanaan berpusat pada panggilan suci bagi lansia, menggarisbawahi peran mereka sebagai penjaga akar dan jembatan antargenerasi. Inti dari setiap sesi yang disampaikan adalah:



1. Keindahan Usia Tua yang Berhikmat (Sirakh 25:4–6)


Sesi pembuka pada hari Sabtu mengajak peserta merenungkan betapa “Alangkah indahnya jika orang menjadi tua, bila ia juga berhikmat”. Kecantikan usia senja bukanlah pada fisik, melainkan pada hati yang matang. Hikmat (hokmah) didefinisikan bukan sebagai kecerdasan teoritis, melainkan kemampuan membaca tanda-tanda zaman, refleksi panjang atas pengalaman hidup, dan kepekaan melihat kebaikan di balik kesulitan. Kehadiran lansia yang berhikmat berfungsi sebagai terang dan kesaksian hidup yang membuat komunitas merasa aman.


2. Mimpi dan Visi Antargenerasi (Yoel 2:28)

Melalui renungan Nabi Yoel, retret menegaskan bahwa usia menjelang senja bukanlah masa selesai, melainkan masa untuk tetap bermimpi. "Mimpi" orang tua adalah visi batin yang lahir dari ingatan umat dan relasi yang teruji dengan Tuhan. Ini adalah harta yang tidak dapat dibeli oleh generasi muda. Ayat ini menggambarkan perlunya kerja sama generasi: orang tua membawa mimpi dan kebijaksanaan masa lalu, sementara kaum muda membawa penglihatan dan pandangan jauh ke depan. Paus Fransiskus dikutip menegaskan bahwa lansia adalah “harta tersembunyi dari sebuah masyarakat”.

3. Misi Suci: Menjadi Saksi bagi Angkatan Ini (Mazmur 71:18)

Mazmur 71:18 menyuarakan doa seorang tua: “Juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini”. Renungan ini menekankan bahwa masa tua memiliki misi suci, yaitu menceritakan karya Tuhan (memberitakan kuasa-Mu) agar generasi muda memiliki harapan. Paus Fransiskus menambahkan bahwa misi sejati lansia adalah “menjaga akar, mewariskan iman kepada anak-anak dan cucu-cucu, serta menjaga hubungan antara generasi”. Sesi ini juga diisi dengan diskusi mendalam tentang perlunya membentuk jejaring komunitas (organisasi) untuk mewujudkan cita-cita bersama di usia senja.

Sesi ini juga diisi dengan diskusi mendalam tentang perlukah membentuk jejaring dalam bentuk komunitas atau organisasi dalam mewujudkan cita-cita bersama? Disepakati tidak dalam bentuk organisasi karena pengalaman pembentukan koperasi tidak bisa berlanjut. Yang disepakati adalah bentuk komunitas persaudaraan yang saling memperhatikan, menggalang bersama acara kekeluargaan atau acara sosial.

4. Terang yang Tetap Menyala dan Mimpi Bersama (Matius 5:14–16)

Pada hari Minggu, renungan Matius 5:14–16 menegaskan identitas: “Kamu adalah terang dunia”. Terang di usia senja bersinar dari jiwa yang matang dan luka yang disembuhkan, bukan dari kekuatan fisik. Energi usia senja adalah energi doa yang tulus, kebijaksanaan, belas kasih, dan kesetiaan, yang berfungsi sebagai berkat sosial . Paus Fransiskus berulang kali mengingatkan, “Dunia sedang membutuhkan persekutuan antara orang muda dan orang lanjut usia. Kita harus bermimpi bersama”.


5. Doa Lansia sebagai “Paru-Paru Gereja” (1 Korintus 15:58 & Lukas 2:25–38)

Sesi penutup memberikan penghiburan: “Jerih payahmu tidak sia-sia di dalam Tuhan”. Segala pengorbanan di masa lalu, bahkan yang tak terlihat, akan diperhitungkan sebagai kasih. Sebagai penutup, Misa Rekoleksi menyoroti Simeon dan Hana (Lukas 2:25–38) sebagai ikon lansia yang tetap berperan penting dalam sejarah keselamatan. Paus Fransiskus menyimpulkan peran ini: “Doa kalian adalah paru-paru Gereja,” menegaskan bahwa doa, pujian, dan suara kebijaksanaan lansia adalah kekuatan tak terlihat yang memberi napas kehidupan bagi seluruh Tubuh Kristus.

 


Retret berakhir pada Minggu siang, 7 Desember 2025, dengan komitmen baru dari para alumni UI-USAKTI untuk menjadi “paru-paru rohani” bagi keluarga dan komunitas mereka, membawa pulang energi baru, harapan, dan tekad untuk mewariskan nilai-nilai iman yang telah teruji dalam perjalanan panjang hidup.



Inilah para peserta retret yang sudah mulai berkomunitas sejak tahun 1981 di dalam karya pastoral mahasiswa di Universitas Indonesia dan Trisakti yang beraktivitas di rumah Serikat Jesus - Jalan Kramat 7 nomor 25 Jakarta. Persahabatan sejak masa muda ini diterima sebagai anugerah Tuhan yang pantas disyukuri.

 


Agnes Retno Raditya, salah seorang sahabat yang sejak tahun 1981 ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang hingga sekarang tetap berusaha menggalang dan menjalin kebersamaan serta kekeluargaan para sahabat dengan Romo Ismartono sebagai inspiratornya. Setia menjaga imamat Gembala dan setia bersama berjalan di usia senja.

 

(Maria Fransiska Saraswati, Jakarta, 08 Desember 2025)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga Perempuan Penjaga Kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi Mariyah (Bunda Maria)

  Dalam keheningan bumi Nusantara, kita mengenal sosok-sosok perempuan yang memancarkan energi kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi M...