Jakarta, 8 Desember 2025 – Sebanyak 32 peserta dari total 36 peserta terdaftar, yang merupakan alumni Katolik Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Trisakti (USAKTI), berkumpul dalam suasana hangat dan penuh keakraban untuk mengikuti Retret Akhir Pekan untuk Sahabat di Usia Menjelang Senja, bertempat di Gedung Alphonsus - Kolese Kanisius.
Retret yang berfokus pada peran dan misi spiritualitas di usia lanjut ini bertujuan memberikan peneguhan bahwa masa senja bukanlah akhir, melainkan panggung baru untuk mewariskan hikmat dan menjadi terang.
Merangkum Pesan Inti:
Usia Senja Adalah Misi Suci
Bahan retret yang kaya
akan peneguhan iman dan kebijaksanaan berpusat pada panggilan suci bagi lansia,
menggarisbawahi peran mereka sebagai penjaga akar dan jembatan antargenerasi.
Inti dari setiap sesi yang disampaikan adalah:
1. Keindahan Usia Tua
yang Berhikmat (Sirakh 25:4–6)
Sesi pembuka pada hari Sabtu mengajak peserta merenungkan betapa “Alangkah indahnya jika orang menjadi tua, bila ia juga berhikmat”. Kecantikan usia senja bukanlah pada fisik, melainkan pada hati yang matang. Hikmat (hokmah) didefinisikan bukan sebagai kecerdasan teoritis, melainkan kemampuan membaca tanda-tanda zaman, refleksi panjang atas pengalaman hidup, dan kepekaan melihat kebaikan di balik kesulitan. Kehadiran lansia yang berhikmat berfungsi sebagai terang dan kesaksian hidup yang membuat komunitas merasa aman.
2. Mimpi dan Visi Antargenerasi (Yoel 2:28)
Melalui renungan Nabi Yoel, retret menegaskan bahwa usia menjelang senja bukanlah masa selesai, melainkan masa untuk tetap bermimpi. "Mimpi" orang tua adalah visi batin yang lahir dari ingatan umat dan relasi yang teruji dengan Tuhan. Ini adalah harta yang tidak dapat dibeli oleh generasi muda. Ayat ini menggambarkan perlunya kerja sama generasi: orang tua membawa mimpi dan kebijaksanaan masa lalu, sementara kaum muda membawa penglihatan dan pandangan jauh ke depan. Paus Fransiskus dikutip menegaskan bahwa lansia adalah “harta tersembunyi dari sebuah masyarakat”.3. Misi Suci: Menjadi
Saksi bagi Angkatan Ini (Mazmur 71:18)
Mazmur 71:18 menyuarakan doa seorang tua: “Juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini”. Renungan ini menekankan bahwa masa tua memiliki misi suci, yaitu menceritakan karya Tuhan (memberitakan kuasa-Mu) agar generasi muda memiliki harapan. Paus Fransiskus menambahkan bahwa misi sejati lansia adalah “menjaga akar, mewariskan iman kepada anak-anak dan cucu-cucu, serta menjaga hubungan antara generasi”. Sesi ini juga diisi dengan diskusi mendalam tentang perlunya membentuk jejaring komunitas (organisasi) untuk mewujudkan cita-cita bersama di usia senja.
4. Terang yang Tetap
Menyala dan Mimpi Bersama (Matius 5:14–16)
5. Doa Lansia sebagai
“Paru-Paru Gereja” (1 Korintus 15:58 & Lukas 2:25–38)
Retret berakhir pada Minggu siang, 7 Desember 2025, dengan komitmen baru dari para alumni UI-USAKTI untuk menjadi “paru-paru rohani” bagi keluarga dan komunitas mereka, membawa pulang energi baru, harapan, dan tekad untuk mewariskan nilai-nilai iman yang telah teruji dalam perjalanan panjang hidup.
Inilah para peserta retret yang sudah mulai berkomunitas sejak tahun 1981 di dalam karya pastoral mahasiswa di Universitas Indonesia dan Trisakti yang beraktivitas di rumah Serikat Jesus - Jalan Kramat 7 nomor 25 Jakarta. Persahabatan sejak masa muda ini diterima sebagai anugerah Tuhan yang pantas disyukuri.
Agnes Retno Raditya, salah seorang sahabat yang sejak tahun 1981 ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang hingga sekarang tetap berusaha menggalang dan menjalin kebersamaan serta kekeluargaan para sahabat dengan Romo Ismartono sebagai inspiratornya. Setia menjaga imamat Gembala dan setia bersama berjalan di usia senja.
(Maria Fransiska
Saraswati, Jakarta, 08 Desember 2025)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar