Rabu, 20 Maret 2024

Surat Natal 2018

 (sapaan)

Selamat Hari Raya Natal 2018.

Yesus yang hari kelahiran-Nya kita rayakan adalah Dia yang mempersatukan kita selama ini. Marilah kita bersyukur kepada-Nya, karena dalam hidup ini kita boleh mengenal-Nya, bahkan dijadikan sahabat-Nya dan karena itu kita dapat menjalin persahabatan. Terima kasih untuk persahabatan kita yang awet sampai kini. Saya percaya ini terjadi karena kasih-Nya semata.

Secara khusus, saya ucapkan terima kasih untuk segala upaya yang menjadikan Sahabat Insan tetap hidup: doa, kreativitas, harapan baik, waktu, tenaga, pikiran, dana, saran, pokoknya semua yang tak lain adalah kebaikan hati yang diberikan bagi perkumpulan kita ini.

Ketika surat ini saya tulis, kita masih berada dalam masa Adven, masa penantian, masa persiapan. Di sana-sini nampak gua Natal mulai dibuat. Bukankah kita bagaikan gua itu, masih kosong. Kosong agar diisi oleh Tuhan sendiri? Di atas gua ada Malaikat yang membawa tulisan Gloria in excelsis Deo. Bukankah kita bagaikan Malaikat itu, dipanggil untuk senantiasa memuliakan-Nya? Di atas Malaikat ada bintang, bukankah bintang itu adalah kita juga, yang meskipun berada dalam kegelapan tetap dipanggil untuk memancarkan terang? Ingat bukan, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia? Dan kambing-kambing itu? Bukankan itu kita juga, yang tak jarang dijadikan kambing hitam? Dianggap remeh dan dipersalahkan? Pasti bukan oleh-Nya, karena meskipun kita hitam, Dia tetap mencari kita. Gembala-gembala itu? Mereka juga kita. Kita yang bertanggung jawab untuk menggembalakan sejarah hidup kita supaya tetap berjalan di jalan-Nya.

Perayaan Natal adalah sebuah panggilan. Panggilan untuk semakin siap membuka hati kita bagi cinta-Nya.

Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan - Maria dan Yusup - membawa Allah Sang Pencipta langit dan bumi itu dalam bentuk yang amat sederhana, Bayi Kecil tak berdaya untuk masuk kedalam goa, ke dalam dunia kita, semoga ke dalam hati juga.

Selamat datang Yesus, selamat berada di hati kami.

Semoga Natal 2018 ini menjadi tonggak sejarah hidup kita untuk lahir kembali, memperbaharui diri dan hidup setia kepada-Nya. Semoga kita diberi kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup dalam harapan, iman dan kasih selama tahun 2019 yang segera datang.


Teriring salam dan hormat saya,

I. Ismartono, SJ




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga Perempuan Penjaga Kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi Mariyah (Bunda Maria)

  Dalam keheningan bumi Nusantara, kita mengenal sosok-sosok perempuan yang memancarkan energi kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi M...