Jakarta, 8 Desember, 2023
(sapaan)
Perayaan Natal adalah luapan kegembiraan manusia karena dikunjungi Penciptanya. Kejadiannya sederhana, ada pada pasangan muda, Yusuf dan Maria berjalan sepanjang sekitar 145 kilometer dari tempat asalnya di Nazaret menuju Betlehem. Biasanya perjalanan itu digambarkan sebagai perjalanan darat seorang suami yang mendudukkan isterinya yang sedang hamil di atas seekor keledai. Sesampai di Betlehem datanglah saat kelahiran dan Bayi itu dilahirkan di kandang hewan, dibaringkan di atas palungan. Kisah seperti ini tentu tidak sangat menarik perhatian. Tetapi ini menjadi kisah yang tercatat baik dan secara berulang kali dikisahkan kembali sampai pada jaman kita ini, karena Lukas menulis tentang Malaikat dan balatentara sorga yang memuji Allah. “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai Sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan pada-Nya. (Lk 2:14).
Ketika saya masih muda, di gereja paroki tempat keluarga kami tinggal, kisah yang ditulis oleh Lukas ini masih ditulis dalam bahasa Latin, dibentangkan oleh seorang malaikat, dalam bentuk patung malaikat ditempatkan di atas pintu goa: ”Glória in excélsis Deo et in terra pax homínibus bonæ voluntátis”. Istilah gloria itu tidak asing di mata saya. Di atas pintu masuk gereja Bintaran, gereja paroki ibu saya ketika masa muda, tertulis: ”Soli Deo gloria” yang artinya “Semata-mata demi kemuliaan Tuhan”. Istilah Gloria dapat ditemukan di banyak tempat, dan di dalam Serikat Yesus, kata-kata Ad Maiorem Dei Gloriam, selalu dapat menjadi jawaban ketika ditanya, untuk apa kerja dan usaha di dalam hidup ini: ”Untuk lebih besarnya kemuliaan Allah”. Apa itu kemuliaan Allah?
Ada seorang kudus, Santo Ireneus namanya. Dia hidup antara tahun 130 – 200. Dia memilki sebuah sesanti, yang berbunyi: ”Gloria enim Dei vivens homo, vita enim autem hominis visio Dei” (Adversus Haereses IV, 20, 7) – atau biasanya disingkat menjadi “Gloria Dei homo vivens”, yang artinya kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, bagi Allah, manusia itu hidup. Itulah sebabnya ketika Yesus Puteranya mati, Dia dibangkitkan. Bagaimana memuliakan Allah?
Di dalam melaksanakan kehidupan beriman, kita mengenal dua istilah pokok, yaitu mengungkapkan iman dan mewujudkan iman. Ungkapan iman misalnya ibadat, doa, renungan, meditasi, jiarah. Sedangkan perwujudan iman adalah berbuat baik bagi sesama, bekerja sama dalam menolong orang-orang yang kurang atau tidak beruntung. Hubungan antar keduanya bukan yang satu menggantikan yang lain, melainkan saling melengkapi, sehingga keduanya terjadi secara seimbang.
Santo Benediktus menganjurkan “Ora et labora”, berdoalah dan bekerjalah. Santo Ignatius mengajarkan contemplatio in actione, memaknai kedalaman batin di dalam melaksanakan kegiatan, sedang Santo Yakobus menulis: ”iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati” (Yak 2:17).
Para Sahabat yang terkasih, pada hari Natal tahun 2023 ini, marilah kita bersama-sama bersujud di hadapan Yesus, Allah yang menjadi manusia seperti kita untuk mengucap syukur atas semua yang boleh kita terima dari Allah: bersyukur atas hidup ini, atas kasih yang telah diberikan kepada kita, kepada keluarga, kepada Gereja dan masyarakat kita.
Secara khusus saya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan kita, atas kemurahan hati Anda semua dalam berbagai bentuk dukungan baik dalam bentuk doa, dana dan kegiatan dalam menjalankan Sahabat Insan, alat kita untuk memberi perhatian kepada Yesus (Mat 25:31- 46) yang mewujudkan diri dalam mereka yang menderita, kurang beruntung dan tersingkirkan.
Sahabat yang terkasih, selamat hari Raya Natal 25 Desember, 2023 dan selamat Tahun Baru, 1 Januari, 2024. Semoga Berkat-Nya selalu melimpah bagi diri kita dan dunia.
Teriring salam dan hormat saya,
I. Ismartono, SJ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar