Rabu, 20 Maret 2024

Surat Natal 2019

 (sapaan)

Selamat Hari Raya Kelahiran Tuhan Kita Yesus Kristus, Natal, 25 Desember, 2019. Semoga Yesus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia, datang pula ke dalam hati dan pikiran kita sehingga hidup kita dapat dijalankan sesuai dengan kehendak-Nya.

Pesan Natal Nasional dari KWI dan PGI tahun ini bertautan dengan nama perkumpulan kita: “Hiduplah sebagai Sahabat bagi semua orang” (Bdk Yohanes 15:14-15). Kata Sahabat menyatukan kita.

Persahabatan merupakan bentuk hubungan antarmanusia yang secara khusus diusahakan, dirawat, dikembangkan dan disyukuri. Dalam tulisan Yohanes yang sama, persahabatan itu merupakan bentuk hubungan yang merupakan pengingkaran dari hubungan yang lain. Hubungan apa? Hubungan perhambaan. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba”, kata-Nya. Hubungan baru dibina oleh Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi dengan manusia ciptaan-Nya.

Kalimat “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi Aku menyebut kamu Sahabat” pertama-tama disampaikan kepada Para Rasul. Maka terjadi sebuah perubahan corak hubungan antarmanusia. Mereka berusaha menjalin hubungan baru yang isinya saling menghargai, saling menghormati, saling mendukung saling mengembangkan talenta, saling bekerjasama, saling menilai demi kebaikan bersama agar apa yang dikatakan oleh Yesus menjadi pengalaman nyata. Tetapi tidak hanya itu.

Terdapat anjuran Yesus yang melengkapinya.

    Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga - tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang - orang buta. Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah." (Lk 14:12-13, 15)

Karena itu, mereka berusaha mengatasi segala yang bersifat “hanya untuk diri sendiri”, menuju ke “semua untuk perutusan bersama.”

Ikatan baru Murid-murid Yesus itu bukan sebuah ikatan yang mengarah ke dalam, ikatan yang eksklusif, ikatan yang membuat lingkaran mereka tertutup. Terdapat nasehat yang mengundang mereka, bahwa persahabatan akrab demi membuat “kami menjulang tinggi”, perlu diarahkan keluar, ke liyan, lebih-lebih yang terkecil, tersingkir, terhina. (Mt 25:31-46)

Yesus menganjurkan “lebih”. Sadar bahwa masing-masing dari kita dijadikan Sahabat Yesus itu rahmat, karena persahabatan dengan Yesus itu kita bersahabat satu sama lain itu pantas diusahakan dan disyukuri. Setelah dijadikan Sahabat, maka saling bersahabat untuk menjadi Sahabat bagi siapa pun, sedemikan sampai mengatasi batas-batas ruang aman yang tercipta.

Semoga persahabatan yang senatiasa memperluas cakrawalanya ini, terus menjadi semangat kita.

Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih atas persahabatan yang selama ini telah terjadi di dalam perjumpaan kita, khususnya melalui perkumpulan kami. Sahabat Insan. Terima kasih atas perhatian, waktu, harapan baik, dana, pikiran dan semua saja yang membuat kita boleh tetap menjalankan sejarah persahabatan kita. Semoga kesadaran bahwa kita ini adalah Sahabat Yesus, menguatkan kita sehingga kita boleh mengarungi tahun baru 2020 dengan hati tabah dan gembira.


Teriring salam dan hormat saya,

I. Ismartono, SJ




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga Perempuan Penjaga Kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi Mariyah (Bunda Maria)

  Dalam keheningan bumi Nusantara, kita mengenal sosok-sosok perempuan yang memancarkan energi kehidupan: Dewi Kunti, Dewi Sinta, dan Dewi M...